Jagad media sosial Indonesia sempat heboh dengan keberadaan akun Alpantuni yang kontennya dianggap meresahkan masyarakat Indonesia. Dilansir dari laman tekno.kompas.com, isi yang diunggahnya berupa komik yang menceritakan seorang laki-laki gay Muslim yang taat beribadah.

Karena banyaknya laporan publik untuk segera menutup akun tersebut, pihak Instagram yang digunakan oleh Alpantuni dalam mendistribusikan konten-kontennya, akhirnya resmi diblokir. Kejadian semacam ini, mengingatkan kita pada fenomena banyaknya akun media sosial yang tidak digunakan secara bijaksana di indonesia. Di mana dunia digital sejatinya akan terus merekam jejak yang kita tinggalkan di dalamnya.

Komik Alpantuni di Instagram yang meresahkan [sumber gambar]
Seperti akun Alpantuni yang disinggung di atas, keberadaannya dianggap meresahkan karena menyebarkan pemikiran-yang oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, dianggap menyalahi aturan agama dan adat ketimuran. Tak hanya berlaku untuk akun-akun semacam Alpantuni di atas, tapi juga mereka yang kesehariannya tak lepas dari sosial media.

Karena sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, tak jarang unggahan yang dianggap tak bermasalah untuk menjadi konsumsi publik, malah menjadi bumerang bagi pemiliknya sendiri. Terlebih, keberadaan UU ITE yang telah diberlakukan sempat menjaring beberapa pihak ke ranah hukum karena kontennya yang dinilai menyalahi undang-undang yang ada. Contohnya adalah kasus ujaran kebencian yang menjerat artis Ahmad Dhani.
jika ditelaah lebih jauh, tidak bijaksana saat menggunakan sosial media justru dapat merugikan diri kita sendiri.

IIustrasi jejak digital [sumber gambar]
Menurut Direktur Pengelolaan Media Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Sunaryo yang dikutip dari cnnindonesia.com mengatakan, perusahaan biasanya akan melihat rekam jejak digital calon karyawannya di sosial media. Bisa jadi, hal-hal menjurus negatif yang ditemukan bisa berpotensi membuat perusahaan batal menerima karyawan tersebut.

Bahkan menurut Pengamat teknologi informatika Vaksincom, Alfons Tanujaya lebih berbahaya lagi. Seperti yang dikutip dari cnnindonesia.com, ia mengatakan bahwa jejak digital seseorang akan bertambah banyak jika ia aktif menggunakan internet. Itu artinya, segala bentuk unggahan yang diposting ke ranah publik, akan tersimpan rapi dalam arsip internet global.

Secara teknis aktivitas digital seperti di medsos itu sekali kita unggah hanya muncul di server pengelola medsos. Tapi sekali muncul dan dilihat orang, itu artinya sudah tersebar ke seluruh dunia,” ujarnya yang dikutip dari cnnindonesia.com.

Mari bijak bersosmed [sumber gambar]
Parahnya, secara teknis semua konten yang pernah diunggah ke jagat internet tidak bisa dihapus. Bayangkan jika yang diposting adalah konten-konten berbau SARA, memecah belah dan hasutan, serta berita bohong alias Hoax, tentu akan menjadi arsip abadi yang bisa mencederai diri kita sendiri. Baik di dunia maya maupun di kehidupan nyata. Pendek kata, bijak dalam menggunakan sosial media adalah salah satu cara agar tidak terjerumus pada pola pakai yang keliru.

Menurut bijakbersosmed.id, ada teknik THINK ( True, Helpful, Illegal, Necessary, Kind), yang bisa kita jadikan prinsip dasar sederhana untuk membuat kita menggunakan media sosial dengan cerdas. Apakah unggahan kita True (benar adanya dan bukan hoax), Helpfull (memberikan manfaat), Illegal (mengandung hak cipta atau konten terlarang), Necessary (pentingkah hal tersebut dikonsumsi oleh publik) atau Kind (unggahan kita melukai perasaan orang lain atau tidak).

Hati-hati sebelum mengunggah sesuatu ke media sosial [sumber gambar]
BACA JUGA: 11 Ilustrasi ‘Menohok’ yang Menunjukkan Fakta Miris Generasi Muda Saat Ini

Banyak orang yang merasa mudah dan dimudahkan untuk menggunakan media sosial. Namun, hanya beberapa saja yang menyadari bahwa dirinya tidak bijaksana dalam praktiknya di lapangan. Well, media sosial memang dianggap sebagai wadah pribadi bagi individu untuk ‘bertingkah’ sesuai kata hati dan pemikirannya. Namun, hal tersebut juga bisa menjadi dua sisi mata pisau yang sewaktu-waktu dapat ‘membunuh’ pemiliknya sendiri.