Kerasnya kehidupan di DKI Jakarta banyak memunculkan sisi lain dari dunia ‘bawah tanah’ yang tak banyak diketahui oleh banyak orang. Premanisme, dunia malam, hingga peredaran obat-obatan terlarang, adalah potret dari kelamnya dunia tersebut. Salah satu tokohya adalah Umar Ohoitenan alias Umar Kei, yang baru-baru ini dikabarkan tengah terjerat kasus soal obat-obatan terlarang.

Dilansir dari news.detik.com, pria yang juga menjadi tokoh pemuda Maluku itu harus berurusan dengan polisi setelah diamankan saat tengag mengadakan pesta sabu di sebuah hotel. Tak hanya soal penyalahgunaan narkotika, sepucuk pistol revolver pun disita dari tangannya. Sebagai sosok yang disegani di ibu kota, rekam jejak Umar Kei begitu kentara dan berwarna. Lantas, bagaimana sepak terjangnya di lapangan?

Anggota pemuda Maluku yang menjadi pengusaha jasa keamanan

Datang merantau ke kota besar seperti DKI Jakarta, Umar Ohoitenan alias Umar Kei kala itu tergabung dalam kelompok pemuda asal Pulau Kei, Maluku. Tak hanya sekedar menjadi anggota, dirinya merupakan pentolan yang disegani. Sebelum Umar Kei, komunitas pemuda Maluku ini awalnya dipopulerkan oleh John Refra alias John Kei sejak tahun 1990-an.

Ketua Front Pemuda Muslim Maluku yang disegani di Jakarta [sumber gambar]
Selain kedua Pemuda Kei di atas, masih ada sosok bernama Daud Kei yang merupakan ketua Angkatan Muda Kei (AMkei). Meski tampak terkotak-kotak dan berbeda kelompok, baik Umar, Jhon dan Daud saling menjaga satu sama lain karena ketiganya berasal dari satu daerah yakni Pulau Kei, Maluku. Di Ibu kota, Umar merintis karirnya sebagai pengusaha jasa keamanan.

Dirikan organisasi FPMM dan dekat dekat dengan salah satu partai besar Tanah Air

Jasa pengamanan milik Umar memberikan beberapa pelayanan pada konsumennya, seperti mengawal orang, menjaga lahan sengketa hingga menagih hutang. Sempat dijalankan tidak resmi, ia pun mendirikan perusahaan legal PT Dimida Mitra Mandiri yang berkantor di kawasan Cibubur pada 2007. Resminya, usaha Umar ini menyediakan tenaga sekuriti kantor, parkir, atau mal hingga pengerjaan proyek-proyek ringan pemerintah, seperti pengecatan.

Umar Kei yang juga sempat terjun ke dunia politik [sumber gambar]
Persinggungan dirinya dengan dunia politik berawal saat Umar Organisasi Front Pemuda Muslim Maluku (FPMM) buatannya, di mana ia tampak dekat dengan Partai Gerindra sejak 2014 lalu. Dilansir dari metro.tempo.co, Umar merupakan pasangan Prabowo Subianto – Hatta Rajasa pada Pemilihan Presiden 2014, dan pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang diajukan oleh Gerindra pada Pilkada 2017.

Ditangkap polisi karena pesta sabu hingga kepemilikan senjata api

Sayang, kiprahnya di dunia politik dan bisnis haru tercoreng lantaran Umar tertangkap oleh polisi saat melakukan pesta sabu-sabu di salah satu hotel. Tak sendiri, empat rekannya juga ikut diamankan. Dari tangan pria yang sempat menjadi calon legislatif dari partai berlambang beringin itu pada Pileg 2019 itu, polisi menemukan lima paket sabu dan juga sepucuk senjata api jenis revolver.

Umar Kei ditangkap polisi karena kasus sabu-sabu [sumber gambar]
Akibatnya, Umar pun dikenai dua pasal sekaligus, di mana salah satunya cukup memberatkan dirinya. Dilansir dari metro.tempo.co, ia dijerat dengan Pasal 112, 114, 132 Undang-Undang Narkotika serta Undang-Undang No 12/DRT tahun 1951 soal kepemilikan senjata api. Untuk kepemilikan senjata, Umar Kei terancam hukuman minimal 20 tahun penjara dan maksimal hukuman mati.

BACA JUGA: Kisah John Kei, Preman Gahar Sang ‘Godfather of Jakarta’ yang Kini Menempuh Jalan Kebenaran

Kota besar seperti DKI Jakarta memang selalu penuh kisah yang seolah tiada habisnya untuk diceritakan. Terlebih jika menyangkut seorang tokoh besar yang memiliki pengaruh besar seperti sosok Umar Kei di atas. Sementara proses hukum berjalan, mudah-mudahan Umar Kei bisa mengubah sikap dan bertaubat atas kesalahannya. Kita doakan ya Sahabat Boombastis.