Sungai Nahal Alexander beberapa waktu lalu dilaporkan berubah warna menjadi merah darah. Sontak hal ini menghebohkan warga Israel karena fenomena tersebut dianggap tak biasa terjadi. Terlebih, peristiwa tersebut juga terjadi di tengah pandemi virus corona (Covid-19).

Banyak masyarakat yang khawatir, bahwa perubahan warna tersebut menjadi pemicu adanya bencana besar yang bakal terjadi ke depannya. Soal yang satu ini, wajar jika Israel ketakutan. Tak hanya berubahnya warna sungai, negeri Yahudi itu juga memiliki beberapa hal yang ditakuti meski dianggap sebagai wilayah yang memiliki kekuatan militer mumpuni. Apa saja? Simak ulasan berikut ini.

Sungai merah darah yang dikaitkan dengan kutukan rakyat Mesir di Alkitab

Peristiwa berubahnya warna aliran air di sungai Nahal Alexander membuat heboh publik Israel. Bagaimana tidak, sungai sepanjang 45 kilometer itu terlihat memerah seperti darah. Publik setempat khawatir lantaran hal tersebut mengingatkan akan ‘wabah darah di Mesir’ atau Tulah Mesir (Plagues of Egypt) seperti yang tertulis di dalam Alkitab.

Warna air yang berubah dari bening menjadi merah seperti darah, memunculkan kekhawatiran akan adanya bencana besar yang terjadi. Namun Menurut The Society for the Protection of Nature, seperti dilansir The Sun, (17/5/2020), hal tersebut terjadi lantaran sungai tercemar oleh darah hewan dari rumah jagal dan industri yang ada di sekitarnya.

Milisi Hizbullah Lebanon

Sepak terjang milisi-milisi yang menjadi musuh bebuyutan Israel ternyata mendapatkan perhitungan tersendiri. Tak jarang, keberadaan mereka yang kerap meneror pasukan Zionis itu memunculkan kekhawatiran tersendiri. Salah satunya adalah laskar Hizbullah. Milisi asal Lebanon itu ditakuti lantaran memiliki gudang dengan puluhan ribu rudal yang sewaktu-waktu dapat membombardir Israel.

Oleh PBB, Hizbullah dinilai membahayakan dan dianggap telah melanggar resolusi PBB nomor 1701. Menurut Duta Besar Israel di PBB, Ron Prosor, hal ini terjadi lantaran milisi tersebut menyimpan 50 ribu rudal mematikan dan dianggap melebihi kekuatan NATO. Oleh karena itu, Israel menyerukan agar Dewan Keamanan (DK) PBB melakukan embargo dan memasukkan Hizbullah ke dalam daftar teroris global.

Insinyur Hamas Yahya Ayyash yang menjadi otak dari teknologi bom Palestina

Jika Israel khawatir dengan sepak terjang Hizbullah karena kekuatan persenjataannya, pasukan negeri Zionis itu juga mewaspadai Yahya Abdel Latif Ayyash atau Yahya Ayyash. Oleh Israel, insinyur cerdas itu dianggap berbahaya karena memiliki pengalaman dan kemampuan membuat bahan peledak dengan bahan-bahan sederhana.

Pahlawan Palestina Yahya Ayyash [sumber gambar]
Bisa dibilang, Ayysah adalah sosok jenius dari teknologi bom Hamas Palestina. Sejak peristiwa intifada Pertama antara tahun 1990-1991, intelijen Israel telah menguntit dirinya. Karena tergabung dengan Brigade Al-Qassam, ia telah terlibat sejumlah misi pemboman yang digerakkan lewat mobil. Ayyash diketahui terbunuh akibat ledakan di telepon genggam miliknya yang telah diberi 50 gram alat peledak oleh agen intelijen Israel, Shin Bet.

Marwan Barghouti yang perintahkan serangan bom bunuh diri

Sebagai tokoh politik terkemuka Palestina, sosok Marwan Barghouti sangat ditakuti Israel lantaran rekam jejaknya dalam menyuarakan perlawanan terhadap negeri Zionis. Ia dituduh berada di balik serangkaian serangan bom bunuh diri tanpa pandang bulu, baik menargetkan militer maupun penduduk sipil.

Marwan Barghouti yang ditahan otoritas Israel [sumber gambar]
Barghouti yang ditangkap pada 2002, kemudian dicap sebagai teroris kelas wahid oleh Israel. Hukuman seumur hidup pun dijatuhkan pada tokoh yang telah menjadi anggota faksi Fatah sejak usia 15 tahun itu. Salah satu hal lainnya yang membuat Israel khawatir adalah, kharisma Barghouti yang diprediksi mampu menyatukan dua kekuatan besar Palestina, yakni kelompok Hamas di Jalur Gaza dan Fatah di Tepi Barat.

BACA JUGA: Menilik Terowongan ‘Angker’ Milik Hamas Palestina yang Kerap Membuat Tentara Israel Ketakutan

Sekuat dan secanggih apapun teknologi yang dimiliki oleh Israel, negeri Zionis itu tetap saja memiliki ketakutan kepada organisasi maupun individu tertentu yang dinilai bisa membahayakan eksistensinya. Termasuk soal sungai yang berubah merah karena dipercaya menjadi pertanda munculnya sebuah bencana bagi mereka.