Setelah kerusuan yang sebelumnya terjadi di Manokwari, Papua, mereda, kini hal serupa kembali pecah di Kabupaten Deiyai, Papua. Dilansir dari cnnindonesia.com, Tentara Nasional Indonesia (TNI) menyebut teriakan ‘Papua merdeka’ dari massa aksi memantik kerusuhan. Padahal, unjuk rasa di bawah komando Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Stevanus Pigai di depan Kantor Bupati Deiyai itu mulanya berlangsung tenang.

Sebelum Papua dilanda peristiwa seperti di atas, para Presiden Indonesia yang terdahulu selalu mengusahakan agar perdamaian tetap terjaga di bumi Cendrawasih. Salah satunya adalah Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sosok politisi sekaligus tokoh dari organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) itu, dianggap menjadi salah satu figur yang berhasil dalam menjembatani persoalan di Papua.

Pendekatan dialog untuk menangani masalah di Papua

Gus Dur mengedepankan dialog yang humanis [sumber gambar]
Menurut Koordinator Jaringan Gusdurian Alissa Wahid mengatakan, Gus Dur ternyata memiliki cara tersendiri dalam menyelesaikan persoalan soal Papua. Ya, Presiden ke-4 Indonesia itu lebih mengedepankan dialog untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. “Teladan ini perlu dicontoh sehingga warga Papua tidak lagi diperlakukan secara diskriminatif, didengar aspirasinya, serta dihargai martabat kemanusiaannya,” ujar Alissa yang dikutip dari nasional.kompas.com.

Kembalikan nama Papua dan izinkan pengibaran bendera bintang kejora

Berikan kesempatan kepada masyarkat Papua [sumber gambar]
Tak hanya mengedepankan dialog pada masyarakat, Gus Dur juga kerap melibatkan melibatkan kepala suku dan tokoh agama dengan prinsip partisipatif, tanpa kekerasan dan mengutamakan keadilan. Dengan ini, mereka yang diajak berdialog merasa setara dan diperhatikan. Salah satu bentuknya adalah mengembalikan nama Papua sebagai nama resmi dan mengizinkan pengibaran bendera bintang kejora sebagai bendera kebanggaan dan identitas kultural masyarakat Papua.

Dicintai masyarakat Papua dan disegani oleh aktivis Papua Merdeka

Sosok Filep Karma yang kagum terhadap Gus Dur [sumber gambar]
Meski hanya sebentar saja menjabat sebagai Presiden RI ke-4, Gus Dur meninggalkan bekas mendalam bagi orang Papua. Dua bulan selepas dilantik atau tepatnya 30 Desember 1999 Gus Dur berkunjung ke Papua, ketika itu disebut Irian Jaya. Meski awalnya mendapat penolakan, tapi warga yang kemudian luluh dan menerima dirinya. Keberanian Gus Dur membuka ruang dialog juga diakui oleh tokoh Papua Merdeka, Filep Karma. Dirinya punya kesan cukup mendalam, terutama ketika Tentara Papua Merdeka (TPM) di era Gus Dur, bisa leluasa masuk kota dan berunding dengan militer.

Pendekatan humanis kepada masyarakat Papua yang membuat namanya harum

Pendekatan humanis terhadap masyarakat Papua [sumber gambar]
Dalam pendekatan dialog yang dilakukan, Gus Dur mempersilahkan masyarakat Papua untuk menyampaikan aspirasinya terlebih dahulu. Ya, tokoh kelahiran 7 September 1940, Kabupaten Jombang itu mempersilakan mereka yang hadir untuk berbicara lebih dulu. Ada beragam pendapat, dari keras menuntut kemerdekaan sampai yang memuji pemerintah. Dengan ini, Gus Dur pun dikenal sebagai pemimpin Indonesia yang lebih mengedepankan pendekatan humanis kepada masyarakat Papua.

BACA JUGA: Kisah Unik Celoteh Gus Dur Tahun 1986, Sudah Memperkirakan Dirinya Bakal Jadi Presiden

Pemerintah mungkin bisa belajar dari apa yang telah dilakukan oleh Gus Dur terhadap masyarakat Papua di masa lalu. Pendekatan lewat dialog dari hati ke hati, merupakan warisannya yang mungkin bisa dihidupkan kembali. Harapannya, hal ini bisa kembali memberikan kententraman dan kedamaian di bumi Papua. Semoga ya Sahabat Boombastis?