Sebutan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa akan selalu terkenang sepanjang hayat. Semua kalangan yang sedang mendengar atau membaca sebutan guru tersebut pasti akan terkenang kembali masa-masa ketika masih bersekolah dulu. Mengenang bagaimana para guru dengan sabarnya mendidik muridnya hingga menjadi diri mereka yang sekarang. Hal ini ternyata diterapkan oleh salah satu murid yang sekarang sudah bisa dibilang sukses.

Sebutlah namanya, Fredy Chandra. Ia disebut “murid gila” oleh salah satu gurunya ketika mengajak semua guru di sekolah pergi ke Eropa. Dipikir hal tersebut adalah guyonan, ternyata Fredy memang serius mengutarakan rencananya. Ada apa dengan Fredy kok tiba-tiba mengajak seluruh gurunya pergi ke Eropa? Simak kisahnya di ulasan berikut ini

Memboyong Semua Gurunya dari SD Hingga SMA

Keinginan Fredy Chandra membawa guru-gurunya plesir ke luar negeri memang bukan hanya sebuah wacana. Ia serius dan mendatangi salah satu perwakilan guru di jenjang sekolahnya. Salah satu guru yang ia datangi ialah Sulikin. Ia merupakan Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Pekalongan. Dilansir dari kompas.com, Sulikin mengira ajakan dari alumni tahun 1993 tersebut adalah sebuah candaan. Namun, ketika Fredy meyakinkan dirinya, barulah ia percaya.

65 Guru Fredy Chandra [image source]
Tidak hanya guru-guru di SMA Negeri 1 Pekalongan saja yang diboyong Fredy. Guru pada jenjang sekolah sebelum SMA pun turut serta diboyong. Total ada 65 guru yang ikut serta. Masing-masing dari SMA Negeri 1 Pekalongan, SMP Negeri 1 Pekalongan, serta SD Sampangan. Wah, kira-kira mimpi apa ya para guru itu semalam?

Destinasi Awal: Eropa, Diubah Menjadi Singapore dan Malaysia

Awalnya, Fredy mengutarakan keinginannya kepada Sulikin bahwa ia akan mengajak para guru bertandang ke Eropa tiga bulan lalu. Namun, karena sudah banyak guru yang sudah tua, Sulikin menyarankan destinasi diganti ke yang dekat-dekat saja. Pilihan akhirnya jatuh ke negeri seberang. Persiapan tiga bulan berhasil mewujudkan mimpi Fredy untuk mengajak para gurunya jalan-jalan.

Kepsek Sulikin [image source]
Singapore dan Malaysia dipilih karena tidak banyak perbedaan dari Indonesia. Mulai dari kuliner hingga bahasa, sehingga hal tersebut akan memudahkan para guru Fredy yang kalau dihitung-hitung semenjak Fredy lulus, sekarang sudah lumayan berumur. Kebanyakan dari guru yang pernah mengajar Fredy tersebut juga sudah pensiun, jadi ketika diberangkatkan, tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Bertajuk “Fredy and The Teacher” 65 Guru Berangkat 19 September Lalu

Ketika sampai di Bandara Soekarno Hatta, 19 September lalu, Fredy dan keluarga dengan hangat menyambut para gurunya itu. Sulikin menyatakan bahwa Fredy sangat baik dan tulus, ia bertemu gurunya seperti menyambut orang tua sendiri. Ia sendiri terharu dengan aksi Fredy. Meski dirinya belum pernah mengajar murid yang ia sebut ‘gila’ itu, ia pun disambut dengan baik. Sambutan Fredy kepada gurunya bermacam-macam, mulai dari cium pipi, salam, hingga memijit punggung gurunya.

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa [image source]
Destinasi “Fredy and The Teacher” ini akan memakan waktu 5 hari. Namun, sayangnya Fredy dan keluarga tidak ikut serta mengantar guru-gurunya. Ia hanya mengantar mereka sampai di Bandara Soetta saja. Ia lalu berpesan pada biro perjalanan yang mengantar mereka, “Jangan sampai ada sedikitpun keluhan dari guru saya. Layani maksimal.” Sulikin juga menyatakan bahwa semua fasilitas yang diberikan Fredy tergolong dalam kelas satu. “Ini perjalanan paling berkesan dalam hidup saya,” ujar Sulikin.

Pernah Bermimpi Mengajak Gurunya Jalan-Jalan Setelah Kecelakaan

Sebelum mengutarakan ajakannya kepada Sulikin, Fredy menceritakan bagaimana ia bisa sampai pada eksekusi ide gila ini. Ketika SMA dulu, ia pernah mengalami kecelakaan yang cukup parah. Dalam keadaan koma, Fredy bermimpi dijenguk oleh para gurunya dari bangku SD hingga SMA. Dari situlah, keinginan Fredy muncul. Jika ada rezeki lebih, ia ingin mengajak para gurunya jalan-jalan ke luar negeri.

PGRI [image source]
Fredy yang diketahui sekarang berprofesi sebagai pengusaha kabel fiber optik itu pun berhasil mewujudkan impiannya. Meski melenceng dari destinasi awal, ia tetap memberangkatkan 65 guru dalam satu rombongan jalan-jalan ke luar negeri. Tidak hanya itu, fasilitas yang diberikan juga merupakan kelas tertinggi, paspor sudah diurus, uang saku pun diberikan sehingga para guru yang tergolong sudah sepuh tinggal berangkat saja dan tetap bisa menikmati perjalanan.

Itulah kisah Fredy yang berhasil mewujudkan impian kecilnya. Mungkin di masa sekarang jarang sekali kita akan menemui murid seberbakti Fredy. Namun, di masa akan datang, kita berharap saja akan ada Fredy kedua yang akan memuliakan para guru yang sudah berjuang mendidiknya seperti ini.