Kasus prostitusi online yang menjerat Vanessa Angel, membuat netizen Indonesia berkelakar tentang tarif 80 juta. Ada yang membuat meme, pengandaian dan lain sebagainya. Bisa Sahabat Boombastis lihat di instagram, facebook dan juga twitter.

Viralnya hashtag 80 juta tersebut memang menghibur kita semua. Tapi bagaimana dengan Vanessa Angel dan orang yang terlibat lainnya? Apa mereka ikut terhibur juga? Tentunya ya tidak, karena hal tersebut bisa membuat mereka malu. Ditakutkan juga bisa membuat mereka lebih tidak percaya diri untuk berhadapan dengan siapapun itu. Terlebih lagi, ocehan para netizen tentang 80 juta ini dapat dianggap melecehkan para perempuan.

Tarif kencan Vanessa Angel yang jadi guyonan [Sumber Gambar]
Pelecehan kepada para wanita yang terlibat prostitusi online ini dikuatkan dengan pendapat salah satu psikolog yaitu Roslina Verauli. Di akun instagramnya @verauli.id, ia mengungkapkan bahwa 80 juta yang jadi bahan tertawaan seluruh Indonesia ini sama saja dengan merendahkan perempuan.

Contoh guyonan 80 juta [Sumber Gambar]
Di unggahannya, psikolog ini menuturkan selama di ranah sosial, para netizen suka berkomentar “Apa? 80 juta? Mahal Amiiiittt!” atau masih beri pernyataan “Mending ada nilainya. Daripada gratisan, cuma dibayar dengan janji-janji?” atau “Dasar.. Perempuan xxx…”. Sungguh hal ini dapat menyakitkan hati para perempuan yang mendengarnya. Meskipun kata-kata tersebut sebenarnya tidak ditujukan untuk semua perempuan yang ada di Indonesia.

View this post on Instagram

Men are dominant? ㅤㅤ Adakah yang setuju? Dalam budaya patriarki memang demikian. Dimana kekuasan atau power dan dominasi dipegang kaum lelaki. ㅤㅤ Perempuan? Sebagai obyek. Yang secara sosial akan disalahkan dan dalam kendali laki-laki. Terutama dalam seksualitas. ㅤㅤ Bahkan terdapat standar ganda. Lelaki dengan pengalaman seksual bersama banyak perempuan cenderung dipandang hebat. Perempuan? Sebaliknya! ㅤㅤ Perempuan seolah dituntut untuk memelihara dirinya. Bila secara sosial tak ingin dilecehkan atau dihina. ㅤㅤ Perempuan juga kerap dinilai dari penampilan fisiknya. Bahkan “ditaksir” dari penampilannya. ㅤㅤ Dalam struktur sosial, pola ini diterima secara turun temurun. Baik oleh laki-laki maupun perempuan. Menarik untuk dipahami. ㅤㅤ Tak heran, dalam kasus-kasus asusila yang menjadi obyek penderita umumnya perempuan. Terkait aksinya yang dipandang sebagai pelaku perzinahan hingga penjaja seksual. ㅤㅤ Sementara lelaki tak memeroleh sangsi sosial seberat perempuan. Bahkan bebas berkelit. Tahukah bahwa pengguna layanan seksual tak terikat hukum karena tak diatur dalam undang-undang? ㅤㅤ Sungguh kontradiktif! Di tengah masyarakat yang konon sudah terpengaruh arus globalisasi dan mulai menganut budaya egalitarian, dimana laki-laki dan perempuan dipandang seimbang alias setara. ㅤㅤ Jangan tanya bagaimana perempuan dan diskriminasi di dunia kerja. Saat hak-hak biologisnya belum diakui. Tak akan habis bahasannya. ㅤㅤ Kalau dalam relasi saya bersama suami rasanya egalitarian, bagaimana dengan Anda sahabatku? ㅤㅤ Selama di ranah sosial masih berkomentar “Apa? 80 juta? Mahal Amiiiittt!” Atau masih beri pernyataan “Mending ada nilainya. Daripada gratisan, cuma dibayar dengan janji-janji?” Atau “Dasar.. Perempuan xxx…” Pernyataan yang sungguh menempatkan perempuan dalam posisi obyek. Pernyataan yang tak menghargai perempuan. Apapun situasinya.. Martabat perempuan tak selayaknya terikat dan ditentukan oleh keadaan!

A post shared by Roslina Verauli (@verauli.id) on

Apa Sahabat Boombastis pernah berpikir, jika pelecehan tersebut secara tidak langsung menendang jauh perempuan dan memandang tinggi derajat laki-laki? Ya karena seperti yang kita tahu kalau di kasus prostitusi online, identitas wanita selalu diperlihatkan ke khalayak umum. Sedangkan si laki-laki yang jelas-jelas menggunakan jasa ini, malah ditutup rapat atau bahkan disembunyikan dari khalayak umum.

Menurut psikolog yang mengeluarkan buku berjudul Was an Ugly Duckling, I am a Beautiful Swan tersebut, hal seperti di atas bisa terjadi karena budaya patriarki. Yang dimaksud dengan budaya patriarki adalah di mana kekuasaan atau power selalu didominasi oleh laki-laki. Dan hal semacam itu sudah mendarahdaging di Indonesia. Ya meskipun R.A. Kartini sudah berdedikasi tinggi untuk menyamakan derajat pria dan wanita.

BACA JUGA : 5 Pelecehan Verbal yang Jarang Diketahui tapi Dapat Membuatmu Terkena Pidana

Nah, jadi sudah tahu kan kalau guyonan tentang 80 juta tadi termasuk melecehkan perempuan? Jadi alangkah lebih baiknya untuk tidak menjadikan tarif tersebut sebagai bahan tertawaan kembali. Yuk mulai jadi orang yang bijaksana. Dengan mengetahui mana yang pantas untuk dijadikan bahan tertawaan dan tidak.