Rahmah El Yunusiyyah, Pejuang Wanita Sehebat Kartini yang Terlupa dalam Sejarah

oleh Adi Nugroho
07:00 AM on Nov 16, 2016

Nama Rahman El Yunusiyyah mungkin masih teramat asing di telinga banyak orang di Indonesia. Meski demikian, dia adalah orang yang berjuang mati-matian untuk Indonesia khususnya kaum wanita. Rahman El Yunusiyyah ingin semua wanita di Indonesia mendapatkan kesempatan yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Kartini sebelum dia meninggal dunia.

Selama hidup, Rahman El Yunusiyyah tidak pernah berhenti belajar. Dia membaca banyak hal dan berguru ke banyak tokoh hingga tingkat keilmuannya meningkat. Dengan ilmu yang dia miliki, akhirnya Rahman El Yunusiyyah bisa berjuang untuk wanita Indonesia agar mereka berkiprah tidak hanya di dapur saja. Berikut cerita Rahman El Yunusiyyah selengkapnya.

Baca Juga
Bukan Tanpa Tujuan, Ini Loh Alasan Kenapa Teh Itu Baiknya Dipetik di Pagi Hari
Mirisnya Tata Krama Murid Sekarang, Guru Mendidik Sepenuh Hati Malah Dibuat Candaan

Belajar Tanpa Lelah Sejak Kecil

Rahman El Yunusiyyah tidak belajar secara resmi di sekolah. Dia belajar dari ayahnya bagaimana cara membaca aksara arab dan juga latin. Setelah ayahnya meninggal dunia, Rahman El Yunusiyyah belajar membaca dan banyak hal dari kedua kakaknya. Dari sana, kemampuannya dalam belajar meningkat dengan drastis dan semakin haus akan ilmu-ilmu yang baru.

Belajar tanpa lelah [image source]
Belajar tanpa lelah [image source]
Setelah belajar dari kedua kakaknya, Rahman El Yunusiyyah juga mulai belajar ilmu agama dari beberapa ulama besar di Sumatra Barat. Dia pernah mengaji di tempat Haji Ambul Karim Abdulah yang merupakan ayah dari Buya Hamka yang terkenal itu. Dia adalah murid pertama dari ayah Buya Hamka yang kemampuannya sangat diakui dan dibanggakan oleh gurunya itu.

Memperjuangkan Nasib Wanita di Sumatra Barat

Bagi seorang Rahman El Yunusiyyah, wanita tidak hanya akan berakhir dengan pekerjaan rumah tangga. Dia bisa melakukan banyak hal bermanfaat yang juga dilakukan oleh kaum pria. Seorang wanita yang terpelajar tidak akan kehilangan fungsinya dalam berkeluarga. Bahkan, bisa membantu keluarga dan mendidik anak menjadi lebih cerdas.

Memperjuangkan hak wanita [image source]
Memperjuangkan hak wanita [image source]
Mengetahui banyak wanita tidak bisa mendapatkan haknya secara sempurna, Rahman El Yunusiyyah menggugat dengan caranya sendiri. Dia tidak melakukan protes terhadap sistem yang telah ada, tapi lebih memilih melakukan hal bermanfaat lain seperti mendirikan sebuah sekolah khusus wanita pertama di Indonesia.

Mendirikan Sekolah Khusus Wanita

Setelah belajar di banyak ulama dan juga belajar menjadi seorang bidang, Rahman El Yunusiyyah mendirikan sebuah sekolah khusus wanita pertama di Indonesia. Sekolah yang diberi nama Diniyah Putri ini menampung semua wanita yang ingin belajar banyak hal mulai dari ilmu agama hingga keterampilan lain yang akan menunjang masa depannya menjadi lebuh baik.

Diniyah Putri [image source]
Diniyah Putri [image source]
Rahman El Yunusiyyah ingin membuat semua wanita di lingkungannya mendapat pendidikan yang baik bagaimana pun caranya. Dia pun juga berjuang untuk negeri ini termasuk memasang bendera merah putih di sekolahnya saat Indonesia merdeka. Akibat ulahnya yang pemberani ini, Rahman El Yunusiyyah pernah dipenjara oleh Belanda dan baru bebas setelah kedaulatan negeri ini diakui pada tahun 1949.

Kiprahnya Diakui Dunia Internasional

Rahman El Yunusiyyah tidak mengharapkan apa-apa dari apa yang dia lakukan. Dia hanya ingin membuat wanita di sekitarnya bisa seperti dirinya. Sekolah yang didirikan semata-mata untuk membuat wanita menjadi makhluk yang lebih baik dan berguna bagi banyak orang di sekitarnya.

KIprahnya diakui [image source]
KIprahnya diakui [image source]
Pendirian Diniyah Putri yang dilakukan oleh Rahman El Yunusiyyah nyatanya menginspirasi imam dari Al-Azhar Mesir untuk membuat sekolah khusus putri juga. Imam besar itu kagum dengan apa yang dilakukan oleh Rahman El Yunusiyyah. Wanita memang seharus diberi hak untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik tanpa membuatnya kehilangan peran sebagai seorang ibu saat kelak berumah tangga.

Inilah kisah tentang Rahman El Yunusiyyah yang tidak kalah hebat dari Kartini. Perjuangan yang dilakukannya mungkin tidak berdarah-darah. Namun, dengan keuletan dan semangatnya, Rahman El Yunusiyyah sudah sangat layak mendapatkan gelar seorang pahlawan.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA