Pro kontra pembakaran bendera yang dilakukan ole sejumlah oknum Banser beberapa waktu, memang mendulang beragam polemik d masyarakat. Bagi mereka yang mendukung, hal tersebut tidak dibenarkan dan dianggap melecehkan makna yang ada pada bendera tersebut. Namun sebaliknya, beberapa yang setuju menganggap itu bukanlah bendera tauhid yang semestinya, melainkan milik ormas tertentu.

Kejadian yang akhirnya berbuntut panjang itu, menyudutkan Banser menjadi pihak disalahkan atas insiden pembakaran bendera. Padahal, organisasi yang telah eksis sejak zaman penjajahan itu, sejatinya telah banyak memberikan jasanya pada Indonesia. Beberapa dari mereka bahkan rela meregang nyawa demi kemanusiaan meski berbeda keyakinan. Seperti apa kebaikan mereka? Simak ulasan berikut.

Ikut berjuang mengusir penjajah Belanda di zaman revolusi

Ilustrasi Banser yang ikut berjuang di masa kemerdekaan [sumber gambar]
Sejarah perjuangan Indonesia di masa lalu, sedikit banyak diwarnai oleh Gerakan Pemuda Anshor yang dilatarbelakangi rasa solidaritas antar pemuda dan cinta tanah air. Dilansir dari nu.or.id, gerakan Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO) cabang Malang, Jawa Timur yang pertama kali menggagas berdirinya Banoe (Barisan Ansor Nahdlatul Oelama) yang kelak disebut Banser. Meski sempat dibubarkan pada saat pendudukan Jepang, organisasi tersebut kembali diaktifkan setelah revolusi fisik (1945 – 1949). Tokoh-tokoh yang terkenal pada saat itu adalah Mayor TNI Hamid Rusdi, Moh. Syamsul Islam dan Moh. Chusaini Tiway.

Membantu TNI menumpas gerakan komunis di berbagai daerah

Anggota Banser bakar bendera Komunis [sumber gambar]
Saat terjadi peristiwa G30S/PKI di berbagai wilayah di indonesia, Banser ikut andil bersama anggota TNI dan msayarakat lainnya untuk ikut menumpas gerakan tersebut. Salah satunya terjadi di kota Blitar, Jawa Timur. Dilansir dari news.okezone.com, para anggota Banser pertama kali membunuh anggota PKI secara berkelompok pada pada malam Jumat 14 Oktober 1965. Korbannya adalah seorang tionghoa yang juga tokoh Baperki dan menjadi tukang pukul andalan PKI. Setelah rumahnya diserbu Ansor dan Banser, pentolan partai komunis bernama Jiang itu akhirnya disembelih di halaman rumahnya.

Berkorban nyawa demi menjaga tempat ibadah umat lain

Salah satu kisah yang paling berbekas di era Banser modern adalah kematian Riyanto. Anggota Banser yang kala itu tengah menjaga Gereja pada malam perayaan Natal. Seperti yang dituturkan oleh Inayah Wahid dalam jawapos.com, pemuda 25 tahun itu meregang nyawa setelah memeluk bungkusan plastik hitam yang ternyata berisikan bom. Benda berbahaya yang ditemukannya di bawah bangku gereja itu, langsung dipeluk dan dibawa keluar agar tak meledak di dalam ruangan. Tubuhnya pun hancur seketika karena bom yang dipeluknya tersebut.

Kerap diturunkan untuk membantu masyarakat

Banser juga diturunkan ke daerah bencana [sumber gambar]
Saat terjadi bencana alam, para anggota Banser ikut diturunkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Seperti yang dikutip daribnisantaranews.co, Gerakan Pemuda Ansormenurunkan Banser Tanggap Bencana (Bagana) tanpa berharap imbalan ke lokasi banjir bandang di Magelang, Jawa Tengah. Mereka bekerja keras evakuasi dan kerja bakti pembersihan puing-puing rumah yang terdampak serta menyingkirkan bebatuan maupun tanah longsor di lokasi.

Meski kerap disudutkan, ormas seperti Banser sedikit banyak telah ikut mewarnai perjalanan bangsa ini. Kejadian fatal seperti aksi pembakaran bendera saat peringatan Hari Santri Nasional beberapa waktu lalu, seharusnya menjadi sebuah pembelajaran penting bagi para anggotanya. Hal ini dimaksudkan agar kejadian serupa tak lagi terulang di masa depan.