Kejadian bom bunuh diri yang meledak di tiga gereja Surabaya beberapa waktu lalu, seakan menjadi pertanda bahwa terorisme masih bercokol di bumi Indonesia. Tak hanya menakutkan, kelompok radikal tersebut terhitung masih eksis dan bergerak secara diam-diam di Indonesia. Salah satunya adalah Jamaah Ansharut Daulah atau JAD yang dipimpin oleh Amman Abdurahman. Organisasi inilah yang menjadi kepanjangan tangan ISIS di Indonesia.

Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Jenderal Polisi Tito Karnavian. “Peledakan gereja di Surabaya diduga dipimpin Dita Supriyanto, Ketua JAD Surabaya, yang meledakkan bom di Gereja Pusat Pantekosta Surabaya di Jalan Arjuna,” ujarnya di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim, Surabaya, seperti yang dilansir dari regional.kompas.com. Kelompok ini bahkan secara terang-terangan mengakui bahwa mereka tunduk dan patuh terhadap kelompok ISIS di Timur Tengah. Seperti apa sepak terjang dan keberadaan organisasi JAD di Indonesia ini? Simak ulasan berikut.

Menjadi cabang ideologi ISIS di Indonesia

Pendukung eksistensi ISIS di Indonesia [sumber gambar]
Didirikan pada 2015, JAD yang juga dikenal sebagai Jamaah Anshorut Daulah Khilafah Nusantara (JADKN), pimpinan Bahrun Naim. Ia merupakan WNI yang tinggal di Suriah dan menjadi koordinator ISIS di Indonesia. Kini, kepemimpinan JAD di tanah air sendiri diemban oleh Amman Abdurahman yang mendekam di sel tahanan Mako Brimob. Ideologi ISIS yang mereka gunakan, menjadi alasan pembenaran bagi para anggotanya untuk menyebarkan teror dan paham radikal di tengah-tengah masyarakat.

Artikel Lainnya
Dianggap Tim Lemah, Beginilah Kiprah Menawan Bangladesh yang Sempat Selamatkan Timnas
Lindswell Kwok Jadi Peraih Emas Kedua, 15 Netizen Twitter Ini Ndagel Tentang Dirinya

Menjadi wadah bagi simpatisan ISIS di Indonesia

Jadi pemersatu simpatisan ISIS [sumber gambar]
Nama besar JAD yang dikenal sebagai pendukung ISIS, menjadikan organisasi ini semacam wadah bagi para simpatisan kelompok teroris tersebut. Ratusan orang yang menyatakan setia kepada ISIS, banyak yang bergabung dengan JAD. Hingga pada Januari 2017 lalu, pihak Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) bahkan melabeli JAD sebagai organisasi Indonesia yang memiliki hubungan dengan kelompok teror pimpinan Abu Bakr Al-Bahgdadi yang paling disegani.

Belajar membuat bom secara otodidak

Bom dirakit secara otodidak [sumber gambar]
Bagi mereka yang baru bergabung dengan JAD, hal pertama yang akan diterima adalah membuat bom secara otodidak melalui kursus online. Pelatihan ini diajarkan oleh Bahrun Naim melalui training singkat lewat internet. Dalam komunikasi dan pendanaan, pentolan organisasi tersebut melakukannya lewat sosial media dan transfer antar bank. Dengan begitu, rata-rata anggota JAD telah memiliki keahlian membuat bom secara mandiri dengan berbagai macam bahan dan dukungan finansial.

Miliki teknik cuci otak yang sangat ampuh

Amman Abdurahman dikenal sebagai ideolog ulung [sumber gambar]
Jalur agama menjadi salah satu penyebaran ideologi yang ampuh bagi JAD untuk merekrut anggota. Metode yang digunakan di lapangan dinamakan sebagai penjejalan dakwah. Oleh bahrun Naim, ia merekomendasikan proses cuci otak bisa dijalankan melalui aplikasi Android, eBook dan perangkat digital lainnya. Doktrin yang mereka gunakan adalah Takfiri. Yakni sebuah penanaman pemahaman bahwa segala sesuatu yang bukan berasal dari Tuhan adalah haram. Pelakunya pun langsung divonis sebagai kafir yang halal untuk diperangi.

Mudah dikenali dari ciri dan bahan bom yang digunakan

Ciri-ciri bom yang mudah dikenali [sumber gambar]
Saat beraksi, para anggota JAD sering menggunakan serangan berupa ledakan di keramaian. Salah satunya adalah bom panci yang menghebohkan terminal di Jakarta beberapa waktu lalu. Kelompok ini sangat mudah dikenali dari jenis bahan dan bom yang dibuat. Seperti panci, gunting, mur, tinner pembersih kuku dan peledak BATP yang lazim digunakan oleh ISIS. “Kalau kita lihat dari bom yang digunakan yaitu bom panci, bisa membuat bom dari alat dapur, termasuk bom panci ini bahaya karena memiliki tekanan tinggi. Membuat bom dari alat dapur, bahkan dari gula saja dia bisa membuat bom,” jelas Kapolri Tito Karnavian.

Tak hanya meresahkan masyarakat, keberadaan JAD di Indonesia juga membuktikan bahwa paham radikal yang berujung aksi terorisme masih belum bisa dibasmi secara keseluruhan. Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, ada baiknya jika kita melindungi diri dari paham-paham tersebut. Jadi lebih hati-hati ya Sahabat Boombastis.