Pertandingan antara Indonesia dengan Singapura pastinya menjadi laga yang besar. Hal ini lantaran dalam beberapa tahun persepak bolaan kedua negara berkembang pesat. Meski menjadi pagelaran akbar, Indonesia tetaplah dapat jumawa dengan banyaknya pertandingan yang dimenangi saat berhadapan dengan Negeri Singa tersebut. Bahkan dari tiga pertemuan terakhir Indonesia selalu menang.

Namun, ada satu catatan kelam yang mungkin hingga saat ini membekas di memori suporter Indonesia. Dan goal maut Timnas Singapura lah yang menyebabkan luka tersebut. Saat itu, pada event internasional bernama Piala Tiger, Indonesia berhasil dipecundangi dengan telak oleh negeri persemakmuran Inggris tersebut. Padahal ketika itu Timnas diperkuat bakat-bakat hebat tanah air dari Boaz, Ilham sampai Charis Yulianto. Lantas seperti apa kisahnya? Simak ulasannya berikut.

Di awal pagelaran Piala Tiger Indonesia tampil luar biasa bagus

Ilham Jaya Kusuma [Sumber Gambar]
Datang dengan sikap pesimis dan bermain di luar negeri membuat Timnas saat itu tidak begitu dijagokan. Hal ini dikarenakan Indonesia baru saja mendatangkan pelatih baru yang kualitasnya masih meragukan. Pasalnya ia gagal membawa Thailand di kompetisi pra-Piala Dunia 2006. Namun, tidak disangka setelah menjalani beberapa pertandingan, Timnas mampu tampil kesetanan dan tidak terkalahkan di babak penyisihan grup. Bahkan pada partai semifinal menghadapi Malaysia, Indonesia mampu mengalahkan mereka. Tercatat saat itu Timnas menjadi tim paling sedikit kebobolan dan paling banyak mencetak gol.

Timnas dihuni pemain berbakat tanah air dari seluruh Indonesia

Duet Maut Timnas [Sumber Gambar]
Rekor bagus Timnas saat Piala Tiger 2004 tidak lepas dari tangan sang pelatih Peter White. Ditangannya beberapa pertandingan tim merah putih dilalui dengan kemenangan. Tidak hanya itu pelatih berasal dari Inggris ini juga mampu hasilkan pemain muda berbakat seperti Boaz Salossa, Ilham Jaya Kusuma dan Firmansyah. Punggawa baru tersebut menambah kekuatan timnas yang telah dihuni banyak pemain senior hebat. Tercatat pada Piala Tiger ini, Indonesia berisikan skuat bagus dengan perpaduan antara pemain tua dan muda yang berasal dari penjuru daerah di tanah air.

Kekalahan saat bermain di Jakarta menjadi awal kehancuran

Kekalahan Timnas [Sumber Gambar]
Tampil bagus saat bermain di babak penyisihan grup membuat timnas melenggang mudah menuju partai puncak. Pengunaan sistem kompetisi bermain kandang dan bertandang membuat Timnas harus menjamu Singapura di Jakarta. Saat itu Januari 2005, stadion Gelora Bung Karno sudah padat hingga tidak ada tempat, harapan tinggi Timnas juara pun sudah disematkan di pikiran mereka. Pertandingan seru terjadi meski Timnas harus kehilangan Boaz lantaran cedera. Jual beli serangan disuguhkan kedua tim dan sampai akhirnya Timnas harus kalah dengan kemasukan tiga gol berbalas satu. Hasil ini menjadi mimpi buruk,lantaran Indonesia harus mencetak banyak gol untuk dapat menjadi juara.

Pemain naturalisasi Singapura tidak dapat ditandingi oleh timnas

Pemain Naturalisasi [Sumber Gambar]
Naturalisasi saat itu menjadi program yang masih asing untuk berbagai negara di Asia Tenggara. Tercatat hanya Singapura yang berani melakukan hal tersebut. Datang ke Piala Tiger dengan banyak pemain luar, membuat tim negara itu hampir tidak menyisakan tempat untuk warganya. Namun siapa sangka hasil instan ini langsung membuat mereka mampu masuk ke partai Final Piala Tiger 2005. Para pemain naturalisasi tersebut mampu membuat Singapura berjaya dengan tak terkalahkan di penyisihan grup. Bahkan Indonesia yang saat itu dihuni oleh pemain-pemain hebat tidak mampu menandingi mereka. Alih-alih menang, hasil imbang pada penyisihan grup menjadi prestasi terbaik Timnas saat berjumpa Singapura.

Hancur lebur pada perjumpaan kedua di Singapura

Timnas Kalah [Sumber Gambar]
Kekalahan pada pertemuan pertama di Jakarta menjadikan peluang Indonesia untuk juara sangatlah kecil. Ditambah lagi harus bertanding di kandang Timnas Singapura. Bertanding tanpa pemain kunci membuat Indonesia seperti datang untuk menunaikan kewajibannya saja. Dan benar saat bermain di Stadion Nasional Baru Singapura, Timnas kembali mengalami kekalahan. Bahkan para punggawa merah putih tidak dapat berbuat banyak saat bermain di sana. Charis Yulianto dan timnya, dihajar dua gol tanpa sanggup membalikkan keadaan. Kegagalan di final menambah daftar panjang hasil buruk Timnas saat bermain di partai puncak kompetisi tertinggi kawasan Asia Tenggara tersebut.

Cerita kelam ini pastinya menjadi kenangan yang tidak terlupa bagi para pencinta sepak bola tanah air. Pasalnya saat itu Indonesia kembali gagal meraih gelar juara seperti tahun-tahun lalu. Kekalahan pada partai final tersebut menjadi bukti bahwa tampil bagus di awal tidak ada apa-apanya apabila akhirnya gagal meraih gelar juara.