Selain dikejutkan dengan mudurnya Edy Rahmayadi, sepak bola Indonesia juga kembali berduka dengan meninggalnya pemain ke 12. Kejadian yang sepertinya tidak habisnya tersebut layaknya nestapa yang sulit untuk dihentikan. Selain itu, juga menjadi bukti kalau slogan rivalitas tanpa membunuh hanyalah sebuah kalimat manis saja yang tidak pernah sungguh-sungguh dipraktekkan.

Dan parahnya kejadian terjadi di daerah Yogyakarta itu menambah panjang deretan suporter harus merenggang nyawa lantaran fanatisme berlebihan. Mau sampai kapan? Sepak bola bukan diciptakan untuk menghabisi nyawa lho, olahraga ini hadir untuk persatuan, kesehatan, dan banyak hal positif lainnya. Bahkan bila merujuk statuta PSSI, olahraga ini dahulunya adalah alat perjuangan bangsa dan negara.

Ilustrasi bentrok suporter sepak bola [Sumber Gambar]
Berkaca dari hal tadi semestinya mereka yang melakukan aksi-aksi semacam itu dihukum yang berat. Kalau perlu, dilarang masuk stadion atau nonton bola seumur hayatnya. Hal ini mungkin terlihat berlebihan, tapi bila dilihat dampaknya yang bisa menumbuhkan bibit-bibit rivalitas buta, lalu berujung balas dendam tindakan tegas memang harusnya dilakukan. Ingat ya sobat Boombastis, tidak ada satu pertandingan pun sebanding dengan nyawa.

Almarhum Asad [Sumber Gambar]
Kembali pada kasus kematian suporter, dalam kejadian memilukan beberapa waktu lalu tersebut yang menjadi korban adalah Muhammad Asadulloh Alkhoiri, pemuda asal wilayah Klaten baru menginjak usia 19 tahun. Dari kabar yang beredar, kepergian Asad untuk selamanya itu terjadi setelah dirinya dan adiknya menonton pertandingan PSS Sleman melawan Persis Solo di Stadion Maguwoharjo Sleman.

Ilustrasi pelemparan batu beton [Sumber Gambar]
Meninggalnya pemuda Klaten tadi disebabkan oleh lemparan benda tumpul yang dilakukan oleh oknum saat melintas di jalan jalan raya Jogja-Solo, Kecamatan Kalasan, Sleman. Menurut penuturan saudaranya yang dikutip dari lama soloraya.solopos.com, Asad ketita itu terkena lemparan beton yang berukuran besar. Meski sudah dilakukan tidakan cepat dengan membawa almarhum ke rumah sakit, namun pada akhirnya harus menghembuskan nafas terakhir lantaran pendarahan di ulu hati.

Masih terkait kasus memilukan jagad sepak bola Indonesia ini, perkembangan kasusnya saat ini pelaku yang melakukan aksi tidak terpuji tersebut satu persatu berhasil ditahan. Melansir dari Detik.com, saat ini Polda DIY sudah menangkap tujuh orang diduga sebagai pelaku pelemparan batu yang menewaskan suporter PSS Sleman. Bila dilihat riwayatnya sekali lagi, kasus layaknya Asad tersebut, bukanlah kali ini terjadi. Sebelumnya, di laga PSS Vs PSIM tahun 2018 satu orang juga dikabarkan meninggal dunia.

Ilustrasi aksi polisi [Sumber Gambar]
Terlepas dari oknum atau kelompok suporter mana yang menjadi penyebab meninggalnya Asad. Kenyataan tadi pastinya sedikit menjadi gambaran kepada kita, kalau rivalitas bola di daerah tanah Mataram tersebut memang panas. Kalau digali sejarahnya ke belakang, menurut penuturan laman Kumparan.com persaingan antar pemain ke 12 dua klub di DIY itu, bermula pada musim kompetisi 1999/2000. Kala itu bibit muncul lantaran kecemburuan prestasi yang didapatkan oleh PSS Sleman dengan PSIM Yogyakarta.

laga PSS Vs PSIM [Sumber Gambar]
Selain hal itu, pengelolan pesaingan yang tidak dilakukan dengan cerdas, profesional, dan bertanggung jawab juga ikut adil menciptakan rivalitas semakin memburuk. Kisah-kisah saling balas yang kerap berujung korban jiwa di antara pendukung kedua tadi juga jadi penyulut termudah hadirkan kobaran api kebencian. Hingga berita ini ditulis, agaknya tanda-tanda perdamaian antara mereka belum terlihat.

BACA JUGA: Kerap Munculkan ‘Korban’, Inilah 4 Derby Terpanas Kompetisi Sepak Bola Indonesia

Melihat kejadian seperti ini tentu sangatlah memilukan. Nestapa ini juga semakin membuktikan kalau sepak bola Indonesia memang sangatlah bapuk. Sembari menerima kenyataan pahit ini, mari kita berdoa untuk para suporter Indonesia yang pergi untuk selamanya. Dan semoga kejadian semacam ini menjadi yang terakhir di tanah air.