TU-16, Pesawat Pembom Terbaik yang Pernah Dimiliki Indonesia

oleh Endah Boom
13:00 PM on Jan 15, 2017

Indonesia di era 60an, mungkin tak banyak hal yang kita ketahui di zaman tersebut. Tapi siapa sangka bahwa Angkatan Udara Indonesia di era tersebut memiliki sejarah yang luar biasa. TNI-AU saat itu bisa dibilang gemilang, mengalahkan Tiongkok bahkan Australia. Kenapa bisa begitu? Tak lain adalah karena di awal era 60an, Indonesia telah memiliki pesawat pembom paling mutakhir saat itu. Namanya adalah TU-16, sebuah pesawat yang dibeli karena didasari terbatasnya kemampuan B-25 serta demi kepuasan ambisi politik.

Pada tahun 1961, AURI memiliki 25 unit pesawat bomber varian Tu-16KS-1. Tujuan dari pembelian pesawat pembom tersebut tak lain adalah untuk mempersiapkan diri dalam Operasi Trikora tahun 1962 yang bertujuan untuk merebut kembali Irian Barat dari tangan Belanda. Rencananya pesawat tersebut akan difungsikan untuk menyerang Hr. Ms. Karel Doorman (kapal induk Angkatan Laut Belanda yang pada masa itu tengah berlayar dekat Irian Barat dan menggunakan rudal anti-kapal AS-1 Kennel). Hanya saja kemudian, pada tahun 1969 semua unit TU-16 tak lagi diterbangkan. Ada banyak kisah yang menarik terkait pesawat TU-16 ini. Yuk, kita kulik lagi lebih jauh.

Baca Juga
Bukan Tanpa Tujuan, Ini Loh Alasan Kenapa Teh Itu Baiknya Dipetik di Pagi Hari
Mirisnya Tata Krama Murid Sekarang, Guru Mendidik Sepenuh Hati Malah Dibuat Candaan

Proses Pembelian Pesawat TU-16 Tak Berjalan Mulus

Di penghujung 50an, Indonesia mengajukan permintaan untuk membeli TU-16. Hanya saja Duta Besar Rusia untuk Indonesia saat itu, Zhukov memaparkan kalau TU-16 masih dalam tahap pengembangan yang artinya belum siap dijual. Namun, Bung Karno terus mendesak. Desakan Bung Karno saat itu juga dipengaruhi oleh Letkol Salatun (saat itu sekretaris Dewan Penerbangan/Sekretaris Gabungan Kepala-Kepala Staf). Letkol Salatun yang mengemukakan ide pembelian TU-16 kepada Suryadarma tahun 1957.

Proses Pembelian Pesawat TU-16 Tak Berjalan Mulus [Image Source]
Proses pembeliannya memang menemukan banyak kendala. TU-16 yang pertama mendarat di Kemayoran pada tanggal 1 Juli 1961. Tadinya negara Cina pernah dimintai bantuan untuk mempermulus proses lobi. Skenarionya adalah Cina diminta untuk bisa menalangi pembeliannya terlebih dahulu. Tapi karena neraca perdagangan Cina dan Rusia sedang terpuruk, rencana itu tak bisa terlaksana. Mundur setahun ke belakang, pada tahun 1960, Salatun bersama delegasi pembelian senjata yang dipimpin oleh Jenderal AH Nasution terbang ke Moskow. Awalnya mereka diliputi kebimbangan karena belum bisa memastikan apakah TU-16 sudah masuk dalam daftar persenjataan yang disetujui pihak Soviet. Dan ternyata TU-16 sudah masuk dalam daftar persenjataan yang ditawarkan oleh Uni Soviet.

TU-16 Dibeli Atas Dasar Kebutuhan Pesawat Pembom Jarak Jauh

Seperti yang sudah disebutkan di atas, maksud dari pembelian TU-16 ini adalah untuk mendukung upaya operasi pembebasan Irian Barat. Operasi militer besar-besaran dilakukan dengan melibatkan tiga angkatan. Untuk Angkatan Udara, dibutuhkan pesawat pembom dan tempur.

TU-16 Dibeli Atas Dasar Kebutuhan Pesawat Pembom Jarak Jauh [Image Source]
Bisa dibilang TU-16 adalah kartu AS terakhir Bung Karno untuk menaklukkan Belanda. TU-16 ini dilengkapi dengan rudal strategis yang paling terbaik di masa itu, Kennel.

Senjata Rudal Kennel Pernah Diujicobakan

TU-16 ini dirancang untuk menjadi serba bisa. Dalam arti, pesawat ini dibuat agar bisa difungsikan jadi mata-mata, pengumpul data elektronik intelijen, perang elektronik, dan juga patroli maritim. Senjata rudal Kennel sendiri memang tak pernah ditembakkan hanya pernah diujicobakan.

