Jejak Freemason sebagai organisasi rahasia selama bertahun-tahun, kerap dipandang oleh sebagian penduduk dunia sebagai dalang di balik dari peristiwa-peristiwa besar dunia. Di Indonesia sendiri, kelompok yang masuk kategori secret society itu ternyata telah lama masuk dan berkembang di Nusantara.

Dilansir dari cnnindonesia.com, Pertemuan yang mereka gelar selalu tertutup di loji-loji yang ada. saat itu, masyarakat kerap menjuluki tempat mereka berkumpul sebagai rumah setan dan dituding mengadakan ritual memuja atau mengundang setan dalam kegiatan perkumpulan tersebut. Keberadaan Freemason di Indonesia sendiri sempat mendapatkan perlakuan berbeda dari para pemimpin bangsa. Utamanya Sukarno dan Gus Dur.

Sejarah masuknya Freemason di Indonesia

Orang-orang Belanda yang berada di Nusantara saat masih bernama Hindia Belanda, merupakan awal dari masuknya Freemasom yang kemudian berkembang sangat pesat. Dilansir dari kumparan.com , Jacob Cornelis Radermacher menjadi salah satu tokoh yang membawa pengaruh Freemason di Indonesia. Kala itu usianya masih cukup muda, tapi pengaruhnya di Indonesia, khususnya Batavia (Jakarta), cukup kuat.

Tokoh Freemason di Indonesia [sumber gambar]
Jacob yang merupakan anak dari petinggi Freemason Belanda, Joan Cornelis Mattheus Radermacher, kemudian mengembangkan organisasi tersebut bersama rekan-rekannya di Indonesia. Di tanah air, kegiatan tersebut dikenal dengan sebutan Vrijmetselarij. Di sudut Batavia yang kini dikenal sebagai jalan Budi Utomo, dulunya bernama Vrijmetselar weg, dalam Bahasa Indonesia berarti Jalan Freemason.

Organisasi rahasia yang selektif memilih anggota

Sebagai organisasi eksklusif, tak sembarang orang bisa masuk ke dalam keanggotaan Freemason. Biasanya, mereka akan selektif dalam memilih dan menyasar orang-orang yang memiliki kecerdasan secara intelektual. Berdasarkan hal itu, mereka berpotensi untuk masuk menjadi anggota.

Dikenal selektif dalam memilih anggota [sumber gambar]
Menurut Sejarawan Universitas Indonesia, Agus Setiawan yang dikutip dari kumparan.com mengatakan, biasanya dalam merekrut anggota berawal dari sekolah-sekolah. Beberapa guru yang merupakan anggota Freemason, akan merekrut murid-muridnya yang potensial sebagai anggota bila telah sesuai dengan tujuan Freemason.

Sukarno melarang keberadaan dan perkembangan Freemason di Indonesia

Saat Sukarno berkuasa, keberadaan Freemason sempat dilarang beredar di Indonesia. Keputusan Presiden nomor 264 tahun 1962, Bung Besar melarang segala bentuk kegiatan,penyebaran dan perekrutan anggota yang dilakukan oleh oraganisasi tersebut. Lama cnnindonesia.com menuliskan, Presiden pertama RI itu juga melarang enam perkumpulan lainnya yakni Liga Demokrasi, Rotary Club, Divine Life Society, Moral Rearmament Movement, Ancient Mystical Organization Of Rosi Crucians (AMORC) dan Baha’i.

Sukarno melarang keberadaan Freemason di Indonesia [sumber gambar]
Dalam Freemasonry di Indonesia yang dikutip dari historia.id, Paul W van der Veur mengatakan, Sukarno benar-benar mengusir roh jahat yang berasal dari Rumah Setan dengan menandatangani UU Komando Militer Tinggi (Keppres No. 264/1962) yang melarang Freemason di Indonesia. Saat itu, pertimbangannya mengacu pada apa yang dianut oleh organisasi itu memiliki dasar dan sumber yang berasal dari luar Indonesia dan tidak selaras dengan kepribadian nasional.

Gus Dur mencabut larangan Sukarno dan memperbolehkan Freemason di Nusantara

Beralih ke era kepemimpinan Gus Dur, gerakan Freemason kembai dilanggengkan dengan keluarnya Keppres nomor 69 tahun 2000. Dilansir dari cnnindonesia.com, keputusan tersebut membatalkan perintah Sukarno (Keppres No. 264/1962), sekaligus membolehkan organisasi itu kembali berjalan seperti awal.

Dilegalkan kembali di zaman pemerintahan Gus Dur [sumber gambar]
Dalam tulisannya yang berjudul “Negara Hukum ataukah Kekuasaan” yang dikutip dari cnnindonesia.com, Gus Dur menyatakan, Keppres dikeluarkannya didasarkan peristiwa pelarangan anak-anak penganut Bahai dalam ujian SMP di Pati, Jawa Tengah. Hal ini juga diperkuat dengan pengakuan mantan juru bicara Gus Dur, Adi Masardi. Saat itu, ia sendiri tidak mengetahui secara khusus soal latar belakang penerbitan Keppres Nomor 69 tahun 2000. Namun menurutnya, secara umum dasar pemikiran Gus Dur adalah, organisasi dan kebebasan berfikir tidak bisa dilarang karena berkaitan dengan hak asasi manusia.

BACA JUGA: 5 Fakta dan Rahasia Freemason ini Belum Banyak Diketahui Orang

Suka atau tidak, Freemason jelas-jelas telah menjadi bagian dari Indonesia untuk beberapa waktu pada saat itu. Meski akhirnya dilarang oleh Sukarno, toh organisasi bawah tanah itu kembali hidup saat Gus Dur naik menjadi Presiden ke-3 RI. Hingga saat ini, kiprah Freemason di Indonesia memang tidak terlihat. Meski demikian, jejaknya yang menjadi sejarah di masa lalu, menandakan bahwa bangsa yang besar ini juga tak lepas dari bayang-bayang organisasi tersebut.

———-

Referensi sumber penulisan:

1. Beda Nasib Freemasonry pada Era Bung Karno dan Gus Dur
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160201211154-20-108172/beda-nasib-freemasonry-pada-era-bung-karno-dan-gus-dur

2. Sukarno Dipengaruhi Freemason
https://historia.id/politik/articles/sukarno-dipengaruhi-freemason-v2Z1v

3. Bagaimana Freemason Masuk dan Berkembang di Indonesia?
https://kumparan.com/@kumparannews/bagaimana-freemason-masuk-dan-berkembang-di-indonesia-1535168575613540579