Beberapa waktu lalu Boombastis mengulas mengenai McD Sarinah, salah satu resto waralaba luar negeri yang bikin mellow sebagian warga Jakarta karena akan ditutup. Alasannya sedihnya, karena ada banyak kenangan di bangunan yang sudah ada sejak tahun 1990an tersebut. Apalagi di musim pandemi ini, cukup banyak perusahaan ritel harus tutup dihantam pandemi. Tentu situasi ini makin bikin terenyuh.

Namun, alih-alih tetap berusaha menekan kurva peningkatan corona, ada sebagian warga Jakarta yang malah sengaja datang di hari terakhir operasional McDonalds Sarinah. Sontak, bangunan itu kedatangan pengunjung yang membludak. Apa iya sebegitu pentingnya selebrasi perpisahan di tengah pandemi dan penerapan PSBB?

Warga berkerumun di penutupan McD Sarinah, tampak tim manajerial Mc Donalds Sarinah (kanan)

Unggahan video yang viral di media sosial ini pun langsung mendapatkan reaksi keras dari netizen. Tahu sendiri kan kalau netizen sudah bagaikan DPR-nya dunia maya.  Memang ada beberapa resiko tak terbayangkan (atau sudah bisa diperkirakan tapi lebih mementingkan konten) dari kerumunan McD Sarinah ini.

Boombastis merangkum beberapa keluhan netizen melihat mirisnya kelakuan pengunjung McDonalds yang bikin geger itu.

Potensi menambah cluster penularan

Sejak awal, negara kita sedang mencegah cluster penularan pandemi. Beberapa cluster awal yang bisa dijadikan contoh adalah seminar agama di Bandung dan Jamaah Tabligh di Gowa. Acara yang melibatkan ratusan hingga ribuan orang itu menjadi salah satu jejak meledaknya kasus Corona baik di daerah asal, maupun daerah yang lain karena pesertanya juga ada yang dari luar kota.

Ternyata hal ini tidak membuat pengunjung McD Sarinah benar-benar belajar, karena nekat berkumpul untuk order makanan terakhir kalinya sebelum resto benar-benar ditutup. Meski menggunakan masker, tidak semuanya menerapkan phsyical distancing atau jaga jarak aman. Netizen yang emosi pun hanya bisa ngelus dada dan mendoakan mudah-mudahan mereka sehat semua.

Ketika konten lebih penting dari pandemi Covid-19

Yang dikecam keras oleh netizen adalah ego dari para pengunjung yang mendahulukan konten daripada keselamatan dan kerjasama memutus penularan corona. Banyak orang sedang berusaha di rumah saja lebih dari dua bulan lamanya, gaji dipotong dan terPHK karena pandemi tak kunjung usai. Ternyata para pengunjung ini tidak bisa menahan diri hanya sekedar untuk melakukan salam perpisahan pada salah satu lokasi McDonalds penuh kenangan itu.

Yang bikin kecewa lagi, dari pengamatan netizen adalah pengunjung yang bisa beli ke sana dan merekam momen-momen perpisahan dengan manajerial tim resto tersebut, nampak sebagai orang-orang well educated atau berpendidikan menengah ke tinggi. Semestinya punya kesadaran lebih untuk tidak melakukan hal yang kurang prioritas di tengah kegawatan situasi bersama saat ini. Pun dalam kondisi PSBB, mestinya hal ini segera dibubarkan. Sayangnya, tak ada informasi petugas membubarkan kerumunan saat itu.

Apakah kita akan sesimpatik ini jika yang tutup adalah warteg tetangga?

Selebrasi di tengah pandemi ini juga dianggap sebagai romantisir yang berlebihan oleh publik. Meski yang ditonjolkan adalah kenangan lokasinya, beberapa netizen beropini bahwa tempat tersebut adalah milik perusahaan luar negeri. Apalagi cabangnya ada banyak sekali di negeri ini.

Hal yang sama belum tentu dilakukan warga bila terjadi pada warteg yang digusur atau warung yang terpaksa gulung tikar karena kesusahan saat pandemi. Akankah ikut berbondong-bondong membeli jualannya? Ataukah hanya simpati di medsos tanpa benar-benar melakukan aksi senyata yang dilakukan di McDonalds Sarinah ini? Apalagi dengar-dengar, McD Sarinah ini bisa jadi buka kembali saat sudah kondusif nanti. Nah lho..

Di tengah pandemi, nampaknya tingkah manusia belum benar-benar menunjukkan kesadaran atas keselamatan sendiri maupun bersama. Kalau alasannya karena jengah dan bosan, well, kita semua berkorban dan mengendalikan diri. Tetap di rumah, beribadah di rumah, kerja dari rumah. Hanya keterpaksaan yang membuat kita keluar rumah, itu pun dengan protokol kesehatan dan keamanan yang ketat.

BACA JUGA: Kisah Lain Tutupnya McD Sarinah yang Sempat jadi Tempat Muhammad Ali Traktir Warga Jakarta

Jangan lakukan hal yang bikin kita tertular atau menulari. Ada banyak pilihan sikap yang lebih prioritas dan bikin kita bisa melalui semua ini bareng-bareng. Demi kebaikan bersama, yuk lebih kompak melawan wabah ini.