Perkataan ‘sampaikanlah (kebaikan) walau hanya satu ayat’ menunjukkan bahwa dakwah tentang kebaikan itu bisa dilakukan di manapun dan kepada siapapun juga. Berkenaan dengan hal ini, baru-baru ini nama KH Miftah Maulana Habiburrahman menjadi topik perbincangan.

Pasalnya, pendakwa asli Ponorogo ini terbilang unik karena mengisi kegiatan agamis di club malam, yang jelas sangat bertentangan dengan lahan banyak ulama. Ada banyak sekali orang yang penasaran terkait alasan mengapa memilih tempat tersebut. Untuk itu, yuk kenalan lebih dekat dengan Gus Miftah.

Berdakwa di ranah gelap selama belasan tahun

Gus Miftah di Boshe VVIP Bali [Sumber gambar]
Kiai yang kerap disapa dengan Gus Miftah ini viral karena video yang memperlihatkan sosoknya sedang bersholawat dengan para ‘pekerja’ di Boshe VVIP Club Bali. Mendapati dirinya mendadak terkenal, Gus Miftah mengatakan bahwa hal tersebut bukan sesuatu yang baru. Ia sudah melakukannya dari 12 tahun lalu, wilayah yang sudah dikunjungi pun banyak, mulai dari Sarkem Jogja hingga Boshe Bali yang sudah menjadi tempat kajian rutin. Ia menambahkan bahwa setiap orang punya cara masing-masing untuk bisa kembali mesra dengan sang pencipta, tak boleh dihalangi hanya karena mereka yang berada di tempat bernuansa ‘dunia gelap’.

Sering mengisi acara di berbagai instansi pemerintah

Gus Miftah, UYM dan Anies Baswedan [Sumber gambar]
Tak hanya mengisi di tempat anti-mainstream, Gus Miftah juga kerap mengisi acara di instansi pemerintahan. Ia pernah diundang ke Balai Kota DKI Jakarta ngaji bareng Gubernur Anies Baswedan. Selain itu, TNI, bupati, walikota, Gubernur AAU Adisutjipto, mengisi di kantor bea cukai, kantor pajak juga pernah ia lakoni. Semuanya atas dasar dakwah, bukan mencari sensasi apalagi melacurkan agama. Untuk akomodasi bagaimana? Tak ada yang membayar, semuanya diambil dari kantongnya sendiri, mulai dari transportasi hingga hotel. Dalam hal ini, tak ada motif ekonomi sama sekali katanya, seperti yang dilansir dari detikcom.

Punya santri dari berbagai background hidup ‘kelam’

Pengasuh ponpes Ora Aji [Sumber gambar]
Saat ini, Gus Miftah mengasuh sebuah lembaga keagamaan, Pondok Pesantren Ora Aji yang bertempat di di Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pondok pesantren ini menampung sekitar 70 santri dari berbagai belahan nusantara (Lombok, Lampung, Bengkulu, serta Yogyakarta). Semuanya punya latar belakang ‘kelam’, ada yang pernah berprofesi sebagai pegawai salon plus, mantan pegawai hiburan malam, serta beberapa pernah mendekam di penjara. Semua fasilitas (makan, tinggal, serta belajar ngaji) diberikan secara cuma-cuma alias gratis. Ponpes ini sudah dirintis selama 6 tahun sebagai media bagi mereka yang ingin belajar mendalami ilmu agama.

Cara berdakwah yang unik

Cara berdakwa yang unik [Sumber gambar]
Nah, bagaimana cara berdakwah kepada orang yang jelas-jelas ada di jalur hitam? Gus Miftah memberikan pengajian melalui penyampaian yang bisa diterima semua pihak, tak melulu serius, bisa dengan model stand-up comedy, guyon, serta berbicara setara dengan level ilmu agama mereka. Gus Miiftah juga mengatakan bahwa dirinya tidak pernah menyentuh miras setetes pun, tidak merokok, dan tidak nafsu walaupun disajikan pemandangan wanita-wanita seksi club. Ia sendiri tak berhak memberi nasehat jika ia masih melakukan hal yang dilanggar oleh agama.

Menuai kontroversi dari banyak pihak

Pendapat banyak tokoh tentang dakwah Gus Miftah [Sumber gambar]
Dengan viralnya video di Boshe Bali ada banyak sekali kritik yang ia terima. Banyak pihak yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh pria asal Ponorogo ini tak sesuai adab dan etika dalama agama. Melalui laman detik.com, Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Cholil Nafis mengatakan bahwa hal tersebut adalah perbuatan yang tidak sopan. Di balik banyak tentangan, ada juga yang mengaku salut kepada Gus Miftah, seperti yang diucapkan oleh Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak dan Said Aqil. Keduanya bilang bahwa hal tersebut hanya mampu dilakukan oleh mereka yang professional.

Ya, islam itu memudahkan dan rahmatanlil’alamin ya Sahabat. Setiap orang punya landasan masing-masing mengenai apa yang dilakukannya, selama tidak melenceng dan ikut arus kejahatan. Mengenai yang dilakukan oleh Gus Miftah, setiap orang boleh punya pendapat masing-masing. Tapi kembali lagi, bukan hanya kamu benar lantas boleh menyalahkan orang lain. Tidak, pandang dari sisi yang positif dan ambil hikmahnya juga bisa kok.