Sejarah Para Pengkhianat yang ‘Menjual’ Negaranya Sendiri

oleh Tetalogi
11:14 AM on Oct 27, 2015

Seorang warga negara memang diharapkan untuk membela negaranya sendiri dan cinta pada tanah air. Sebuah kesetiaan terhadap tanah air juga menjadi hal yang penting karena kita lahir dan tumbuh dengan memanfaatkan segala yang disediakan oleh negara tempat kita tinggal.

Baca Juga : 7 Diktator Paling Gila Sepanjang Masa

Baca Juga
Bukan Tanpa Tujuan, Ini Loh Alasan Kenapa Teh Itu Baiknya Dipetik di Pagi Hari
Mirisnya Tata Krama Murid Sekarang, Guru Mendidik Sepenuh Hati Malah Dibuat Candaan

Meski begitu, ternyata tidak semua orang memiliki rasa kesetiaan yang tinggi terhadap tempat mereka lahir. Mereka bahkan berani menjual negaranya demi uang atau keuntungan lainnya kepada para musuh. Padahal asal kamu tahu saja, tindakan berkhianat seperti ini sebenarnya memiliki hukuman yang berat lho. Mulai dari penjara seumur hidup atau juga hukuman mati. Berikut ini beberapa kisah para pengkhianat yang paling terkenal dalam sejarah.

1. Wang Jiwei

Wang Jiwei adalah seorang politikus China yang pernah mengenyam pendidikan di Jepang atas sponsor dari pemerintah dinasti Qing tahun 1903. Sebagai seorang politikus muda, Wang mulai menyalahkan dinasti Qing karena dianggap menghambat kemajuan China, dan membuat China menjadi terlalu lemah untuk melawan eksploitasi yang dilakukan penguasa Barat. Sejak masih sekolah di Jepang inilah ia berpandangan ingin menyerahkan China kepada Jepang.

Wang Jiwei [Image Source]
Wang Jiwei [Image Source]
Ketika terjadi peperangan antara Jepang dan China, Wang Jiwei kemudian lebih memihak pada Jepang. Ia bahkan menggunakan kesempatan penjajahan Jepang di China untuk mendirikan sebuah pemerintahan baru di luar kontrol Chiang Kai-shek yang merupakan rival politiknya. Tidak berhenti sampai di situ saja, ia juga mendapatkan akses radio umum di Tokyo dan ia memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memuji Jepang dan mengakui bahwa China tunduk pada Jepang. Ia juga bersumpah untuk bekerja sama dengan kekaisaran Jepang untuk melawan komunisme dan imperialisme Barat.

Ia akhirnya meninggal pada 10 November 1944, kurang dari satu tahun sebelum Jepang menyerah pada tentara Sekutu. Karena itu, ia terhindar dari pengadilan atas tuduhan pengkhianatan pada negara. Meski begitu, banyak pengikut seniornya yang masih hidup ketika perang berakhir akhirnya dieksekusi karena berkhianat pada negara.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA