Sampai sekarang, gempa terus berlanjut semenjak bencana yang menerjang Palu dan sekitarnya. Dari warga Sabang sampai Merauke khawatir dengan musibah yang satu ini. Maka dari itu, banyak para ahli di Indonesia yang mencoba menganalisa mengapa gempa terus menerus terjadi tanpa henti di negara kita ini. Padahal, letak kota yang terdampak gempa dengan Palu sangat berjauhan jaraknya.

Banyak ahli berpendapat jika gempa yang terjadi bertubu-tubi di Indonesia ini lantaran sesar Palu-Koro mengalami pergeseran. Sehingga, sesar kecil lainnya mengikuti pergerakan dan mengakibatkan gempa di sekitarnya. Tapi, ada alasan lain juga yang dijamin membuat Sahabat Boombastis tidak percaya. Adalah gempa bisa diakibatkan karena ulah manusia juga.

Menyuntikkan suatu cairan ke bawah tanah

Mungkin Sahabat Boombastis bingung dengan pernyataan penyuntikan cairan ke bawah tanah. Sebab yang kita tahu hanyalah suntik imunisasi atau semacamnya. Nah, kita jelaskan sedikit nih ya kalau penyuntikan ini bertujuan untuk memecah struktur bebatuan, memperkaya cadangan minyak bumi dan juga meningkatkan sistem geotermal.

Sistem geotermal [Sumber Gambar]
Memang sih metode ini bisa membuat kondisi bumi lebih baik. Namun tidak menurut Badan Survei Geologi Amerika Serikat. Proses penyuntikan cairan bawah tanah ini malah membuat beberapa dampak yang sangat buruk bagi bumi. Contohnya saja seperti meningkatkan tekanan cairan dalam zona sesar. Kalau hal ini diterapkan secara berlebihan, sesar yang tergolong kecil pergerakannya akan ikut bergeser. Sehingga wilayah yang seharusnya tidak terjadi gempa, malah mengalami getaran bumi.

Pembuangan zat limbah ke bawah tanah

Kemudian, pembuangan zat limbah juga bisa memicu datangnya gempa lho Sahabat Boombastis. Tapi bukan cara membuang seperti kita biasanya lho ya, namun dilakukan dengan metode tertentu. Yaitu membuang limbah ke bawah tanah. Dilansir dari detik.com, pembuangan limbah ke bawah tanah ini bertujuan supaya tidak mencemari lingkungan seperti air yang dibuat untuk minum ataupun mandi.

Pembuangan limbah ke bawah tanah [Sumber Gambar]
Caranya adalah dengan membuang limbah tersebut ke bawah bagian tanah yang disebut dengan aikuifer. Nah, akuifer ini merupakan lapisan tanah yang berisi air. Jadi jika limbah diletakkan di bawah akuifer, maka air tidak akan tercemar lagi. Tapi risikonya ya seperti yang sudah dijelaskan tadi kalau bisa mengakibatkan terjadinya gempa. Alasannya karena lapisan tanah tersebut letaknya sama dengan keberadaan minyak dan gas yang sudah merupakan inti dari bumi.

Perekahan hidrolik yang digunakan untuk pertambangan

Sahabat Boombastis pasti tahu kan dengan pertambangan? Nah, pertambangan ini melakukan suatu proses untuk memperoleh hasil bumi. Namanya adalah perekahan hidrolik atau istilah kerennya yaitu fracking. Yap, para penambang akan melakukan penyuntikan cairan sampai ke lapisan tanah yang berisi minyak bumi atau lain sebagainya.

Perekahan hidrolik [Sumber Gambar]
Gempa bumi akibat perekahan hidrolik ini memang tidak akan sebesar yang ada di Palu. Akan tetapi, jika proses ini dilakukan terus menerus, dikhawatirkan bisa membuat dampak buruk lainnya. Seperti struktur bebatuan yang menjadi rusak atau minyak bumi akan habis dalam waktu singkat.  Selain itu, akan ada gempa susulan dengan kekuatan yang lebih besar lagi. Persis seperti yang terjadi di Oklahoma pada tahun 2011 lalu. Berkat adanya kegiatan fracking pada kota tersebut, gempa terjadi hingga 12 kali dalam sehari dengan kekuatan yang berbeda-beda.

Bangunan tinggi yang bobotnya tidak mampu ditahan oleh tanah

Selama ini yang kita tahu kalau gedung pencakar langit memiliki kekuatan lebih dari gedung lainnya. Tapi ternyata anggapan kita itu salah karena tak terbukti pada salah satu gedung tertinggi di dunia yaitu Menara Taipei 101. Dilansir dari laman dream.co.id, kalau Menara Taipei tersebut justru menjadi penyebab munculnya gempa.

Menara taipei 101 [Sumber Gambar]
Hal ini pun diungkapkan oleh seorang Ahli Geologi Taiwan yaitu Cheng-Horn Lin. Menurutnya, berat dari gedung setinggi 509, 2 meter tersebutlah yang jadi pemicunya. Bobotnya yang mencapai 770ribu ton akhirnya memberikan banyak tekanan pada batuan sedimen lunak di bawahnya. Akibatnya, gempa dengan guncangan yang cukup besar tak dapat dihindari lagi.

Bendungan yang peletakannya tidak tepat

Bendungan ternyata mampu menjadi penyebab dari terjadinya gempa. Tapi perlu dicatat, kalau bendungan tersebut berada di tempat yang tidak tepat. Contohnya seperti Bendungan Zipingpu yang berada di China. Akibat peletakan bendungan yang kurang tepat, gempa berkekuatan 7,9 SR melanda daerah Shicuan.

Bendungan Zipingpu [Sumber Gambar]
Beberapa ilmuwan di China mengungkapkan jika bendungan tersebut ternyata berada persis sepertiga mil dari sesar. Artinya, bendungan raksasa tersebut dibangun di atas garis pertemuan lempeng tektonik bumi. Alhasil, air yang berada di bendungan itu menjadikan beban berlebih pada lempengan bumi.

Tak disangka, ternyata perbuatan manusia juga mampu mengundang datangnya gempa bumi. Maka dari itu, kita sebagai manusia sebaiknya berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan apapun terhadap lingkungan. Ya mungkin awalnya tidak ada dampak apapun, namun kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Intinya selalu cintai lingkungan dan cari tahu dulu apakah yang kita lakukan berbahaya bagi alam atau tidak.