Semakin ke depan, teknologi yang dihasilkan oleh manusia terus bertambah canggih. Tak hanya sekedar menciptakan robot berbalut logam yang cerdas, tapi juga mulai merambah dunia genetika dengan melahirkan sebuah jenis makhluk yang baru. Tak kepalang tanggung, sebuah proyek bernama chimera diluncurkan untuk mewujudkan hal tersebut. Meski demikian, hal ini di kemudian hari justru menjadi sebuah kontroversi.

Dilansir dari Vice, chimera adalah sebutan untuk makhluk mengandung sel dari dua atau lebih spesies berbeda. Sederhananya, proyek tersebut ingin membuat percobaan penggabungan antara DNA milik manusia dengan hewan. Meski terdengar tidak masuk akal, toh penelitian tersebut telah dilakukan oleh beberapa negara seperti Jepang, China, Amerika Serikat dan Spanyol. Penasara ya Sahabat Boombastis, kira-kira seperti apa ya proyeknya?

Proyek ‘nyeleneh’ yang telah dilakukan oleh banyak negara

Kata chimera berasal dari pelafalan Yunani kuno yang mengacu pada makhluk gabungan naga-kambing-singa. Beranjak di era modern, nama hewan mitos ini digunakan oleh ilmuwan untuk meneliti kemungkinan adanya penggabungan dari dua jenis DNA dari dua organisme berbeda. Alhasil, proyek chimera telah banyak dilakukan sejak dekade 80-an dengan beberapa hasil yang memukau.

Dilansir dari Vice, China bahkan menjadi salah satu negara yang berhasil mewujudan hal tersebut. Dalam penelitiannya, mereka sukses menciptakan jenis baru chimera berwujud embrio monyet yang mengandung sel-sel manusia. Sayang, terobosan sains ini kemudian meresahkan komunitas ilmiah karena adanya potensi pelanggaran secara etika. Selain China, ada Jepang dan tim ilmuwan Amerika Serikat hingga Spanyol juga bekerjasama melahirkan chimera-nya sendiri

Persilangan Chimera yang merupakan hasil rekayasa genetika

Tim ilmuwan Salk Institute di AS dan Murcia Catholic University (UCAM) asal Spanyol, kemudian bekerjasama dalam proses penciptaan chimera. Diketuai oleh Profesor Juan Carlos Izpis├║a Belmonte, kelompok ini menggunakan genetika sel-sel embrio seekor monyet yang diedit sehingga berhenti berkembang. Kemudian, sel punca milik manusia dimasukkan ke dalam embrio hewan primata tersebut.

Sebelumnya, pengujian dilakukan dengan menggunakan embrio babi dan domba namun gagal. Menurut Alejandro De Los Angeles selaku peneliti di Fakultas Psikiatri di Yale University mengatakan, proyek chimera kemungkinan besar akan digunakan untuk memahami proporsi terbaik sel-sel manusia dan hewan. Itu artinya, percobaan yang ada bisa menjadi sebuah informasi sebagai dasar untuk menciptakan organ buatan demi keperluan transplantasi.

Etika dari eksperimen chimera yang menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan

Di Jepang, ilmuwan Hiromitsu Nakauchi, dari Universitas Tokyo dan Stanford, telah membiakan sel manusia pada tikus, babi dan bahkan di embrio domba. Tujuannya adalah, memasok organ manusia untuk kebutuhan pencangkokan seperti pankreas. Sama seperti China, percobaan yang melibatkan sel manusia harus dihentikan karena alasan hukum atau kegagalan saat melakukan pengujian.

Ilustrasi penelitian rekayasa genetik chimera [sumber gambar]
Bahkan, sejumlah ilmuwan seperti Profesor Robin Lovell-Badge dari Francis Crick Institute di London menilai, proyek chimera ini membawa persoalan etis. Alasannya sendiri cukup masuk akal, yakni kekhawatiran jika sistem saraf pusat hewan tersebut didominasi sel-sel manusia. Meski demikian, proyek chimera bagi sebagian kalangan ilmuwan memiliki tujuan untuk mengatasi kekurangan donor organ tubuh di dunia. Salah satunya lewat cara memproduksi jaringan dan organ manusia melalui teknik xeno-generation pada percobaan chimera.

BACA JUGA: 10 Makhluk Mitologi Yunani yang Belum Pernah Kamu Lihat Sebelumnya

Ada-ada saja ya Sahabat Boombastis. Enggak kabayang jika DNA manusia harus dicampur dengan sel hewan demi sebuah tujuan untuk menghasilkan jenis makhluk yang baru. Namun jika kebutuhannya ditujukan untuk kesehatan, jelas penelitian ini bakal menjadi lompatan baru di dunia sains. Gimana menurutmu Sahabat Boombastis.