4 Pidato Bersejarah Ini Pernah Berhasil Membakar Nasionalisme Bangsa Indonesia

oleh Anas Anas
11:08 AM on Aug 10, 2016

Di masa awal kemerdekaan, nasionalisme bangsa Indonesia sedang mengalami masa puncaknya. Buktinya di saat itu semua elemen masyarakat bersatu padu demi melawan penjajahan. Jika ditelisik ulang, ternyata bentuk nasionalisme ini tidak tumbuh begitu saja, melainkan ada peran seseorang yang berperan untuk menyalakannya. Alhasil, cerita tentang nasionalisme itu bukanlah cerita dongeng belaka karena pahlawan pendahulu kita sudah mencontohkannya secara langsung.

Nah, jika kita harus mengingat momentum apa saja yang berhasil membangkitkan rasa nasionalisme bangsa Indonesia maka kita harus mengingat 4 pidato berikut. Bung Tomo, K.H. Hasyim Asy’ari, Bung Karno dan M.Natsir adalah saksi sejarah bangkitnya rasa nasionalisme tersebut. Kira-kira pidato apa saja yang berhasil membangkitkan rasa nasionalisme tersebut? Berikut 4 pidato yang membangkitkan rasa nasionalisme bangsa Indonesia.

Baca Juga
Dinobatkan Jadi Atlet Tercantik dan Terseksi SEA Games 2017, Ini Lho Pesona Lindswell Kwok Yang Bikin Indonesia Bangga
Inilah 4 Bukti Kalau Pengguna Medsos yang Ada di Indonesia Polosnya Bukan Main

1. Pidato Bung Tomo

Jika kita harus menyebut tokoh penting Surabaya di awal masa kemerdekaan, Bung Tomo rasanya adalah orang yang tepat untuk disebut. Beliau adalah orang yang berhasil membakar semangat arek-arek Suroboyo untuk melawan kedatangan penjajah Inggris. Saat itu, tanggal 10 November 1945, dari laut, darat dan udara, tentara Inggris mengepung Kota Surabaya. Mereka datang hendak kembali merebut kemerdekaan Indonesia yang baru diproklamirkan. Tapi dengan diiringi pekikan suara Bung Tomo, arek-arek Suroboyo dengan gagah berani berhasil mengusir penjajah Belanda dari tanah Surabaya.

Bung Tomo [Image Source]
Bung Tomo [Image Source]
Hingga kini, pidato Bung Tomo ini masih sangat diingat oleh masyarakat luas. Beliau merepresentasikan nasionalisme dari kalangan tentara dan rakyat bawah yang berjuang bangkit dari belenggu penjajahan. “Dan kita yakin saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita, sebab Allah selalu berada di pihak yang benar, percayalah saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita sekalian. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!!!”, petikan terakhir dari pidato Bung Tomo.

2. Resolusi Jihad K.H. Hasyim Asy’ari

Saat Surabaya dikepung Belanda tanggal 10 November 1945, sebenarnya ada kekuatan lain yang ikut datang membantu. Bala bantuan ini datang berbekal sebuah panggilan yang disebut sebagai resolusi jihad. Tokoh yang ada di balik resolusi jihad ini adalah K.H. Hasyim Asy’ari. Beliau sedianya lebih dikenal sebagai pendiri Nahdhatul Ulama. Karena K.H. Hasyim Asy’ari meyakini nasionalisme adalah bagian dari Islam, maka Beliau memanggil laskar santri dan ulama berbagai daerah untuk berperang ke Surabaya.

K.H. Hasyim Asy’ari [Image Source]
K.H. Hasyim Asy’ari [Image Source]
Resolusi jihad sampai sekarang menjadi sebuah peninggalan yang membanggakan, khususnya bagi kaum Nahdhiyin, sebutan bagi pengikut Nahdhatul Ulama. Resolusi jihad merepresentasikan nasionalisme laskar santri dan ulama yang lebih dikenal banyak menghabiskan waktu di pondok pesantren. Dalam perkembangan masa kini, sejarah emas Resolusi Jihad ini menginspirasi Presiden Jokowi untuk menetapkan Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober.

3. Pidato “Ganyang Malaysia” Bung Karno

Banyaknya perselisihan yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia, menjadikan masyarakat Indonesia selalu mengenang pidato “Ganyang Malaysia” yang didengungkan Bung Karno. Pidato ini bermula saat Presiden Soekarno marah besar karena merasa dicurangi oleh pihak internasional. Di tahun 1961 Federasi Malaysia ingin menggabungkan Brunei, Sabah dan Serawak ke dalam wilayahnya.

Bung Karno [Image Source]
Bung Karno [Image Source]
Keinginan ini mendapat penolakan dari Bung Karno dan justru kemudian disambut dengan aksi pelecehan simbol Negara Indonesia di Malaysia. Sontak melayanglah pidato keras Bung Karno “Ganyang Malaysia” di tahun 1963. Sampai saat ini, pidato “Ganyang Malaysia” masih begitu tersohor di Indonesia. Pidato tersebut merepresentasikan pembelaan harkat dan martabat bangsa oleh pemmpin kita. Dengan kata lain, seorang Presiden Soekarno telah memberi contoh bagaimana harkat dan martabat bangsa itu harus dibela.

4. Mosi Integral M.Natsir

Jika ditelisik, nama M. Natsir memang tak begitu dikenal luas jika disandingkan dengan nama tiga tokoh di atas. Orang lebih banyak mengenal Beliau karena sering berselisih paham dengan Bung Karno. Puncaknya, M. Natsir dituduh sebagai salah satu otak dibalik upaya pembunuhan terhadap Bung Karno di Cikini atau yang lebih kenal dengan Peristiwa Cikini, 30 November 1957

Natsir [Image Source]
Natsir [Image Source]

Mosi Integral lahir di tengah perpecahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS) di tahun 1949. Saat itu wilayah Indonesia dipecah-pecah menjadi beberapa negara bagian dengan melahirkan pro dan kontra. Situasi semakin memburuk dengan perselisihan ini. Akhirnya melalui mimbar parlemen, M. Natsir mengajukan Mosi Integral untuk mempersatukan Indonesia kembali. Mosi Integral diterima dengan baik oleh Moh. Hatta dan kemudian digunakan sebagai pedoman dalam mengembalikan kesatuan NKRI seutuhnya.

Nah, itulah 4 pidato yang membangkitkan rasa nasionalisme bangsa Indonesia. Dari sini kita mengetahui, ternyata untuk bersatu membangun Indonesia itu harus didasari dengan semangat cinta tanah air. Dengan demikian, nasionalisme bangsa Indonesia akan bangkit dan berubah menjadi kekuatan untuk melawan segala yang mengganggunya.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA