Siapa yang tak kenal dengan Amerika Serikat? Di mata dunia, negeri Paman Sam ini dikenal sebagai “Polisi Internasional” yang kerap mencampuri urusan negara lain. Sejuta alasan dan konspirasi kerap digunakan oleh pemerintahan mereka untuk memuluskan rencana-rencananya. Tak jarang, jalan kekerasan dan perang terpaksa dipilih jika diplomasi menemui jalan buntu.

Di Indonesia sendiri, sepak terjang Amerika Serikat telah ikut mewarnai perjalanan panjang sejarah NKRI. Mulai sejak masa revolusi hingga era reformasi. Baru-baru ini, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengancam Indonesia dalam soal perdagangan. Tak hanya sekali ini saja NKRI mendapatkan tekanan dari negeri Paman Sam. Meski diancam berkali-kali, toh hal tersebut ternyata tak membuat rakyatnya takut sedikitpun.

Presiden Soekarno diancam pembunuhan oleh CIA

Di era perang dingin, Indonesia pada saat itu berada dalam posisi yang sangat vital di kawasan Asia Tenggara. Pada saat itu, Presiden Sukarno cenderung mendekat ke wilayah blok timur yang notabene dikuasai oleh komunis Rusia. Karena tak dianggap “Pro-AS”, badan intelijen CIA pun merencankan sebuah skenario untuk membunuh sang proklamator.

Diancam pembunuhan oleh agen CIA [sumber gambar]
Fakta ini terungkap setelah sebuah dokumen rahasia dari tahun 1975, diungkap ke publik umum. File yang berjumlah 3.700 buah itu, sebuah ringkasan investigasi atas keterlibatan CIA dalam rencana untuk membunuh beberapa pemimpin asing. Selain Presiden Kuba, Fidel Castro, CIA juga mempertimbangkan untuk melenyapkan kepala negara Kongo, Patrice Lumumba, dan Presiden Sukarno di Indonesia. Hal ini selaras dengan pernyataan Profesor sejarah Asia di Universitas Nasional Australia, Robert Cribb,

Apa yang kita lihat adalah sedikit bukti bahwa CIA telah merencanakan pembunuhan,” kata Profesor Cribb. “Tampaknya tidak ada bukti plot yang pasti, tapi ada diskusi serius tentang pembunuhan.” ujarnya yang dikutip dari matamatapolitik.com.

Ancaman terselubung dalam Proxy War

Gagal merencanakan pembunuhan Presiden Sukarno, tak serta merta membuat CIA kehilangan akal. Mereka datang kembali dengan taktik baru yang dinamakan Proxy War. Sistem terselubung ini merupakan bagian dari modus perang asimetris yang jauh berbeda dengan peperangan konvensional. Pihak ketiga dimanfaatkan dalam strategi Proxy War untuk menjatuhkan lawannya. Sementara pihak sebenarnya yang tengah berkonflik, bisa cuci tangan dengan aman tanpa terdeteksi.

llustrasi konsep Proxy War pada Indonesia [sumber gambar]
Bahkan, ancaman Proxy War ala AS ini sudah jauh-jauh hari diperingatkan oleh Presiden Sukarno. Sang proklamator tekah mengetahui gelagat ancaman perang yang bakal merongrong meski Indonesia telah merdeka. Dikutip dari pinterpolitik.com, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo pun menyampaikan pendapatnya.

Perang tanpa bentuk (proxy war) mengancam Indonesia, karena negara-negara luar berlomba-lomba ingin menguasai Indonesia yang kaya akan sumber daya alam.” ujarnya.

Freeport, pembentukan OPM, kritik kebijakan Indonesia yang sering dilontarkan negara-negara barat yang disokong oleh AS dan sekutunya, merupakan salah satu contoh Proxy War yang sewaktu-waktu bisa mengancam keutuhan Indonesia.

Embargo alat-alat militer

Setelah Indonesia merdeka, campur tangan Amerika Serikat terhadap negara ini pun semakin menguat. Kalah dalam strategi politiknya melawan Sukarno di masa lalu, negeri Paman Sam ini mencoba mengungkung kekuatan Indonesia lewat embargo alutsista militer. Alhasil, TNI pun sempat kelimpungan karena kekurangan pasokan suku cadang bagi peralatan tempurnya yang sudah mulai usang.

Sempat dikenai embargo militer [sumber gambar]
Dilansir dari cnnindonesia.com, sanksi embargo sempat menghampiri Indonesia pada tahun 1995 sampai 2005. Alasannya, Indonesia terlibat sejumlah aksi pelanggaran HAM saat peristiwa penembakan demonstran di Kota Dili, Timor-Timur (kini Timor Leste). Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah Indonesia pun akhirnya membeli alutsista dari negeri beruang merah, Rusia. Salah satunya adalah varian Shukoi yang kini telah dimiliki oleh TNI.

Freeport mengancam pemerintahan Jokowi

Sebagai perusahaan Internasional, Freeport menganggap dirinya berkuasa atas segala kebijakan yang ada. Berangkat dari hal tersebut, PT Freeport Indonesia dengan berani mengeluarkan ancaman akan menggugat pemerintah Indonesia ke arbitrase internasional. Masalah ini merupakan buntut dari tidak adanya kesepakatan titik temu mengenai kontrak karya.

Presiden Jokowi saat meninjau lokasi Freeport [sumber gambar]
Dalam ultimatum yang disampaikan oleh Chief Executive Officer Freeport-McMoran Richard Adkerson, Indonesia diberi waktu selama 120 hari untuk menyelesaikan persoalan kontraknya. Sebelumnya, ancaman PT Freeport sudah terjadi sejak era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Perusahaan tambang itu mengancam akan menutup produksi, merumahkan karyawan hingga maju ke arbitrase nasional.

Diancam dengan pemotongan dana bantuan

Kisruh soal pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem, ternyata berimbas juga pada Indonesia. Seperti yang kita tau, Tanah Air termasuk menjadi salah satu dari 128 negara anggota yang menolak keputusan Amerika Serikat untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Ancam bakal potong dana bantuan Indonesia [sumber gambar]
Alhasil, Donald Trump pun meradang dan mengancam akan memotong dana bantuan yang selama ini dikucurkan oleh AS. “Mereka mengambil jutaan dollar dan bahkan miliaran dollar. Mereka memberi suara yang menentang kami,” ujarnya saat berpidato di Gedung Putih. “Biarkan mereka bersuara menentang kami. Kami akan menghemat banyak. Kami tidak peduli,” ucapnya yang dikutip dari nasional.kompas.com.

BACA JUGA: Taktik Amerika dalam Menguasai Dunia yang Tidak Pernah Terduga

Meski telah menerima ancaman yang bertubi-tubi dari AS dan kaki tangannya, toh hal tersebut tak sedikit pun membuat pemerintah dan masyarakat kita gentar. Sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, Indonesia tentu mempunyai kekuatan tersendiri dalam mengatasi segala ancaman yang ada. Gimana menurutmu Sahabat Boombastis?