Jika dilihat dari iklimnya, Indonesia adalah negara beriklim tropis yang hanya mempunyai dua musim: hujan dan kemarau. Namun, uniknya Indonesia sendiri memiliki salju abadi yang disebut sebagai salah satu keajaiban dunia di bumi khatulistiwa. Salju abadi ini terletak di tanah Papua. Untuk mencapainya pun dibutuhkan perjuangan ekstra, yang tak semua orang bisa mencapainya.

Namun, belakangan ini kabar tentang pegunungan yang diselimuti oleh salju ini kian memprihatinkan. Hal ini diungkap oleh salah satu pendaki dari Tim 7 Summit Expedition, Iwan Irawan. Dirinya mengatakan bahwa puncak-puncak yang disebut sebagai keajaiban tersebut bisa saja habis beberapa tahun mendatang, seperti dilansir dari merdeka.com.

Salju abadi Puncak Jaya [Sumber gambar]
Pada 2008, Tim 7 Summit Expedition melakukan pendakian, hasilnya sudah sekitar salju abadi telah hilang sepanjang 200 meter dari lidah gletser di Puncak Cartensz. Semakin menipisnya salju ini sendiri tak lain karena iklim panas yang semakin ekstrem dan efek rumah kaca. Suatu saat mungkin bukan hanya menipis melainkan hanya menjadi cerita bagi anak cucu kita saja, alias hilang tanpa bekas.

Pendapat lain juga dikemukakan oleh Ahli Iklim dan Laut Indonesia Dwi Susanto, dari University of Maryland, Washington DC, Amerika Serikat. Ia mengatakan bahwa apa yang dikhawatirkan mengenai mencair dan habisnya salju di puncak jaya boleh jadi memang terwujud satu saat nanti. Dirinya sendiri sudah pernah melakukan penelitian bersama ilmuwan Amerika. Hasilnya, gunung tertinggi di Indonesia tersebut memang telah banyak berubah sejak tahun 1960.

Medan menuju puncak abadi [Sumber gambar]
Nah, menurut Dwi sendiri percepatan mencairnya es di puncak pegunungan ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kondisi panasnya iklim di laut pasifik yang menjadi pemicu salju abadi menipis dari masa ke masa. Hal ini justru sebenarnya telah terpantau sejak lama. Salju abadi di bumi Papua sendiri ada di empat puncak, yaitu Puncak Jaya Wijaya, Puncak Sumantri Brodjonegoro, Puncak Mandala, dan Puncak Carstensz Timur. Semuanya hampir mengalami penipisan.

Selain Iwan Irawan dan Dwi, Dodo Gunawan, mantan Kepala Bidang Penelitian Iklim dan Kualitas Udara (BMKG) juga pernah mengambil sampel salju ini untuk diteliti. Hasilnya, kandungan tertua es di Puncak Jaya hanya mendapati inti es tahun 1920. Tak ada kandungan es ribuan tahun seperti yang diharapkan karena es yang sudah mencair cukup lama.

Puncak yang kian menipis saljunya [Sumber gambar]
Ya, menghilangnya es ini adalah dampak dari pemanasan global. Untuk mencegahnya, tentu harus ada upaya untuk menanggulangi pemanasan global, seperti stop pembakaran sampah secara berlebihan, lebih bijak dan tak berlebihan menggunakan energi listrik, serta memelihara hutan tetap hijau. Mari kita jaga bumi dengan memulai dari diri sendiri Sahabat semua.