Dokter tentara, mendengar kata ini mungkin yang bakal tersemat di pikiran banyak orang adalah sosok penyembuh yang khusus menangani para serdadu yang sakit. Secara harfiah mungkin begitu, tapi dokter tentara tidak sesederhana itu. Mereka tidak stay alias berdiam menunggu pasien, melainkan ikut bertempur.

Keberadaan dokter tentara ini luar biasa penting. Di pertempuran, mereka sama sekali tidak tergantikan dan sangat vital. Makanya, di dalam peperangan para dokter ini sering jadi incaran . Menjadi dokter tentara ini juga bisa dibilang susah. Banyak hal-hal berat yang harus dilalui, selain tentunya latihan-latihan ekstrem ala tentara pada umumnya. Berikut fakta tentang dokter tentara.

Dokter Militer harus mengikuti pendidikan khusus

Pendidikan Militer [image source]
Tentu saja  untuk menjadi seorang dokter militer harus memiliki skill yang lebih dari tentara biasa. Dalam medan perang dokter militer bukan hanya harus bertahan dari serangan tentara lawan namun juga harus cepat tanggap saat rekannya membutuhkan bantuan medis. Mereka juga harus mengenali berbagai jenis-jenis obat-obatan yang cocok untuk pasien atau rekan mereka. Di Indonesia setelah seorang perwira diberi pendidikan mengenai ilmu militer umum selama 7 bulan, dia harus melakukan pendidikan khusus untuk medis selama 3-5 bulan. Di sana perwira tersebut akan diajarkan mengenai hal-hal medis serta penerapannya di lapangan.

Mereka adalah sasaran utama dalam perang

Sasaran Utama dalam Perang [image source]
Pada perang dunia pertama seorang dokter militer adalah sasaran utama untuk diserang. Logikanya jika bagian medis sudah dilenyapkan maka tidak akan ada lagi yang dapat menolong pasukan yang terluka sehingga kemungkinan besar pasukan yang terluka akan mengalami kematian. Namun setelah diberlakukannya perjanjian Janewa I, dalam peperangan dilarang melakuan serangan pada pihak medis. Setelah perang dunia kedua serangan pada pihak medis hanya diperbolehkan apabila pihak medis melakukan konfrontasi lebih dahulu.

Melakukan operasi di tengah peperangan

Melakuakn operasi darurat [image source]
Sebagai seorang dokter dalam melakukan operasi pastinya dibutuhkan sebuah ketenangan. Namun bayangkan bila kamu harus melakukan operasi penyelamatan medis di saat suara granat dan peluru mendesing di sekitarmu. Seorang dokter Militer harus dituntut profesional dalam hal ini tidak peduli bagaimana keadaan sekitarnya dia harus melakukan langkah medis untuk rekannya yang terluka. Jika kamu seorang tentara maka merekalah sosok yang paling rindukan daripada istri ketika itu.

Mereka jarang sekali merasakan liburan

Harus siap siaga[image source]
Sebagai satu-satunya kelompok yang tahu tentang ilmu medis dalam militer, tentu peran mereka sangat vital . Mereka harus tetap siaga kapanpun mereka dibutuhkan. Hal itulah yang membuat mereka sangat jarang sekali merasakan liburan. Sama seperti dokter biasa, mereka juga mendapatkan jam jaga namun berbeda dengan tentara biasa, tugas mereka adalah melakukan pemeriksaan, perawatan dan pengobatan terhadap pasien mereka. Biasanya mereka ditempatkan di pos atau di rumah sakit militer. Bahkan mereka harus bertugas menjadi relawan bila ada bencana alam atau pun peperangan.

Meskipun bertugas di rumah sakit, susaana militer masih tetap terasa

Nuansa TNI terasa sangat kental [image source]
Mereka telah dididik dengan kedisiplinan pada saat pelatihan. Oleh karena itu jangan pernah kaget bila kamu akan sering mendengar kata “Siap!”, “laksanakan”, dan kata-kata berbau militer lainnya saat. Bagi kita orang awam hal tersebut pasti terdengar sangat aneh karena karena berada diluar area militer. Hal ini lumrah dilakukan oleh mereka, meskipun dinasnya di rumah sakit umum.

Sniper boleh dikenal dengan kemampuan bidiknya, tentara serbu pun dikagumi karena keahlian bertempurnya. Tapi, yang lebih sangar tentu dokter tentara. Mereka tak hanya mampu bertempur tapi juga melakukan tugas pengobatan. Ketika seorang pasukan hanya punya satu tanggung jawab saya, para dokter tentara punya dua kewajiban. Bertempur dan membuat rekannya tetap hidup.