Bripka Ambri Jayus, Polisi yang Nyambi Jual Martabak Demi Dapatkan Uang Tambahan untuk Sekolah Anak

Menurut Ambri, pendidikan anak harus lebih tinggai dari orang tuanya. Jadi dia menyiapkan segala cara agar sang anak memperoleh pendidikan yang baik

oleh Faradina
10:00 AM on May 25, 2017

Cerita mengenai anggota kepolisian yang memiliki aktivitas sampingan tentu saja sudah sering kita dengarkan ya. Entah itu mengenai anggota yang keliling kampung untuk mengajar ngaji, ataupun sosok polisi yang berjualan HP bekas demi menampung anak-anak terlantar di rumahnya. Memang sepertinya tidak ada aturan yang menyebutkan bahwa seorang anggota polisi tidak diperkenankan memiliki kegiatan sampingan di luar tugasnya.

Berbicara mengenai kegiatan sampingan tersebut, baru-baru ini kembali muncul sebuah berita mengenai sosok Brigadir Kepala atau Bripka Ambri Jayus yang sehari-harinya nyambi berjualan martabak. Dan ternyata si bripka memilih berjualan bukan hanya sekedar menjalankan hobi, melainkan demi sekolah anak-anaknya lho.

Baca Juga
Inilah 4 Negara yang Dulunya Kaya Raya namun Sekarang Terluntah Akibat Korupsi
6 Alasan Kenapa One Piece Nggak Pernah Bikin Penggemar Bosen Meski Sudah 20 Tahun

Bripka Ambri mulai berjualan martabak akhir 2016 lalu

Bisnis kuliner saat ini nampaknya sudah jadi lahan rupiah yang menggiurkan bagi banyak orang, termasuk anggota polisi yang satu ini. Bripka Ambri Jayus juda sepertinya sudah menambah daftar nama polisi yang memiliki usaha sampingan di bidang kuliner. Anggota kepolisian yang sehari-harinya bertugas di unit satuan lantas Polres Sidrap, Sulawesi Selatan ini mengaku sudah berjualan martabak sejak akhir 2016 lalu.

Berjualan martabak sejak 2016 [image source]
Ambri bercerita bahwa usaha ini dia lakukan di waktu luangnya saja. Untuk setiap harinya, sang bripka mulai membuka lapaknya sejak petang seusai melaksanakan tugas di kantor dan biasanya tutup pada pukul 20.00 wita. Bripka Ambri ini menawarkan dua jenis makanan di lapaknya yaitu martabak dan terang bulan atau kerap dikenal dengan nama martabak manis.

Memulai bisnis dengan modal nekad

Setiap ditanya mengenai ide memulai usaha berjualan martabak, Ambri mengakatan bahwa dia mendapat inspirasi dari lingkungan sekitar. Menurutnya minat masyarakat daerah Sidrap terhadap kudapan yang satu ini cukup tinggi, itulah mengapa dia tidak mencoba memulai bisnis makanan lain. Ambri juga menyatakan bahwa saat itu dia hanya bermodalkan nekad, dan ternyata semakin lama digeluti pelanggannya makin bertambah juga.

Bermodal nekad [image source]
Pria ini bercerita bahwa dirinya memang memiliki hobi membuat kue, namun untuk martabak sebelum mulai usaha dia telebih dahulu melihat cara-cara pembuatannya melalui internet. Ambri memutuskan untuk memulai usaha kulinernya dari sebuah gerobak yang dibelinya dengan harga Rp 4 juta. Awalnya anggota polisi ini sempat bingung di mana harus menjual dagangannya, sampai kemudian ide berjaja di depan minimarket dicobanya.

Usaha ini dilakukan untuk biaya sekolah anak

Tentunya ada alasan lain yang membuat laki-laki berdarah Jawa-Bugis ini memutuskan untuk berjualan martabak selain mengisi waktu luang dan menyalurkan hobi. Bripka Ambri menceritakan bahwa dia memang berniat mencari usaha sampingan yang halal demi membiayai sekolah kedua anaknya. Anggota Satlantas Polres Sidrap ini menyampaikan bahwa tidak cukup bila dirinya dan keluarga hanya megandalkan gaji sebagai polisi. Maka dari itu dia kemudian memilih untuk berjualan.

Untuk biaya sekolah anak [image source]
Menurutnya, anak-anak harus meraih pendidikan yang lebih tinggi dari orang tua. Jadi bagaimanapun juga ayah dari dua anak ini harus mempersiapkan semuanya. Polisi ini mengaku sangat menikmati usaha barunya ini dan tidak pernah sama sekali merasa malu karena memang apa yang dia lakukan ini halal. Belum lagi dukungan keluarga yang senantiasa diberikan pada Ambri, sehingga membuat pria ini lebih semangat. Ketika ditanya seputar tanggapan anak-anak, Ambri bercerita bahwa buah hatinya juga tidak merasa malu mempunyai ayah seorang polisi sekaligus penjual martabak.

Pendapatan tiap malam Ambri bisa mencapai Rp 1 – 2 juta

Usaha yang baru dirintis sang polisi ini memang masih dibilang baru, namun siapa sangka keuntungan yang diperoleh di tiap malamnya bisa mencapai Rp 1 hingga 2 juta. Untuk harga dagangannya sendiri sebenarnya Ambri mematok nominal tak telalu mahal, yaitu berkisar Rp 10 ribu sampai 60 ribu tergantung jenis martabak yang dipesan. Setiap harinya Ambri bercerita bahwa dirinya dapat menghabiskan sekitar 12 kg tepung atau sekitar 120 porsi.

Pendapatan Rp 1 – 2 juta [image source]
Dagangan Ambri juga diserbu pelanggan saat akhir pekan tiba. Dan meskipun bisnis ini semakin lama semakin cerah saja masa depannya, namun Ambri berkomitmen untuk tidak meninggalkan pekerjaan utamanya sebagai polisi. Sementara itu dia juga berencana akan terus berjualan martabak meski sudah pensiun sebagai polisi. Itung-itung bisnis kali ini merupakan bekal untuknya sebelum pensiun kelak.

Rasanya salut bila mendengar kisah-kisah para aparat yang ternyata mau melakukan pekerjaan sampingan di pinggir jalan setiap malam. Sosok Bripka Ambri Jayus ini juga merupakan salah satu anggota kepolisian yang patut diacungi jempol karena dia seakan tidak pernah merasa lelah menjalani dua pekerjaan setiap hari demi pendidikan anak-anaknya. Memang benar ya yang namanya orang tua pasti akan melakukan apapun untuk kesuksesan anak-anak mereka. Tak peduli bagaimana pun jalannya selama itu halal, maka kenapa tidak dicoba?

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA