Sebagai negara yang dikenal dengan sumber daya alamnya (SDA) melimpah, Indonesia memiliki banyak tanaman yang bisa dikembangkan sebagai bahan pangan selain beras. Salah satunya adalah sorgum, sejenis gandum yang dapat bertahan hidup di wilayah yang beriklim tropis dan sub-tropis.

Sayang, keberadaan sorgum kerap dilewatkan dan sangat jarang dibudidayakan dengan serius. Padahal jika dikembangkan dengan benar, tanaman tersebut bisa menjadi alternatif pengganti beras dan jagung dan berbuah bisnis yang menguntungkan. Seperti apa bentuknya, simak ulasan Boombastis berikut ini.

Mudah dibudidayakan di tempat kering

Sorgum termasuk tanaman yang tidak sulit untuk dibudidayakan. Sebelum memulai proses penanaman, bibit sorgum bisa dijemur terlebih dahulu selama seminggu sambil mempersiapkan lahan yang digemburkan dengan cara dibajak atau dicangkul. Setelah siap, barulah sorgum ditanam.

Tanaman sorgum yang mudah dibudidayakan [sumber gambar]
Setelah ditanam, sorgum kemudian diberi air dan pupuk tiap 15 hari sekali. Setelah mencapai usia 45 hari, sorgum siap dipanen ketika bakal biji atau kulit buah menjadi hitam dan pecah hingga terlepas. Tak seperti tanaman tropis kebanyakan, sorgum mampu dibudidayakan di daerah kering yang memiliki curah hujan rendah.

Memiliki kandungan gizi yang tinggi

Biji sorgum diketahui memiliki kandungan penting yang dibutuhkan oleh tubuh seperti karbohidat yang terbagi pada tiga zat, yakni pati, serat dan gula terlarut (di antaranya adalah glukosa, sukrosa, maltosa, dan fruktosa). Protein yang dimilikinya pun seimbang dengan jagung.

Biji sorgum yang bernilai gizi dan protein tinggi [sumber gambar]
Uniknya lagi, sorgum termasuk tanaman gluten free diet atau tanpa gluten seperti pada kebanyakan tepung terigu. Hal ini justru menjadi kelebihan dari sorgum sendiri. Mengingat, banyak negara-negara maju tengah menggalakkan tren gerakan gluten free diet, yakni mengurangi konsumsi gluten untuk hidup lebih sehat.

Sorgum dapat menjadi bisnis yang menguntungkan

Melihat potensi yang ada, sorgum dapat dijadikan sebagai lahan bisnis di bidang pertanian yang menguntungkan. Seperti permintaan yang ada di luar negeri, sasaran konsumennya adalah mereka alergi dengan protein gluten sehingga sesuai dengan sorgum yang memang gluten free.

Ilustrasi sapu dari bahan sorgum [sumber gambar]
Tak hanya dalam bentuk makanan, sorgum juga bisa diolah dalam bentuk lain berupa sapu (broom sorghum). Seperti Bambang Triono, perajin asal Purbalingga yang mengaku kewalahan memenuhi permintaan buyer di Korea Selatan. Selain di Purbalingga, produsen sapu sorgum berada di tiga lokasi lain yakni di Kota Tegal, Gamping Yogyakarta, dan Bogor.

Kisah sukses dari mereka yang berhasil menanam sorgum

Banyak dari mereka yang membuktikan kesuksesannya menanam sorgum. Salah satunya adalah Muhammad Bayu Hermawan yang mengolah sorgum menjadi oleh-oleh khas lombok, yakni cookies sorghum. Berkat upaya keras pemuda asal Kalimantan Selatan itu, tanaman yang sebelumnya tak banyak dikenal tersebut perlahan mulai diketahui masyarakat.

Bayu Hermawan (baju kota-kotak) membawa sorgum dan produk jadi [sumber gambar]
Dilansir dari Trubus (01/12/2018), Bayu juga menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan rintisan (startup) di bidang makanan. Alhasil, cookies sorghum-nya kini telah merambah hingga Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Dengan inovasi yang ada, sorgum terbukti bisa menjadi bisnis yang menguntungkan.

BACA JUGA: Begini Cara Tanam Cabai Merah Sendiri di Rumah, Bisa Dijual dan Hasilkan Ratusan Ribu!

Melihat potensi yang ada, Sorgum yang dikembangkan dengan serius dapat menjadi sebuah potensi bisnis yang menguntungkan. Tak hanya soal ekonomi, tanaman ini juga bisa menjadi sarana dan tonggak menuju ketahanan pangan nasional sebagai alternatif di samping beras dan jagung. Mudah-mudahan semakin berkembang ya Sahabat Boombastis.