Karena Menjadi Pahlawan Tidak Melulu Harus Terjun ke Medan Perang

oleh Admin
15:09 PM on Aug 18, 2016

Gegap gempita kemenangan tim ganda campuran Indonesia pada Olimpiade yang digelar di Rio de Janeiro semalam (17/8) membuncah di hati masyarakat dari berbagai lapisan. Bapak tukang parkir, ibu-ibu penjual sayur, manajer bank yang sedang menunggu waktu meeting, pensiunan TNI yang menikmati pagi sembari membaca koran, dan masih banyak lagi. Semuanya bahagia, 71 tahun Indonesia merdeka dan mendapat hadiah super istimewa: medali emas!

Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad memperjuangkan bendera negaranya berada di posisi tertinggi dan lagu kebangsaan Indonesia dikumandangkan untuk pertama kali di olimpiade ini. Keringat mereka menetes bercucuran, napas sudah tersengal. Begitupun tim lawan, sudah berada di puncak kelelahan dan pertandingan final ini seperti taruhan hidup atau mati. Berjuang hingga penghabisan, atau kalah tidak membawa pulang medali emas sama sekali. Tapi apalah arti semua itu, dibandingkan dengan bisa hormat dengan tegap pada sang saka merah putih, sembari melantunkan bait demi bait lagu Indonesia Raya dengan khidmat?

Baca Juga
4 Aksi Greget yang Dilakukan Barisan Patah Hati di Pernikahan Mantan, Dijamin Bikin Geleng Kepala
Disebut Perompak oleh Mantan PM Malaysia, Justru Inilah Fakta Suku Bugis Seorang Pelaut Handal

Indonesia berkumandang dengan gempita [Image Source]
Indonesia berkumandang dengan gempita [Image Source]

Indonesia tanah tumpah darah kita semua, meski kadang menjengkelkan karena birokrasi yang rumit atau jalan bolong yang tak kunjung diperbaiki. Tak jarang kita merutuk dan bahkan mengeluarkan sumpah serapah dan puncaknya adalah berkeinginan ‘murtad’ pindah kewarganegaraan jika punya kesempatan. Enakan jadi WN Singapura, negaranya bersih tertata! Duh males banget sudah aku tinggal di Indonesia ini, kampret bener ribet!.

Namun jika diingat lagi, siapa yang akan menumpahkan darah bagi negeri ini jika bukan kita-kita yang masih sanggup bekerja dari pagi hingga pagi ini? Para pahlawan yang dulu mengangkat senjata, kini telah menua dan banyak yang sudah tiada. Bila bukan generasi Facebook dan Snapchat ini, siapa yang mau berdiri untuk memandu Ibu pertiwi?

Merekalah tetaplah para penerus perjuangan [Image Source]
Merekalah tetaplah para penerus perjuangan [Image Source]

Bersyukurlah hari ini, Indonesia sudah merdeka. Artinya kita tidak perlu susah payah berperang taruhan nyawa yang sekali hilang gantinya tidak bisa dibeli di minimarket. Tapi toh Indonesia tetap membutuhkan pahlawan, dan siapapun bisa jadi pahlawan. Liliyana Natsir dan Tontowi Ahmad menjadi simbol penyelamat negeri ini dari krisis medali emas dan prestasi. Mereka dengan kemampuannya, mengesampingkan urusan duniawi macam pacaran di malam minggu dan gegalauan gapunya hape terbaru untuk mengibarkan merah putih di Brazil sana.

Saya dan kamu juga bisa jadi pahlawan, karena kita sekarang tidak sedang berperang. Tidak perlu bawa senjata, karena mau melawan siapa? Kecuali melawan bayangan masa lalu yang makin rajin menghampiri #eh . Dengan kelebihan dan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing warga negara, semuanya bisa berlomba untuk menjadi superhero di negeri sendiri.