Senjata Rudal Kennel Pernah Diujicobakan [Image Source]
Uji coba dilakukan sekitar tahun 1964-1965. Kennel ini ditembakkan di sebuah pulau karang yang terletak di tengah laut. Mantan wartawan TVRI, Hendro Subroto memaparkan kalau Kennel ditembakkan di pulau yang bernama Pulau Arakan.

Pada Awalnya Belanda Tak Percaya Kalau Indonesia Punya Pesawat Pembom Ini

Memang pada awalnya Belanda tak percaya kalau Indonesia punay pesawat pembom strategis ini. Namun, Belanda kemudian mendapat info dari Amerika. Amerika melalui penerbangan U2 Dragon Lady (sebuah pesawat mata-mata) yang diterbangkan dari Jepang berhasil mendapat potret akan deretan TU-16 ini. Dari situlah, akhirnya Belanda tahu kalau Indonesia memiliki pesawat yang dalam tugasnya (yang dilengkapi rudal Kennel) akan menenggelamkan kapal induk Karel Doorman.

Belanda Tak Percaya Kalau Indonesia Punya Pesawat Pembom Ini [Image Source]
Sebagai informasi, selain mempunyai12 TU-16 versi bomber (Badger A) yang masuk dalam Skadron 41, AURI pun memiliki 12 TU-16 KS-1 (Badger B) yang masuk dalam Skadron 42 Wing 003 Lanud Iswahyudi. Versi ini memiliki kemampuan bisa membawa sepasang rudal anti kapal permukaan KS-1 (AS-1 Kennel). Rudal inilah yang ditakuti Belanda. Karena hantaman enam Kennel, mampu menenggelamkan Karel Doorman ke dasar samudera. Hanya saja sayangnya, sampai Irian Barat diselesaikan melalui PBB atas inisiatif pemerintah Kennedy, Karel Doorman tak pernah ditemukan TU-16.

TU-16 Merupakan Pembom Paling Maju Pada Zamannya

Apa sajakah kehebatan TU-16 ini? Pertama jelas karena TU-16 merupakan pembom (bomber) paling maju pada zaman tersebut. Pesawat ini dilengkapi elektronik yang sangat canggih. Selain itu, badan pesawatnya juga kokoh. Bayangkan saja, badan pesawat tak mempan dibelah dengan menggunakan kapak yang terbesar sekalipun. Butuh las besar untuk bisa membelahnya. Karena bahan campurannya lebih banyak magnesium daripada aluminium, jangan harap kita bisa membongkar sambungan antara sayap dan mesinnya dengan mudah.

TU-16 Merupakan Pembom Paling Maju Pada Zamannya [Image Source]
Meski memiliki banyak keunggulan, TU-16 rupanya juga punya sisi kelemahan. Sejumlah bagian pesawat tak cocok dengan suku cadang pengganti. Dengan suku cadang yang diambil secara kanibal pun tak cocok. Perbedaan dan sulitnya mencari suku cadang pengganti ini jelas menyusahkan. Akhirnya sistem kerajinan tangan lah yang dipilih. Sebenarnya suku cadang TU-16 bisa didapat dari Rusia. Hanya saja karena faktor politik yang begitu rumit dan berbelit, maka mendapatkan suku cadang yang memadai hanya isapan jempol belaka.

Penerbangan Perpisahan TU-16 Terjadi pada Bulan Oktober 1970

Pergulatan politik yang pelik saat itu membuat pengadaan suku cadang sangat rumit. Memang persediaan suku cadang TU-16 ada di Rusia dan itu memadai. Tapi tak bisa didapat dengan mudah. Nasib TU-16 makin tak jelas terlebih setelah terjadi pergolakan G30S/PKI. Bahkan AURI sempat berupaya untuk menjual armada TU-16 kepada Mesir tapi pada akhirnya tak terlaksana.

Penerbangan Perpisahan TU-16 Terjadi pada Bulan Oktober 1970 [Image Source]
Sebuah penerbangan perpisahan akhirnya diadakan. Pada bulan Oktober 1970 menjelang HUT ABRI, TU-16 bernomor M-1625 yang berusia 10 awak diterbangkan dari Madiun ke Jakarta. Saat mendarat dan kembali lagi ke Madiun, ban pesawat meletus karena awaknya sengaja melakukan pengereman secara tiba-tiba atau mendadak. Saat ini, jika ingin melihat wujud TU-16 yang asli, kita bisa mengunjungi Museum TNI AU yang ada di Yogyakarta.

Tu-16, terlepas dari kaitannya dengan komunis sehingga dipensiunkan, tapi pesawat ini pernah memberikan kenangan indah. Keberadaannya dulu membuat Indonesia sangat ditakuti dan jadi momok untuk negara-negara besar. Indonesia pernah hebat di masa lalu, maka harusnya kita bisa mengulangi hal yang sama sekarang.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA