Mungkin, tak ada pasukan sekejam dan sebuas Depot Speciale Troepen (DST) yang dicatat dalam sejarah kelam perjalanan bangsa Indonesia. Kelak, unit baret hijau inilah yang memunculkan nama Raymond Paul Pierre Westerling sebagai pelaku pembantaian paling keji Sulawesi Selatan pada 5 Desember 1946.

Tak hanya menjadi sejarah kelam bagi Indonesia, sepak terjang yang dilakukan DST bersama Westerling juga menjadi catatan hitam sejarah militer Belanda. Sebagai pasukan elit pilihan, DST yang kelak berubah menjadi KST, memang dikenal handal dan haus darah saat berada di medan pertempuran. Seperti apa sosoknya? Simak ulasan berikut.

Berawal dari Korps Insulinde yang berlaga di medan Perang Dunia II

Ilustrasi Korps Insulinde [sumber gambar]
Cikal bakal unit DST berawal dari Korps Insulinde—yang berdiri pada 1 Agustus 1942 di Srilangka, yang bertugas melaksanakan operasi khusus ke bekas daerah Hindia Belanda yang kala itu diduduki Jepang. Dalam Het Koninkrijk der Nederlanden in de tweede wereldoorlog: Voorspel (1986), Korps Insulinde berkembang dan berganti nama menjadi Depot Speciale Troepen (DST), tak lama setelah balatentara Dai Nippon menyerah.

Dipimpin oleh Westerling dan banyak diisi oleh pribumi asli Indonesia

Ilustrasi pasukan pribumi DST [sumber gambar]
Dikenal lewat baret hijaunya, DST ternyata banyak diisi oleh pribumi lokal Indonesia sebagai prajuritnya. Tulisan Jaap de Moor dalam bukunya, Westerling’s oorlog: Indonesië, 1945-1950 (1999: 175) menyebut, “Pada 5 November, Westerling menerima perintah untuk melapor di Batujajar dan mengambil alih DST” (hlm. 175). Juga menurut Gert Oostinde dan kawan-kawan dalam Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950; Kesaksian Perang pada Sisi Sejarah yang Salah (2016: 9), unit itu disebut sebagai pribumi: orang-orang Jawa, Maluku atau Ambon, Manado dan Madra.

Dikenal kerap bertindak kejam dan semaunya di lapangan

Ilustrasi pasukan Depot Speciale Troepen [sumber gambar]
Tulisan Robert Bridson Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949 (2010: 89), mungkin menyibak sedikit perilaku kejam DST pada rakyat Indonesia pada masa itu. “Anggota Batalyon mengendarai truk berkeliling kota seraya menyanyikan lagu-lagu Belanda sambil melepaskan tembakan liar. Mereka dengan gembira memukuli setiap rakyat yang menunjukkan atribut Republik di tempat-tempat umum,” tulis Cribb (hlm. 88) yang dikutip dari Tirto.

Menjadi pelaku pembantaian massal di Sulawesi Selatan

Ilustrasi pembantaian di Sulawesi Selatan oleh Westerling [sumber gambar]
Kekejaman DST yang paling diingat hingga kini adalah, peristiwa pembantaian keji yang terjadi di Sulawesi Selatan. Menurut Andi Mattalata dalam Meniti Siri Dan Harga Diri: Catatan Dan Kenangan (2003: 371), Westerling datang ke sana pada 5 Desember 1946 dengan kekuatan 123 prajurit. Diperkirakan ribuan orang Indonesia terbunuh saat pasukan ini beraksi di bawah perintah Westerling.

Unit pasukan yang berubah menjadi KST hingga RST

Ilustrasi DST yang akhirnya berubah menjadi RST [sumber gambar]
Di kemudian hari, pasukan baret hijau DST ini berkembang menjadi Korps Speciale Troepen (KST). Saat itu, Westering yang berpangkat Kapten masih dipercaya untuk menjadi pimpinan. Namun setelah diganti oleh Letnan Kolonel Borghouts, Jaap de Moor menulis bahwa KST dan kompi para (penerjun) digabung menjadi Resimen Speciale Troepen (RST) pada bulan Juli 1949.

BACA JUGA: Inilah Raymond Westerling, Pembantai di Indonesia yang Akhirnya Tidak Pernah Diadili

Kekejaman pasukan DST di atas akan selalu dikenang dari generasi ke generasi. Hal tersebut sekaligus membuktikan, bahwa penjajahan atas sebuah bangsa pasti akan menimbulkan peristiwa kelam, berupa hilangnya nyawa dari mereka yang menjadi korban. Semoga kita bisa belajar dan memetik hikmah dari peristiwa masa lalu yang telah terjadi.