Dahulu, Timor-timur pernah bersama-sama menjadi bagian dari NKRI. Namun, sebuah tragedi berdarah membuat pulau yang dijuluki bumi loro sae itu berlepas diri dari pangkuan Indonesia. Kekerasan yang berujung konflik militer, mulai melanda di kawasan tersebut. Di tengah-tengah masyarakat yang ingin merdeka dari NKRI, ada seorang pemuda asli tanah Timor, yang justru gigih agar negerinya tanah kelahirannya tetap menjadi bagian Indonesia.

Pemuda itu bernama Eurico Gutteres. Dengan suara lantang, ia menolak segala bentuk disintegrasi wilayah yang dilakukan oleh orang-orang Pro-kemerdekaan Timor Timur. Alhasil, ia pun dimusuhi dan dicap sebagai pengkhianat oleh orang-orang sedaerahnya. Perjuangannya sangat menarik untuk ditelusuri. Mengingat, ia pernah dijebloskan ke dalam penjara karena kecintaanya yang begitu besar pada Indonesia.

Berawal dari preman kecil-kecilan

Sempat jadi preman kecil-kecilan [sumber gambar]
Terlahir dengan nama Eurico Barros Gomes Guterres, 17 Juli 1974, ia sempat dikirim orang tuanya untuk belajar di sekolah Katolik, Kota Dili. Namun sayang, Eurico tak berhasil menamatkan jenjang SMA dan memilih untuk putus sekolah. Alhasil ia pun memilih menjadi anggota gangster kecil-kecilan. Salah satunya dengan menyediakan jasa perlindungan sebuah bisnis judi bola guling di daerah Tacitolu, Dili.

Sempat masuk penjara dan menjadi agen spionase

Jadi mata-mata pro-Indonesia [sumber gambar]
Pada 1988, Eurico sempat merasakan dinginnya terali besi setelah ditangkap oleh intel Indonesia. Penahanan dirinya karena muncul dugaan pembunuhan terhadap Presiden Soeharto saat berkunjung ke Kota Dili. Dari situ, pemikirannya kemudian berubah dari yang sebelumnya pro-kemerdekaan Timor Timur, menjadi pendukung setia NKRI. Eurico muda pun direkrut sebagai agen informan untuk satuan Kopassus yang berperan ganda terhadap gerakan kemerdekaan. Pada 1990, ia dipecat dari tugasnya tersebut.

Direkrut kembali oleh Prabowo Subianto

Direkrut kembali oleh Prabowo Subianto [sumber gambar]
Karena pengalaman lapangannya yang mengesankan, membuat Prabowo Subianto tertarik dengan sosok Eurico Guteres. Setelah resmi direkrut kembali pada 1994, a dimasukkan ke dalam organisasi Gardapaksi. Kelompok ini mempunyai dua tugas, yakni sebagai wadah penyalur modal untuk meningkatkan bisnis UKM sekaligus informan bagi satuan Pro-militer Indonesia. Sayang, Gardapaksi kemudian terlibat pada serangkaian kejahatan kemanusiaan. Eurico bahkan tersangkut pada kasus pembantaian di Gereja Liquica pada 1999.

Dihukum penjara oleh negara yang diperjuangkannya sendiri

Sempat dipenjara oleh pemerintah Indonesia [sumber gambar]
Atas tindakan pelanggaran HAM yang ia lakukan selama menjabat sebagai Panglima Pasukan Pejuang Integrasi, Eurico Guterres divonis 10 tahun penjara oleh Mahkamah Agung (MA). Oleh Majelis Hakim yang terdiri Parman Soeparman yang beranggotakan Dirwoto, Sumaryo Suryokusumo, Sakir Adiwinata dan Masyhur Effendi, menyatakan bahwa Eurico Guterres terlibat atas kejahatan kemanusiaan di Timor Timur. Tak hanya dirinya, mantan Gubernur Timtim, Abilio Soares juga ditahan karena kasus serupa.

Diputus bebas karena kesalahannya tak terbukti

Akhirnya dibebabskan karena terbukti tak bersalah [sumber gambar]
Setelah diselidiki secara mendalam, Eurico Guteres dinyatakan tidak pernah terlibat dalam kasus kekerasan HAM di Timor Timur. Ia pun diputuskan bebas oleh Mahkamah Agung. MA menilai adanya kecacatan penerapan hukum di tingkat kasasi. Mantan Komandan Milisi Pro Integrasi Aitraka itupun dilepaskan dari belenggu LP Cipinang. Setelah bebas, Eurico Guterres melanjutkan kuliahnya dan aktif sebagai anggota DPW PAN NTT.

Sosoknya yang gigih memperjuangakan Timor Timur agar tidak lepas dari NKRI, patut kita jadikan teladan. Terutama bagi generasi muda saat ini Meski sempat mengalami perlakuan yang menyakitkan dari negara yang ia bela mati-matian, toh ia tetap berbesar hati dan tidak menyimpan dendam. Salut banget ya Sahabat Boombastis.