Akses jalan adalah salah satu infrastruktur wajib yang menjadi kunci serta nyawa suatu daerah. Adanya jalan yang layak membuat warga juga semangat beraktivitas. Namun, di beberapa daerah di Sumatera Selatan, akses jalan menuju desa masih sangat memprihatinkan. Lubang di sana sini, jalan masih tanah merah –yang jika hujan tak ada bedanya dengan kubangan kerbau.

Berbagai macam aksi protes yang disuarakan oleh masyarakat selama ini tak begitu didengarkan oleh pemerintah. Hal inilah yang membuat sekelompok pemuda di Batumarta, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan protes. Hanya, bukan melalui orasi, demo, serta mendatangi kantor instansi pemerintah. Mereka protes secara halus melalui foto-foto yang disebarkan di akun media sosial masing-masing.

Postingan dari akun instagram Robby Ari Sanjaya [Sumber gambar]
Foto-foto ini diunggah oleh akun as_robby milik Robby Ari Sanjaya. Bersama beberapa temannya, ia mengunggah potret jalan-jalan rusak dengan cara yang unik. Mereka berpose di sekitar jalan yang rusak, mulai dari duduk santai sambil membaca koran, memancing, adegan jatuh dari motor, sampai nongkrong manjah.

Tak cukup sampai di situ, beberapa slide lain memperlihatkan perempuan yang tertawa sambil berkubang di lumpur, berpose bagai model di jalan rusak yang terisi air cukup tinggi. Cara ini sebenarnya adalah ungkapan rasa kesal dengan cara yang kreatif. “Jalanan itu memang sudah lama rusak. Sudah lama tidak diperbaiki pemerintah setempat,” ujar warga setempat yang bernama Syakirin Edo Lugan, melansir dari detik.com.

Pose di kubangan lumpur [Sumber gambar]
Menurutnya, cara tersebut ditempuh karena selama ini pemerintah tak kunjung memperhatikan kondisi rusaknya akses jalan, sementara warga sudah sangat kesal. Sang fotographer, Robby Ari Sanjaya mengungkap bahwa foto tersebut juga diunggah ke facebook pada 25 Februari yang lalu, dengan caption “jalan ku sayang jalanku berlubang”.

Dengan uggahan seperti itu, besar harapan, semua titik kerusakan di beberapa wilayah semoga bisa diperbaiki. Jalan yang menjadi objek fotography di atas sebenarnya adalah jalan utama yang digunakan petani untuk bekerja, mengantar anak sekolah, serta ke pusat perbelanjaan. Jika tak segera diperbaiki, maka masalahnya akan semakin runyam. Karena, selain rusak, jalan juga rawan kecelakaan dan kejahatan.

Bersantai di jalan yang berlubang [Sumber gambar]
Melansir rri.co.id, pemerintah telah menanggapi protes sekelompok anak muda tersebut. “Kami anggap itu sebuah kreatifitas saja. Tidak ada niat kami mau marah, mungkin mereka ingin tahu apa jawaban Pemerintah. Kami memperbaiki ada proses, tidak bisa main tunjuk saja terkecuali bencana alam dapat segera dilakukan. Tapi ini kan sifatnya pemeliharaan,” ujar Herman Deru selaku Gubernur Sumatera Selatan.

Kreativitas tanpa batas [Sumber gambar]
Sebenarnya, jalan rusak ini ada di 17 kabupaten di Sumatera Selatan, termasuk Tanjung Bali (yang sudah hampir 10 tahun belum diperbaiki), Tanah Abang-Pinggap, Sungai Napal, Lubuk Buah, serta beberapa titik lain. Untungnya, respons pemerintah cukup tanggap kali ini. Mereka mengatakan bahwa telah menyiapkan dana sebesar Rp.500 miliar untuk perbaikan jalan provinsi pada alokasi anggaran tahun 2019. Proses perbaikan saat ini sedang dalam tahap pra tender, perbaikan jalan rusak akan segera dilaksanakan pada bulan April 2019.

BACA JUGA: Dilema Hidup Masyarakat Pedalaman Sumatra, Masih Terisolasi di Tengah Kemajuan Zaman

Semoga hal ini memang bukan hanya manis ucapan belaka ya, tetapi juga diwujudkan dengan real. Sehingga masyarakat yang ada di daerah-daerah terpencil dengan akses jalan bak kubangan kerbau bisa sekolah, belanja dan bekerja dengan lancar tanpa takut nyemplung ke dalam lumpur dan licak.