4 Alasan Kenapa Netizen Indonesia Bisa Jadi Juaranya Cyberbully di Dunia

Mulai sekarang, kita coba jadi netizen yang elegan. Ada yang nggak cocok di hati? Abaikan!

oleh Nikmatus Solikha
11:00 AM on Jul 16, 2017

Sosial media sudah jadi salah satu hal yang nggak bisa ditinggalkan oleh masyarakat Indonesia. Media tersebut memang jadi perantara untuk terhubung dan berinteraksi dengan teman. Baik remaja sampai lansia, nyaris semua memiliki akun sosmed. Sebagian bahkan menganggap bahwa jejaring sosial merupakan ladang bisnis yang menjanjikan.

Namun seperti umumnya dunia maya, sosial media juga memiliki sisi negatif. Sebut saja cyberbully, yang sudah menjadi salah satu dampak buruk dari jejaring sosial. Ngerinya, dari data yang dihimpun tahun  2013 silam, Indonesia ternyata jadi negara yang menempati peringkat pertama dengan jumlah 38 persen penyumbang kasus cyberbully di dunia.  Bagaimana bisa Indonesia jadi juaranya cyberbully? Inilah 4 alasannya.

Baca Juga
5 Benda Aneh yang Pernah Disita KPK, Mulai dari Peternakan Babi Hingga Madu dan Album Noah
Inilah Deretan Anak Bos dan Pelatih Klub Bola Indonesia yang Cantiknya Bak Bidadari, Jomblo Ngumpul!

Netizen Indonesia demen cari cela kekurangan public figure

Artis atau selebgram biasanya memang berusaha berpenampilan sesempurna mungkin. Namun yang namanya manusia biasa, tentu saja kadang memiliki kekurangan. Terlebih, cara pandang netizen saat menilai seseorang juga pasti berbeda-beda. Namun di dunia maya, banyak netizen yang justru sengaja mencari-cari cela untuk melakukan bullying, terlebih bagi para artis atau selebgram.

contoh netizen yang membully selebgram Awkarin [image source]
Salah sedikit dalam hal berpenampilan, warganet bisa memberikan komentar nyinyir yang jumlahnya sampai ribuan. Terkesan kurang kerjaan, tapi nggak bisa dipungkiri kalau begitulah kelakuan netizen Indonesia, sang peraih juara pertama cyberbully.

Menyerang dengan komentar anarkis

Masih ingat dengan kasus Sonya Depari? Iya, si cantik yang sempat bikin sensasi karena melawan polwan yang memberinya tilang. Sikapnya yang arogan lengkap dengan mengaku sebagai anak jendral memang kurang terpuji, namun sejak videonya tersebut menyebar di dunia maya, para netizen Indonesia langsung menyerang Sonya dengan komentar-komentar anarkis.

Salah satu korban cyberbully [image source]
Padahal, jika dipikir dengan logika, membully dengan komentar anarkis juga nggak kalah buruknya dari kelakuan Sonya yang melawan saat ditilang. Parahnya lagi, cacian, hindaan dan makian dari netizen itu sampai membuat ayah dari Sonya meninggal karena tidak tahan melihat anaknya yang terus-terusan diserang.

Mendorong orang lain untuk melakukan bullying

Sadar kalau hampir semua netizen di Indonesia kerap mendorong orang lain untuk membully orang lain? Mungkin kita bisa mulai memperhatikan yang lagi viral beberapa hari belakangan ini, sebut saja Afi Nihaya Faradisa. Sejak aksi plagiatnya terungkap, ribuan komentar pedas sudah memenuhi kolom komentar statusnya.

Afi Nihaya Faradisa dan Amanada [image source]
Belum lagi ribuan netizen juga membagikan kembali status Afi, dengan tujuan menunjukkan kalau akun tersebut berulah lagi dan seolah mempersilakan warganet lain untuk berpartisipasi untuk melakukan bully.

Menganggap tindakan bullying di sosial media sebagai hal biasa

Sosial media saat ini dianggap sebagai tempat yang begitu bebas. Sebagian besar netizen merasa jika perdebatan di dunia maya bukanlah masalah yang serius. Toh, nggak ketemu lawan bicara secara langsung. Lama kelamaan, para pengguna sosmed makin terbiasa melakukan perdebatan di dunia maya.

Ilustrasi cyberbully [image source]
Tak heran jika makin hari makin banyak saja terjadi kasus penindasan melalui komentar. Padahal, menurut Psikolog Katarina Ira Puspita yang tergabung di Kasandra And Associates Psychological Practice, tindakan bullying yang dilakukan di sosial media memiliki dampak yang lebih berbahaya dari bully fisik. Tindakan cyberbully sangat berpotensi membuat korbannya bunuh diri.

Menjadi juara pertama sebagai penyumbang cyberbully terbanyak di dunia, mungkin Indonesia patut malu dengan penghargaan tersebut. Entah bagaimana solusi mengatasi fenomena tersebut. Yang jelas, tindakan terbaik adalah mulai dari diri sendiri. Cobalah tahan diri tiap kali muncul hasrat ingin membully. Ingatlah jika dampaknya bakal bahaya bagi orang lain.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
Seperti Ini Nasib Para Pemain Film Esek-Esek Setelah Pensiun, Dijamin Kaget Kamu Lihatnya 25 Foto Selfie Fail Abis yang Bikin Kamu Ketawa Ngakak Sampe Perut Mules Inilah Mongrel Mob, Gangster Selandia Baru yang Namanya Mulai Jadi Pembicaraan di Dunia Potret Kehidupan Mewah Anak Orang Kaya di Hong Kong yang Dijamin Membuatmu Melongo 7 Aktris Sinetron Kolosal Cantik dan Seksi ini Pernah Menghiasi Layar Kaca Kamu Zaman Dulu 5 Kejadian Nyleneh Orang Indonesia yang Terekam Google Street View, Awas Ngakak! Orang-orang yang Dulunya Terkenal Ini Kini Nasibnya Berputar 180 Derajat Kisah John Kei, Preman Gahar Sang 'Godfather of Jakarta' yang Kini Menempuh Jalan Kebenaran Niru Gaya Anniesa Hasibuan, 11 Foto Kelakuan Netizen Ini Pasti Bikin Kamu Ngakak Ternyata Segini Gaji Pemain Film "Dewasa", Penderitaan Tidak Sebanding dengan Penghasilan
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA