in

Efek Gawat Jika Lockdown karena Corona Dilakukan, Hambat Aktivitas Hingga Ancam Ekonomi

Mewabahnya virus corona di beberapa negara dunia ternyata mendatangkan dampak yang serius. Salah satunya adalah diberlakukannya status lockdown (penguncian) yang berarti melarang kegiatan apapun demi mencegah semakin masifnya penyebaran virus corona. Dilansir dari Liputan6.com (14/03/2020), kota Filipina, Manila, di-lockdown untuk mengantisipasi tersebarnya virus corona.

Untuk Indonesia sendiri, adanya usulan untuk lockdown bagi wilayah Jakarta kini tengah jadi perbincangan hangat. Terlebih, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dikabarkan tengah mempertimbangkan pilihan tersebut. Meski sekilas tampak sepele, ternyata lockdown memiliki dampak besar jika dilakukan.

Adanya potensi terjadi krisis ekonomi jika Jakarta diisolasi

Salah satu dampak dari adanya lockdown adalah sisi ekonomi yang diperkirakan bakal ‘terpukul’ dengan keras. Menurut Peneliti ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira, dirinya memprediksi bahwa hal tersebut bisa membuat ekonomi Indonesia kolaps dan memicu krisis ekonomi.

Terlebih, DKI Jakarta adalah pusat dari kegiatan-kegiatan penting yang menjalankan kehidupan negara. Beberapa di antaranya berhubungan dengan ekonomi. “70% uang juga berputar di Jakarta, ada bursa efek, ada bank sentral. “Indonesia bisa krisis karena lockdown di Jakarta,” ucap Bhima yang dikutip dari Finance.detik.com (16/03/2020).

Warga kesulitan untuk menjalankan aktivitas seperti biasanya

Dampak jika lockdown diberlakukan di Jakarta juga tak hanya berpengaruh pada sektor perekonomian, tapi juga menimbulkan masalah sosial. Salah satu bentuknya adalah sulitnya bagi warga untuk menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Salah satunya adalah kurang maksimalnya kinerja transportasi massal untuk melayani kebutuhan publik.

Seperti yang terjadi baru-baru ini, adanya antrean panjang yang mengular karena adanya kebijakan pemangkasan jam operasional MRT, LRT dan TransJakarta. Tak hanya itu, jalur operasionalnya pun juga dipangkas. Alhasil, penumpukan penumpang pun terjadi dan banyak dari mereka mengeluhkan sedikitnya jumlah bus yang beroperasi.

Menggerus pendapatan para pekerja yang ada di lapangan

Bagi mereka yang mendapat kelonggaran untuk bekerja di rumah seperti para pegawai di kantor pemerintahan, tentu tak bakal dirasakan oleh mereka yang mencari nafkah di jalanan. Jika lockdown diterapkan, penghasilan para pekerja di sektor informal seperti driver ojek online (ojol) akan berkurang karena mereka beraktivitas di luar ruangan.

Ilustrasi driver ojek online [sumber gambar]
Tak hanya itu, mereka yang berprofesi seperti buruh pabrik dan lainnya yang mengandalkan pendapatan secara harian, juga bakal merasakan dampak negatif jika seandainya lockdown diberlakukan. Jika tidak ada solusi yang mengakomodir jalan keluar bagi mereka, tentu dikhawatirkan akan menimbulkan gejolak sosial yang serius.

Memiliki efek besar yang bakal dirasakan oleh para pemilik usaha

Efek jika seandainya lockdown diterapkan juga bakal membuat pemilik usaha kelabakan. Jika para buruh di sektor informal pendapatannya berkurang siginifikan, mereka yang menjalankan bisnis secara mandiri bakal merasakan hal yang sama. Bedanya, omset penjualan yang berkurang karena turunnya intensitas belanja dan kunjungan dari pembeli.

Seperti cuitan dari akun Twitter @steyapo, merebaknya virus corona membuat tokonya menjadi sepi. Efeknya pun berimbas pada turunnya penjualan dibanding sebelum-sebelumnya. “Ini adalah perjuangan untuk toko kecil kami bulan ini. Penjualan telah turun cukup signifikan dibandingkan bulan lalu. Dapat dimengerti karena orang akan menghabiskan lebih banyak uang untuk barang-barang penting,” begitu arti cuitnya jika diterjemahkan pada Minggu, (15/03/2020).

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tak menerapkan kebijakan lockdown

DKI Jakarta memang menjadi wilayah yang paling banyak memiliki pasien yang positif corona. Meski demikian, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menerangkan bahwa Ibu Kota tidak mengambil langkah lockdown (penguncian). Meski demikian, dirinya menghimbau masyarakat agar mengurangi kegiatan yang berada di luar ruangan.

“Jakarta tidak melakukan lockdown. Kami memberikan seruan kepada seluruh masyarakat, sebisa mungkin mengurangi kegiatan di luar rumah kecuali yang urgen. Belanja kebutuhan pokok, harus ada pemeriksaan medis, atau kebutuhan-kebutuhan penting lainnya. Bila tidak penting, bila tidak produktif, di rumah dulu,” ucap Anies yang dikutip dari Liputan6.com (15/03/2020).

BACA JUGA: Indonesia Positif Virus Corona, Begini Paniknya Masyarakat demi Antisipasi Wabah Tersebut

Dampak yang ditimbulkan oleh adanya lockdown memang tak hanya soal kesehatan semata. Ada hal lain seperti dari sisi sosial dan ekonomi yang juga bakal terkena imbasnya terkait dengan hal tersebut. Pemerintah harus cepat dan tanggap untuk menangani masalah semacam ini. Terlebih, virus corona kini telah berstatus sebagai pandemik global. Bukan tidak mungkin wacana lockdown diberlakukan.

Written by Dany

Menyukai dunia teknologi dan fenomena kultur digital pada masyarakat modern. Seorang SEO enthusiast, mendalami dunia blogging dan digital marketing. Hobi di bidang desain grafis dan membaca buku.

Leave a Reply

Kisah Sugianto Sabran, Sempat Jualan Es Lilin hingga Kini Sukses Jadi Gubernur Kalteng

Bantu Pasien Corona, Deretan Public Figure Dunia Ini Beri Sumbangan Miliaran Rupiah