Setelah sukses membesut alutsista darat jenis medium tank, Kaplan MT (Versi Turki), dan Harimau Hitam (versi Indonesia) hasil kerjasama kedua negara, Indonesia dan Turki kini kembali melakukan penjajakan untuk kembali terlibat dalam bidang pertahanan udara. Dilansir dari jakartagrater.com, Turki menawarkan transfer teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) buatan negaranya pada Indonesia.

Tawaran semacam ini tentu saja bisa menguntungkan militer Indonesia di masa depan. Selain bertambahnya kemampuan teknologi anak bangsa, proses Transfer of Technology (ToT) tersebut juga bisa menghemat anggaran negara untuk mengakuisisi alutsista sejenis dari negara lain. Seperti apa bentuknya? Simak ulasan berikut.

Sosok drone kelas MALE yang dirancang untuk kepentingan militer modern

Dirancang untuk kepentingan militer modern [sumber gambar]
Menurut Vice President Turkish Aerospace for Corporate Marketing and Communication, Tamer Özmen yang dikutip dari indomiliter.com mengatakan, Anka merupakan UAV kelas MALE yang terbukti di lapangan untuk keperluan Intelligence (intelijen), Reconnaissance (pengintaian), Surveillance (survei) dan Strike System, baik untuk keamanan dalam negeri maupun operasi pengintaian maritim. Generasi pertamanya sendiri (Anka-A), terbang perdana pada 30 Desember 2010 dan baru resmi diluncurkan pada tahun 2013.

Dikembangkan bersama antara Turki dan Indonesia

Dikembangkan bersama BPPT [sumber gambar]
Jauh sebelum trend Drone bermunculan di angkasa, BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dan Turkish Aerospace telah menjalin kerjasama yang erat untuk menghasilkan teknologi alat terbang yang mutakhir. Laman indomiliter.com menuliskan, pesawat udara nir-awak kelas MALE (Medium Altitude Long Endurance) yakni drone Anka generasi pertama milik Turkish Aerospace, melakukan pengujian terowongan angin pertama di ILST (Indonesian Low Speed Tunnel) milik BPPT. Dalam siaran pers bersama BPPT dan Turkish Aerospace, kampanye pengujian ini dilakukan selama delapan bulan sejak Maret hingga November 2008.

Telah melewati serangkaian ujicoba

Selama masa pengujian, ada banyak hal yang didapat dan kelak menjadi dasar bagi teknologi Anka di masa depan. Seperti pengembangan perangkat lunak untuk sistem kendali autopilot, maupun untuk memverifikasi kinerja terbang sebelum terbang perdana. Salah satunya hasilnya adalah Anka S pada tayangan video pada YouTube yang diunggah oleh akun Military Freaks. Dikembangkan dari generasi sebelumnya, pesawat tersebut terlihat melakukan uji terbang, teknologi kamera hingga pengujian menembak roket secara presisi.

Adanya wacana untuk proses transfer teknologi

Dioperasikan selama dua tahun oleh Angkatan Bersenjata Turki, UAV Anka yang digunakan termasuk jenis serang ringan seperti SIGINT dan ISR. Dilansir dari jakartagreater.com, perusahaan Turkish Aerospace tertarik menyoroti proposal transfer teknologi untuk Indonesia dan telah memiliki beberapa diskusi teknis. Hal ini ditindaklanjuti dalam Request for Proposal (RfP) dari Indonesia yang meminta varian dari ISR maupun yang dipersenjatai dari UAV. Dengan lebar sayap 17,5 m, panjang 8,6 m dan ketinggian 3,25 m, Anka mampu terbang hingga 24 jam hingga ketinggian 30.000 kaki. Drone ini juga dilengkapi dengan sistem bom pintar berpemandu laser sebanyak empat unit

BACA JUGA: Perbandingan Drone Wing Loong I TNI AU vs MQ1-Predator AS, Mana yang Lebih Sangar?

Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat membutuhkan alutsista seperti Anka di atas. Tak hanya sekedar menjadi pengintai hingga kepulauan terluar, tapi juga menjadi pertahanan udara selain pesawat tempur untuk mengatasi ancaman yang datang dari negara lain. Gimana menurutmu Sahabat Boombastis?