Perairan Indonesia yang luas menyimpan banyak sekali kekayaan. Bukan hanya sebatas hasil laut, keindahan terumbu karang, atau jenis hewan langka yang hidup di dalamnya saja, tetapi juga banyaknya kapal yang tenggelam di sana. Populasi ini akan bertambah banyak setelah Menteri Kelautan Bu Susi punya hobby kebijakan menenggelamkan kapal asing yang suka mencuri ikan di Indonesia.

Salah satu kapal yang kembali ditemukan adalah milik Tiongkok. Penemuan ini sebenarnya sudah sangat lama, tetapi kembali booming pada pertengahan tahun 2018 lalu. Isinya pun konon berisi harta karun. Kira-kira apa ya, emas? Koin lawas? Berlian? Agar tidak penasaran langsung simak deh ulasan Boombastis.com berikut.

Pertama kali ditemukan pada tahun 1980an oleh nelayan

Kabar tentang kapal karam yang kembali ditemukan bukan lagi isu yang mengejutkan mengingat perairan Indonesia memang luas dan sangar. Pada tahun 1980an, nelayan di Laut Jawa menemukan sebuah kapal yang pada akhirnya diselamatkan oleh perusahaan swasta Pacific Sea Resources yang berbasis di Florida menyelamatkan kapal karam tersebut pada tahun 1996, beberapa belas tahun setelahnya.

Ilustrasi kapal dagang China [Sumber gambar]
Kapal ini kemudian diidentifikasi berasal dari Tiongkok, China. Kembali hal tersebut wajar saja, karena di masa lalu, China-Indonesia berhubungan baik dalam segi perdagangan. Sebagian kebudayaan yang ada di masing-masing negara juga saling memperngaruhi satu sama lain.

Isi kapal yang merupakan harta karun

Melansir kontan.co.id, penelitian baru-baru ini menyatakan bahwa kapal tersebut mungkin saja sudah tenggelam lebih dari 800 tahun yang lalu. Hal ini bisa dilihat dari tulisan-tulisan yang ada di berbagai item yang ditemukan. Macam-macam barang yang ditemukan adalah tersebut berisi keramik, guci, gading gajah, 200 ton jeruji besi tempa, wajan besi dan panci masak, serta artefak lain, total ada sekitar 7.500 item lebih.

Guci dan piring dengan tulisan Jianning Fu [Sumber gambar]
Keramik yang ada di dalam kapal tersebut bertuliskan Jianning Fu, sebuah wilayah administratif Tiongkok Selatan yang digunakan pada tahun 1162 – 1278. Keramik lain adalah mangkuk dengan glatsir (lapisan yang mengkilap) seperti yang pernah ditemukan di perairan Serawak, Malaysia di abad 10 dan 12. Sedangkan gading gajah yang jumlahnya 16 buah ditafsir berasal dari Afrika Timur.

Kapal apakah yang tenggelam tersebut?

Melansir Grid.id, kapal ini jelas merupakan angkutan dagang yang berasal dari Tiongkok. Hanya saja, kemungkinan ia dibangun di Indonesia, bisa dilihat dari muatan jeruji besi yang ditemukan. Kapal ini tenggelam dalam misi penting ketika menuju ke Indonesia. Berdasar pada sejarah dan penelitian, mengutip kontan.co.id, pelayaran diperkirakan terjadi pada masa awal dinasti Song Selatan.

Benda yang diteliti oleh expert [Sumber gambar]
Pada era ini, pemerintah pemegang kekuasaan dalam dinasti mendorong pedagang China untuk pergi ke luar negeri daripada mengandalkan misi luar negeri yang melakukan perjalanan ke China. Ketika itu pula persaingan antara masyarakat maritim Asia Tenggara meningkat, sehingga kegiatan perdagangan melalui jalur laut banyak terjadi.

Disumbangkan ke Indonesia separuhnya

Bagaimanapun, kapal harta karun tersebut masuk dalam perairan Indonesia. Sehingga bisa saja Indonesia berhak  memiliki semua barang yang ada di dalam negaranya. Ditemukan oleh Pacific Sea Resources, lebih dari 7000 item akhirnya menjadi hak milik Field Museum di Chicago, salah satu museum terbesar yang ada di dunia.

Field Museum Chicago [Sumber gambar]
Museum ini memang berisi barang bernilai natural-history dan artefak ilmiah. Sisanya, disumbangkan ke pemerintah Indonesia. Sejak itu “harta karun” ini dikenal dengan sebutan Bangkai Kapal Laut Jawa.

BACA JUGA: 4 Kapal Harta Karun yang Karam di Laut Nusantara, Andai Ketemu Utang Negara Bisa Lunas

Indonesia memang kaya, namun kadang kita masih butuh bantuan berbagai pihak untuk mengeksekusi apa-apa yang seharusnya bisa menjadi milik kita. Dalam artian Indonesia butuh sumber daya manusia yang memiliki potensi bisa mengelola semua SDA yang kita punya dengan baik. Siapa lagi mereka kalau bukan kita, para anak muda harapan bangsa. Betul?