Permainan dramatis Anthony Sinisuka Ginting, dalam babak final bulu tangkis Asian Games 2018, masih terngiang di hati masyarakat Indonesia. Pasalnya, ia benar-benar bermain apik dan menjadi harapan Indonesia untuk pulang membawa emas untuk cabang olahraga bulu tangkis. Namun, pada babak kedua staminanya mulai lemah dan berhasil dikalahkan atlet China, Shi Yu Qi.

Masyarakat Indonesia, diwakili oleh komentator Valentino Simanjuntak terus menggantung harapan kepada Ginting. Ia pun mengemban nama Indonesia di bahunya, dan tak mau menyerah semudah itu. Hingga pada akhirnya, di babak ketiga ia berhasil mengejar ketertinggalan dan sedikit lagi mampu mengantarkan Indonesia berdiri di podium, dikalungkan medali emas.

Cedera Anthony Ginting [Sumber Gambar]
Namun sayang, harapan Indonesia lagi-lagi menjadi palsu. Ginting mengalami cidera di menit-menit terakhir pertandingan. Ia jatuh dan kakinya tampak tak berfungsi maksimal. Meskipun begitu, ia tetap mencoba bangkit demi Indonesia. Ia tetap menangkis bola lawan meski tak bisa berlari lagi. Alhasil, ia meminta perpanjangan waktu pada wasit, tetapi tak diberikan. Dengan itulah, resmi berakhir pertandingan antara Anthony Ginting dan Shi Yu Qi. Sebab, Ginting sudah tak bisa melanjutkan permainan lagi dengan kondisi kaki seperti itu. Shi Yu Qi pun meraih kemenangan karena lawannya tak bisa berjuang maksimal. Ia—dengan supportive tetap menjabat tangan Ginting dan bertanya bagaimana kondisi atlet asal (Indonesia) itu.

Overview perbandingan netizen [sumber gambar]
Ketika akhirnya Ginting harus dibawa keluar lapangan dengan tandu, netizen pun mulai memberikan opini-opini mereka. Namun, tampak perbedaan yang signifikan bagaimana netizen di platform instagram dan twitter ketika memberikan komentar. Netizen di instagram—karena bukan platform media sosial untuk bacot alias menuliskan opininya, tetapi lebih pada visual, ramai-ramai menyerbu akun instagram pribadi Ginting (@sinisukanthony). Mereka menyebut Ginting memiliki mental tempe. Perjuangannya melawan kegetiran dan cedera kakinya pun tak dianggap oleh netizen di instagram gara-gara ia tak berhasil membawa pulang emas. Cercaan demi cercaan pun datang. Kata-kata tak pantas pun dilontarkan. Namun terkadang, ketika profil netizen instagram yang hobi nyinyir tersebut diklik, yang muncul malah akun palsu.

Perbedaan Netizen IG dan Twitter [sumber gambar]
Penulis jadi teringat kasus Via Vallen lipsync pada opening ceremony Asian Games 2018 lalu. Ia dihujat habis-habisan oleh netizen karena tak menyanyi secara live, padahal ia merupaka penyanyi lagu tema Asian Games 2018. Padahal, sudah ia jelaskan bahwa pihak penyelenggara tak ingin ada kesalahan teknis sekecil apapun. Namun tampaknya, netizen tetap tak menerima alasan dan berfikir bahwa lipsync adalah suatu hal yang buruk. Dikutip dari Kompas.com, Via Vallen menyebutkan ada banyak haters yang dibayar untuk menghujat dirinya ketika bernyanyi di panggung opening ceremony Asian Games 2018. Kebanyakan dari mereka pun menggunakan akun palsu, agar tak bisa dilacak keberadaannya ketika mau dibawa ke jalur hukum.

Ketika ginting di ambang batas [sumber gambar]
Miris memang gambaran netizen instagram setelah muncul akun gosip serta keinginan pengguna membuat akun palsu. Untungnya Indonesia masih memperbolehkan platform media sosial twitter beroperasi. Meski twitter adalah media sosial berbasis teks alias memperbolehkan penggunanya untuk nyinyir dengan batas 280 karakter, tak banyak penggunanya yang lihai nyinyir esktrem seperti di instagram. Memang masih ada, tetapi jika dilihat perbandingannya, mungkin hanya 3 orang dari 10. Ketika Ginting sedang diambang kekalahan, netizen twitter ramai-ramai memberikan suntikan dukungan kepadanya. Bahkan, akun @BadmintonTalk saja menyarankan agar netizen ramai-ramai mengunjungi akun instagram pribadi Ginting dan berkomentar positif, untuk menutup nyinyiran netizen instagram yang bisa menjadi top comment.

Contoh real cuitan di IG vs Twitter [sumber gambar]
Selain kompak untuk berkomentar baik di akun instagram Ginting, kebanyakan cuitan dari mereka pun puas dengan permainannya. Meski tak berhasil membawa pulang emas untuk Indonesia, netizen bangga karena Ginting masih memaksakan dirinya untuk bangkit dan melawan Shi Yu Qi ketika dirinya sudah diambang batas. Breaks the limit, mungkin itu kata-kata yang pas untuk mendeskripsikan permainan Ginting pada malam final badminton beregu putra Asian Games 2018, dan netizen twitter serta instagram memiliki perannya masing-masing dalam hal ini. Sayang sekali sulit untuk mengubah perilaku netizen instagram agar tak mudah nyinyir dan menjatuhkan mental seorang atlet Indonesia, yang mana merupakan aset dari bangsa kita.