Sungguh ironis memang. Di saat masyarakat Indonesia bergembira menyambut perhelatan Asian Games 2018 di Jakarta, warga Kota Pontianak malah tertimpa musibah berupa kabut asap tebal yang menyesakkan dada. Alhasil, Ibukota Kalimantan Barat itu terlihat sesak dan kumuh. Bukan karena sampah dan hal lainnya. Melainkan kualitas udara yang semakin memburuk dari hari ke hari.

Sontak, hal ini pun menuai beragam reaksi dari warganet di dunia maya. Beberapa cuitan di media sosial seperti Twitter, banyak mengeluhkan kejadian ini. Karena dianggap beracun, Dikbud Provinsi Kalbar sampai harus meliburkan sekolah. Sementara yang tidak terkena paparan asap namun tidak masuk kategori bahaya, tetap masuk seperti biasa. Seperti apa peristiwa itu terjadi? Simak ulasan berikut.

Kualitas udara semakin parah dari hari ke hari

Kualitas udara Pontianak yang semakin parah [sumber gambar]
Kabut asap yang terjadi selama sebulan terakhir, menjadi salah satu petaka awal bagi masyarakat Pontianak. Berdasarkan indeks standar pencemaran udara (Ispu) dari BMKG yang dikutip dari regional.kompas.com, kualitas udara di Pontianak telah masuk level berbahaya pada pukul 08.00 hingga 11.00 WIB. Meski sempat terjadi penurunan, kategori udaranya masih tergolong tidak sehat untuk dihirup.

Aktifitas warga tergangggu

Anak sekolah pun terganggu [sumber gambar]
Karena peristiwa tersebut, beberapa aktifitas harian pun harus terganggu. Seperti jam sekolah yang diliburkan, jarak pandang di jalanan yang hanya berkisar 200 hingga 300 meter, hingga gangguan pernapasan yang dialami oleh beberapa warga. Beberapa yang masih nekat berada di jalanan, terpaksa menggunakan masker meski tak banyak membantu. Meski agak pudar saat di siang hari, kabut asap tersebut masih sanggup membuat mata perih. Aktivitas Bandara Supadio pun ikut terganggu karena peristiwa itu.

Penyebab kabut asap di Pontianak

Kebakaran lahan jadi penyebab kabut asap [sumber gambar]
Dilansir dari merdeka.com, kabut asap yang ada disebabkan oleh kebakaran hutan yang semakin meluas. Tak hanya terjadi di Pontianak, api ikut merembet ke sejumlah kabupaten lainnya di Kalimantan Barat. Menurut data yang dikutip dari regional.kompas.com, sejumlah titik panas (hotspot) penyebab kabut asap di Kalimantan Barat berjumlah 331 hotspot. Bahkan pada 16 Agustus 2018 lalu, jumlahnya mencapai hingga 1.061 titik panas.

Tanggapan warganet tentang kabut asap Pontianak

Tanggapan warganet mengenai polusi udara di Pontianak [sumber gambar]
Menanggapi peristiwa kabut asap yang demikian parah, beberapa warganet saling bercuitan diĀ  Twitter untuk saling bertukar informasi. Beberapa di antara mereka bahkan memohon pada Presiden Jokowi untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut. Entah sampai kapan bencana asap ini terus berlangsung. Yang jelas, kabut asap masih menjadi momok bagi warga Pontianak dan sekitarnya.

Kejadian seperti kabut asap di atas, tentu diluar jangkauan kita sebagai manusia yang terbatas ilmunya. Tak ada yang bisa memprediksi bencana dan musibah apa yang bakal terjadi. Kita pun tidak bisa menyalahkan Pemerintah begitu saja. Karena mereka juga mempunyai tenaga dan kemampuan yang terbatas. Bantu do’a supaya segera reda ya Sahabat Boombastis.