Selama ini, Arab Saudi dikenal sebagai negara di kawasan Timur Tengah yang memiliki kebijakan ketat soal peraturan di negaranya. Saking ketatnya, mereka yang dinilai terlalu ‘kritis’ terhadap pemerintah, bakal dibungkam seketika. Hal inilah yang kini dialami oleh Jurnalis senior Arab Saudi, Jamal Khashoggi.

Wartawan yang kerap mengkritisi kebijakan pemerintahan Arab Saudi itu, dikabarkan menghilang setelah memasuki Kantor Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki. Beredar kabar, sang Jurnalis dibunuh secara keji oleh sekelompok orang secara diam-diam. Berita kematiannya pun beredar luas dan memancing reaksi internasional. Lantas siapa sebenarnya Jamal Khashoggi dan mengapa ia dilenyapkan.

Jurnalis yang kenyang dengan asam garam media

Dilansir dari internasional.kompas.com, Jamal Khashoggi memulai karier sebagai seorang jurnalis di sebuah koran berbahasa Inggris, Saudi Gazzete, pada era 1990-an. Hal ini dilakukannya setelah lulus dari Indiana State University, Amerika Serikat jurusan pendidikan Administrasi Bisnis.

Jurnalis yang berpengalaman di media massa [sumber gambar]
Tak lama, ia ia didapuk sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Arab News pada 1999-2003 dan diteruskan di koran Al Watan pada posisi yang sama. Sempat bertahan selama dua bulan di koran tersebut, Khashoggi yang sempat mengundurkan diri kemudian ditarik kembali ke Al Watan dengan jabatan pemimpin redaksi selama tiga tahun.

Dimusuhi dan terancam dihabisi karena terlalu mengkritik kebijakan pemerintah Arab Saudi

Salah satu penyebab kematian Khashoggi, disinyalir berasal dari kritikan tajam kepada pemerintah Arab Saudi melalui tulisan-tulisannya. Tak heran, kenekatannya mempertahankan idealismenya itu akhirnya berbalik mengancam dirinya sendiri. Secara otomatis, Khashoggi pun langsung dicap sebagai musuh negara.

Keberadaanya dinilai mengancam pemerintah Arab Saudi [sumber gambar]
Dilansir dari internasional.kompas.com, tulisan-tulisannya seperti “Yang Paling Dibutuhkan Negara-negara Arab adalah Kebebasan Berekspresi” dan “Putra Mahkota Saudi Arabia Harus Mengembalikan Martabat Negaranya”, dinilai sangat menyudutkan pemerintah negeri kaya minyak itu. Alhasil, Khashoggi memutuskan untuk melarikan diri dan berdiam di Amerika Serikat.

Bekerja dalam senyap di Amerika Serikat

Setelah berada di Negeri Paman Sam, Khashoggi terdaftar sebagai salah seorang kolumnis di media internasional yang berbasis di ibu kota Amerika Serikat, The Washington Post. Dilansir dari internasional.kompas.com, dirinya telah menulis banyak artikel kolom di media tersebut sejak Maret 2018. Setelah Pangeran Mohammed bin Salman melakukan restrukturisasi besar-besaran di dalam tubuh pemerintahan Arab Saudi, Khashoggi termasuk orang yang berpotensi ditangkap atas kritik-kritik tajamnya di media.

Jamal Khashoggi memilih tinggal di Amerika Serikat [sumber gambar]
Dirinya juga telah menulis tiga buah buku, yakni Elaqat Hreja (2002) yang membahas hubungan Arab Saudi-Amerika Serikat pasca-kejadian 11 September 2001, Ihtalal Asuq Asaudi (2013) yang menyinggung tentang ketergantungan Arab Saudi terhadap buruh tenaga asing dan abea Alarab, Zamen Alekhwan (2016) yang membahas tentang musim semi di Arab dan politik Islam.

Menghilang setelah memasuki gedung Konsulat Arab Saudi

Pada 2 Oktober 2018 lalu, Jamal Khashoggi dilaporkan hilang ketika mendatangi gedung Konsulat Saudi di Istanbul, Turki. Kedatangan sang jurnalis itu sejatinya hendak mengurus dokumen pernikahan dengan sang tunangan, Hatice Cengiz.

Gedung konsulat Arab Saudi di Turki [sumber gambar]
Dilansir dari internasional.kompas.com, penyelidik Turki memaparkan bahwa jurnalis berusia 60 tahun itu hilang karena dibunuh. Kelompok eksekutor yang diperkirakan berjumlah 15 orang, beberapa di antaranya merupakan orang-orang berpengaruh di lingkaran pemerintahan Pangeran Mohammed bin Salman.

Dimutilasi diam-diam dan dilarutkan dengan cairan asam khusus

Saat dinyatakan hilang, aparat berwenang Turki mengklaim Jamal di eksekusi di dalam kantor konsulat, berikut dengan barang bukti rekaman audio interogasi hingga pembunuhan. Menurut Al Jazeera yang dikutip dari internasional.kompas.com, jurnalis senior itu dimutilasi bagian tubuhnya hanya dalam waktu 7 menit saja.

Jamal Khashoggi hilang diduga dibunuh [sumber gambar]
Dilansir dari Sky News, aparat Turki berujar, para eksekutor kemudian menyiapkan 15 kantong plastik untuk menaruh potongan tubuh Jamal yang sudah dibunuh. Tak hanya itu, mereka juga menggunakan larutan asam cair yang bereaksi cepat pada daging untuk menghilangkan jejak agar tak mudah ditemukan. Ngeri ya Sahabat Boombastis.

Cepat atau lambat, mereka yang terlibat dalam kasus pembunuhan tersebut akan terkuak ke permukaan. Mungkin, para pembunuh merasa dirinya bisa lolos dari tindakan hukum karena jejaknya tak bisa ditemukan. Yang jelas, peristiwa yang dialami oleh Jamal di atas, merupakan sebuah potret nyata. Betapa pemerintah seolah memiliki kuasa menghilangkan nyawa seseorang yang dianggap tak sejalan dengan kebijakannya.