Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan berkompeten di bidangnya, menjadi salah satu kekuatan sekaligus pilar negara yang diharapkan dapat membantu membangun bangsa. Terutama dari mereka yang mengenyam pendidikan tinggi dan lulus sebagai sarjana. Namun, apa jadinya jika ternyata kemampuan yang mereka miliki ternyata tak lebih baik dari lulusan SMA.

Temuan mengejutkan ini datang dari Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro dalam Indonesia Development Forum 2019 (IDF 2019) terkait kualitas tenaga kerja Indonesia. Dilansir dari liputan6.com, ia mengungkapkan bahwa para lulusan sarjana di Indonesia ternyata mempunyai kemampuan setara lulusan SMA di Denmark. “Yang satu lulusan universitas, dapat sarjana, ijazah, yang satu lulusan SMA. Ketika kerja ternyata kualitasnya sama,” ujar Menteri Bambang di JCC.

Ilustrasi acara wisuda sarjana di Indonesia [sumber gambar]
Bukan asumsi belaka, data tersebut berdasarkan laporan dari The Need for a Pivot to Learning: New Data on Adult Skills from Indonesia‘. Di mana isinya menyebut para pemuda Jakarta berusia 25-26 tahun ternyata memiliki kemampuan literasi yang lebih rendah dibandingkan lulusan SMA di Denmark. Seperti yang diketahui, negara di wilayah Eropa Utara tersebut menempati posisi ke-5 tertinggi dalam IPM (Indeks Pembangunan Manusia) di dunia.

IPM atau Human Development Index (HDI) sendiri merupakan engukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. Jika dilihat melalui metode forecast (peramalan), Indonesia diperkirakan baru bisa menyusul pada tahun 2065 kelak. Tentu saja, hal ini bisa dikejar jika mau melihat sistem pendidikan di banyak negara maju, utamanya Denmark.

Ilustrasi sistem pendidikan di Denmark [sumber gambar]
Dalam sistem pendidikan mereka, ada banyak hal yang bisa dipelajari. Pertama, anak-anak yang tengah mempelajari sebuah materi, diedukasi sembari membiarkan mereka bermain. Kedua, Presiden Lego Education Esben Staerk yang dikutip dari edukasi.kompas.com menyebutkan, pihaknya secara terus menerus melakukan kajian dan inovasi pembelajaran, khusunya di bidang sain, teknologi, teknik dan matematika untuk anak-anak usia 3 hingga 16 tahun.

Tentu saja, masalah ini bukan saja menjadi ‘pekerjaan rumah’ bagi pemerintah saja, tapi semua pihak yang terkait dengan dunia pendidikan. Terutama para siswa di dalamnya. Bukan hanya gelar sarjana semata, tapi lebih bagaimana agar para lulusannya dibekali keterampilan atau kompetensi, agar tidak gagap dan siap saat memasuki dunia kerja yang terus berubah mengikuti perkembangan zaman.

Ilustrasi para pencari kerja [sumber gambar]
Bahkan kalau kita lihat di negara maju banyak orang tak punya ijazah, apakah ijazah SMA atau perguruan tinggi, tetapi bisa mendapatkan income yang tinggi. Kenapa? Karena punya sertifikat kompetensi di bidang yang memang dia sangat ahli,” terang Menteri Bambang yang dikutip dari liputan6.com.

BACA JUGA: 11 Hal Inilah yang Membuat Sistem Pendidikan di Kuba Lebih Maju Ketimbang Indonesia!

Dengan adanya fakta yang demikian, langkah selanjutnya adalah dengan mencari solusi yang tepat untuk kemudian diterapkan dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Berdasarkan data yang disampaikan BPS, pengangguran lulusan universitas meningkat 1,13 menjadi 6,31 pada Februari 2018, dari yang sebelumnya 5,18 persen pada 2017. Jadi. sudah saatnya wajah pendidikan di Indonesia berbenah diri dan terus menerus dievaluasi. Semoga tambah baik ke depannya ya Sahabat Boombastis.