Semua orang bisa jadi superhero dengan caranya sendiri [Image Source]
Semua orang bisa jadi superhero dengan caranya sendiri [Image Source]

Tidak perlu juga bisa terbang seperti Superman, bisa jalan dan membantu orang tua menyeberang jalan juga sudah membuatmu jadi pahlawan tanpa tanda jasa. Tidak perlu juga punya uang sebanyak Mark Zuckerberg, punya uang seadanya di dompet, dibelikan beras untuk disedekahkan pada tetangga yang membutuhkan juga sudah menolong orang lain untuk tetap bertahan hidup.

Jika Liliyana dan Tontowi bersama raketnya, saya dan kamu juga bisa bersama apa yang dimiliki dan dikuasai. Indonesia sedang butuh disayangi rakyatnya. Rakyat yang selama ini lebih ingin dipimpin oleh Presiden Turki, rakyat yang masih sering tantrum nuntut ini itu. Kasihan lho negerimu, dihujat melulu. Kalau Ibu pertiwi nangis dan ngambek tidak mau menampung kita semua, mau ke mana hayo? Stateless itu tidak enak loh, tanya saja pada Bapak Archandra kalau tidak percaya.

Ya, tanyakan saja kepada beliau ini [Image Source]
Ya, tanyakan saja kepada beliau ini [Image Source]

Indonesia tanah air kita, kemungkinan besar hingga menutup mata kita akan tinggal di ring of fire ini. Mau tidak mau, harus mau jatuh cinta pada negeri sendiri dan peduli. Mulailah jadi pahlawan dengan tidak buang sampah sembarangan. Mulailah ajak keluarga dan kerabat untuk rajin beberes rumah dan bersih-bersih. Giat bangun pagi, cari rezeki halal. Agar semua sehat, kebutuhan tercukupi. Cukup sudah kalau ada apa-apa, semua salah Jokowi. Bahkan drama televisi yang ceritanya mbulet ndak karuan, bisa jadi salah Jokowi :”(

Merdeka itu mahal, FYI Singapura yang dipuja-puja itu statusnya adalah persemakmuran Inggris. Artinya apa? negara segede kabupaten Malang itu semuanya masih diatur-atur sama Ratu Elizabeth II. Kalau punya untung, dibagi dua sama Kerajaan Inggris. Piye, enak zamanku toh? *sayup-sayup terdengar suara Pak Harto*

Masih lebih enak Indonesia [Image Source]
Masih lebih enak Indonesia [Image Source]

Lah kita? Indonesia merdeka cuy! Mau gamau kenal sama Israel, bebassss kita bisa memutuskan sendiri. Mau stop impor beras, bebassss tidak ada yang menghalangi. Mau bangun siang? bebassss, paling juga dimarahin mertua hihihi.

Mari bersama, kita rawat tanah yang akan menjadi tempat berlindung di hari tua ini. Kemerdekaan diraih bukan dengan sulapnya The Four Horsement di Now You See Me, tapi setelah berjuang sekian lama dan menumpahkan entah berapa banyak nyawa. Rasanya mustahil bisa menghabiskan sisa hidup dengan nyaman dan damai, jika kita tidak merintisnya dari hari ini. Jikalau ingin usia 70 tahun menimang cucu sambil menikmati secangkir kopi, maka carilah jodoh untuk teman beranak pinak dari sekarang #lho #salahfokus. Indonesia tidak akan simsalabim tenang dan minim konflik jika bukan rakyatnya yang memulai. Ya kan?

Sekali lagi, terimakasih Liliyana dan Tontowi. Pahlawan masa kini yang membawa medali emas pulang ke tanah air. Terimakasih untuk para pahlawan yang sudah memprioritaskan masa depan orang lain dibanding keselamatan nyawanya sendiri. Terimakasih kepada semua orang yang sudah mau berubah jadi lebih baik, untuk Indonesia lebih greget di masa mendatang. Merdeka? Merdeka!

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA