Kehidupan, terkadang tak selamanya berjalan mulus. Ada dinamika naik turun yang menjadi latar belakangnya. Mereka yang dulu bermasalah di masa lalu, punya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik di masa depan. Tentunya, jika masih diberi umur panjang oleh Tuhan Sang Maha Pencipta. Hal inilah yang kemudian ditempuh oleh sosok Ustadz Evie Effendi.

Masa lalunya yang penuh dengan kenakalan ala remaja, akhirnya membuat sosok yang kini akrab dijuluki sebagai Ustadz gaul itu, memutar haluan hidupnya. Tak ingin mati dalam gelimang dosa, Evie memutuskan untuk berhijrah dari kehidupan lamanya. Jika dulu sibuk bermain, berkelahi dan segudang hal negatif lainya, kini ia sibuk berdakwah agama. Mengingatkan mereka akan jalan Tuhannya.

Sempat merasakan dinginnya terali besi

Ilustrasi penjara [sumber gambar]
Darah muda yang menggelora, sempat membuat seorang Evie Effendi kehilangan arah. Menjadi berandalan dengan aksi negatif seperti berkelahi, menjadi rutinitasnya saban hari. Hingga pada akhirnya, ia terpaksa dijebloskan ke dalam sel tahanan karena telah melakukan kegiatan kriminal di masyarakat.

Saya pernah melukai perut teman pakai pisau cutter. Ya selama tiga bulan berada di penjara Rutan Kebonwaru” tuturnya yang dilansir dari news.detik.com.

Saat itu, usianya masih 24 tahun. Masa muda yang sangat sayang sekali untuk dihabiskan di dalam penjara. Perlahan, Evie pun menyadari kekeliruan dirinya. Bisa dibilang , sel tahanan tempatnya meringkuk, menjadi jalan bagi dirinya untuk berhijrah.

Pilih berhijrah karena ingat akan datangnya malaikat maut

Ustad Evie Effendi pilih berhijrah [sumber gambar]
Kematian adalah sesuatu yang pasti dialami oleh setiap manusia. Evie Effendi pun menyadari hal tersebut. Disinilah momentumnya untuk berhijrah mulai bangkit. Pria kelahiran Bandung 19 Januari 1976 ini, mulai merenungkan hakikat kehidupan yang sebenarnya. Hatinya terus bergejolak. Ia mulai mengingat perihal tentang kematian, surga dan neraka. Di dalam sel itu juga, Evie Effendi seolah mendapat siraman rohani.

Di dalam penjara itu enaknya zikir. Selama di dalam (Rutan Kebonwaru) kerjaan saya salat dan zikir,” tuturnya yang dilansir dari news.detik.com.

Memutuskan menjadi seorang pendakwah

Ustad Evie Effendi saat berdakwah [sumber gambar]
Setelah dinyatakan bebas, Evie pun mulai menata kehidupan barunya. Pengalaman spiritualnya selama mendekam di tahanan, menjadi fase penting bertaubat. Beruntung, niat baiknya itu didukung penuh oleh sang ibu. Evie pun rutin mengisi hari-harinya dengan mendatangi kajian dan pengajian di masjid-masjid. Pendidikannya yang mentok di jenjang SMP, tak membuatnya patah semangat. Ia semakin rajin memahami ilmu pengetahuan dan syariat ajaran Islam. Hingga pada akhirnya, Anak pasangan Teti Rusmiati dan Iyus Rusdi ini, memilih jalan hidup sebagai seorang pendakwah.

Jalan terjal sang ustadz muda dalam berdakwah

Tersandung kasus saat ceramah [sumber gambar]
Menjadi seorang pendakwah agama, nyatanya bukan menjadi hal yang mudah bagi Evie Evendi. Tantangan pertama yang ia hadapi justru datang dari isterinya sendiri. Sang istri memilih bercerai dengan dirinya, karena meninggalkan profesi lama sebagai peracik warna kain dan memilih menjadi seorang Da’i. Meski demikian, Evie akhirnya bisa kembali merajut biduk rumah tangganya setelah berhasil menyadarkan pasangannya tersebut. Ia juga sempat dilaporkan pada Polisi karena salah satu ucapannya dalam ceramah, dinilai telah melecehkan agama.

Terapkan dakwah gaul untuk merangkul anak muda

Rangkul kaum muda dalam ceramahnya [sumber gambar]
Sebagai seorang Da’i muda, Evie Effendi kerap tampil beda saat berdakwah. Alih-alih menggunakan sorban dan gamis, ia memilih berpakaian santai dan kasual namun masih tertutup. Bukan tanpa alasan. Ia memilih demikian karena menyasar komunitas anak muda sebagai target dakwahnya. Terbukti, ia kini populer sebagai Ustadz kekinian. Gapleh alias gaul tapi soleh.

Setiap orang berhak menentukan jalan hidupnya di masa depan. Entah itu berakhir dengan kebahagiaan atau malah mendatangkan kehancuran, semua da di tangan masing-masing. Sama seperti kisah Evie Effendi di atas. Kita pun berhak memilih jalan yang terbaik. Meski masa lalu pernah bergelimang dosa dan maksiat.