Ada sebuah peribahasa mengatakan “Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah”. Peribahasa itu memang sangat benar karena kasih sayang anak walaupun besar, tapi masih kalah dengan rasa yang dimiliki ibu kepada buah hatinya. Ya, buktinya aja sampai saat ini masih banyak kasus Malin Kundang di negara kita.

Salah satunya adalah Susilo Suharto. Pria yang sudah nggak muda lagi ini dengan tega melakukan hal keji kepada sang ibu. Dan yang paling mengejutkan adalah ia berperilaku tak pantas hanya karena masalah harta warisan.

Susilo ingin meminta harta warisan kepada sang ibunda

Ingin minta warisan kepada sang ibu [image source]
Harta memang membuat hampir semua orang buta. Walaupun jumlahnya yang nggak seberapa, tapi tetap saja orang-orang tergoda dengannya. Seperti Susilo ini yang ingin meminta bagian harta warisan kepada sang ibu. Tapi wanita berusia 55 tahun tersebut menolak keinginan anak lelakinya itu. Bukan menolak tanpa alasan, tapi karena tpria berumur 39 tahun itu ternyata sudah mendapatkan bagiannya. Sedangkan harta warisan yang masih tersisa itu adalah milik dari saudara-saudaranya.

Tak terima, akhirnya Susilo adu mulut dengan Rukinem

Susilo adu mulut dengan sang ibu [image source]
Susilo yang sangat keras kepala ini tetap bersikeras untuk meminta harta warisan itu. Tapi Rukinem juga tetap berpendirian teguh karena tak ingin bersikap tidak adil kepada anak-anaknya yang lain. Menurutnya, harta warisan yang telah diambil Susilo sudah cukup untuk kebutuhannya sehari-hari. Tapi pria tersebut tak peduli dan akhirnya terjadilah pertengkaran di antara ibu dan anak itu yang disertai dengan adu mulut berkepanjangan.

Tidak tahan, akhirnya Susilo memukul ibunya

Susilo pukul ibu sampai babak belur [image source]
Terlalu malas untuk mendengarkan ocehan dari ibunya, akhirnya Susilo sudah tak tahan lagi. Ia langsung memukul ibunya tanpa ampun. Dengan emosi yang sangat berapi-api Susilo tega melakukan hal keji ini. Penganiayaan tersebut berlangsung lama sehingga menyebabkan Rukinem mengalami luka memar pada sekujur tubuhnya. Selain itu terdapat benjolan bekas pukulan yang berada di dahinya. Ini orang ada hati nuraninya nggak sih? Sampai tega melakukan hal di luar nalar.

Nggak hanya dipukul, ibunya juga diinjak-injak

Susilo juga menginjak ibunya [image source]
Penyiksaan kepada ibunya nggak hanya dipukuli saja. Ternyata Susilo juga menginjak-injak ibunya di atas tanah. Rukinem yang berteriak kesakitan tak dihiraukan oleh anaknya itu. Ia terus menerus menginjak orang yang melahirkannya tersebut sampai puas dan kemudian ditinggal pergi begitu saja. Penganiayaan tersebut menyebabkan sang ibu harus menderita sakit pada bagian punggung dan pinggul. Nggak disangka, harta warisan telah meracuni pikiran Susilo untuk berbuat kejam semacam itu.

Rukinem langsung melaporkan anaknya kepada polisi

Rukinem lapor polisi [image source]
Melihat anaknya sudah berbuat sedemikian tega, Rukinem tak segan-segan untuk melaporkan kejadian ini ke Mapolsek Banyuwangi. Tak lama setelah pelaporan, akhirnya Susilo tertangkap di rumahnya. Tak ada perlawanan yang dilakukan olehnya sehingga ia menurut saja dengan polisi yang membawanya. Mungkin Susilo sudah sadar dengan kesalahan fatal yang ia perbuat terhadap ibunya.

Ternyata Susilo telah meminta warisan sebanyak 17 kali

Susilo telah meminta harta sebanyak 17 kali [image source]
Kepada kepolisian, Rukinem memberi sebuah pengakuan yang cukup mengejutkan. Ternyata anak laki-lakinya itu sudah meminta warisan sebanyak 17 kali. Mungkin karena Rukinem terus menolak, akhirnya Susilo berani untuk menganiaya ibunya. Dengan kejadian ini, Rukinem berharap agar anaknya sadar terhadap apa yang dilakukannya. Selain itu supaya Susilo bisa berpikir bahwa kehidupan tak hanya soal harta saja.

Kejadian memilukan ini memberi pelajaran bagi kita semua. Kesimpulannya adalah tetap hormati ibumu walaupun kata-katanya telah menyakiti hatimu. Lalu, emosi harus bisa dijaga supaya tak merugikan diri sendiri dan orang lain. Selain itu jangan gampang dibutakan oleh yang namanya harta, karena kekayaan bisa membuatmu lupa dengan segalanya.