Tak salah memang istilah ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ disematkan kepada para guru. Banyak sekali kisah inspiratif seputar orang-orang yang mengabdikan full hidupnya untuk mendidik anak orang lain. demi cerdasnya sang murid, segala cara pun dilakukan, dari berpakaian ala superhero, tidak dibayar selama mengajar, hingga mendonasikan gajinya untuk para murid.

Kisah nyata ini datang dari Peter Tabichi (36), seorang guru Matematika asal Kenya yang menyumbangkan gajinya demi majunya pendidikan di daerah di mana ia tinggal. Hidup di pedesaan di mana banyak orang miskin, ia selalu menekankan pada murid-muridnya untuk menggapai impian mereka, walau bagaimanapun sulitnya.

Tak hanya sebagai guru, Peter juga merangkap diri sebagai orangtua muridnya

Peter Tabichi [Sumber gambar]
Peter Tabichi mengajar di sebuah SMP Keriko. Sekolah tersebut berlokasi tersebut adalah tempat yang terpencil dan kering. Hampir 95% murid yang ia ajar di kelas berasal dari keluarga miskin yang tidak mampu serta sudah tidak memiliki orangtua. Tak hanya sebatas masalah ekonomi saja, kebanyakan dari pelajar tersebut sangat rentan terhadap paparan obat terlarang (narkoba), kehamilan dini di luar nikah, serta aksi bunuh diri. Di sini, Peter dengan sukarela harus menjadi guru sekaligus orangtua yang memberi pemahaman baik kepada anak didiknya.

Mendonasikan gajinya untuk pendidikan anak didiknya

Murid-murid Peter [Sumber gambar]
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, lingkungan tempat Peter tinggal adalah kawasan miskin di mana pendidikan tak begitu penting. Hampir serupa dengan kisah Ketut Marianta dkk, untuk mencapai sekolah, murid Peter harus menempuh jarak 7 kilometer dengan berjalan kaki. Ke sekolah akan semakin sulit jika hujan turun dan membuat jalanan becek dan licin. Di sekolah pun, modal belajar mereka hanya satu komputer dan beberapa buku cetak. Internet? Jaringannya sangat buruk, guru yang mengajar pun kurang. Keterbatasan inilah yang membuat Peter kemudian mendonasikan 80% dari gajinya untuk memajukan pendidikan di sekolah tersebut.

Motivator ulung yang membuat muridnya percaya diri

Peter dan murid-muridnya [Sumber gambar]
Keterbatasan kadangkala tetap tidak membuat matinya kreativitas seseorang. Melalui Peter, siswa diajak percaya diri dan bangkit. Peter menginisiasikan terbentuknya “klub pembinaan talenta” dimana Ilmu Pengetahuan Alam menjadi porosnya. Kehadiran Peter memberikan warna tersendiri dalam kehidupan pendidikan anak-anak itu. Ia juga menyatukan etnis berbeda untuk bersahabat dan berdamai. Kalau kata Peter, ‘guru yang baik itu tak perlu banyak bicara, yang penting banyak bertindak’. Berkat motivasi yang ia berikan para muridnya kemudian bisa percaya diri dan yakin bahwa mereka juga bisa sama seperti anak lain yang sekolah di tempat bergengsi.

Sabet penghargaan sebagai guru terbaik di dunia

Pada akhir Maret lalu, Peter menghadiri acara Global Teacher Prize 2019 yang dilaksanakan di Dubai (UEA). Dari 10.000 kandidat perwakilan 179 negara, Peter keluar sebagai pemenang dan dinobatkan menjadi guru terbaik di dunia tahun ini. Dalam acara yang dipandu oleh Hugh Jackman ini, Peter banjir pujian dan ucapan selamat, termasuk dari Putra Mahkota aktor Dubai Hamdan bin Mohammed bin Rashid Al Maktoum hingga presiden Kenya Uhuru Kenyatta. Membawa pulang sebuah trofi dan uang senilai Rp. 14 miliar, Peter mengatakan bahwa semua ia dedikasikan kepada anak didiknya –yang berkat mereka, Peter bisa berada di panggung sebagai sosok pengajar terbaik.

BACA JUGA: 7 Alasan Menjadi Guru adalah Pekerjaan Luhur dan Menyenangkan

Peter mungkin bukan satu-satunya orang yang mau berjuang demi majunya pendidikan. Ada banyak Peter-Peter lain yang juga berusaha maksimal mendidik muridnya agar menjadi ‘seseorang’ kelak. Indonesia sendiri seperti yang kita ketahui ada program Indonesia Mengajar, ada pula Sokola Rimba yang digagas oleh Butet Manurung. Semuanya punya misi yang sama, memajukan pendidikan negeri agar anak-anaknya menjadi kebanggaan bangsa.