Mengenal Miangas, Pulau Menangis di Sulawesi Utara yang Pernah Jadi Rebutan 3 Negara

Pulau ini berjarak lebih dekat ke negara Filipina dari pada ke wilayah Indonesia

oleh Aini Boom
15:00 PM on Jun 11, 2017

Miangas, salah satu pulau di Provinsi Sulawesi Utara yang kini sedang menjadi fokus perhatian pemerintah Indonesia. Hal ini disebabkan mulai memanasnya situasi di Filipina dalam beberapa waktu terakhir. Meski pulau ini resmi bagian dari negara Indonesia, tapi pemerintah mengantisipasi sebab adanya hubungan komunikasi antara masyarakat di wilayah perbatasan yang sering menjadi persoalan.

Memang Indonesia dan Filipina tidak pernah berselisih secara terbuka atas keberadaan Pulau Miangas. Namun posisi pulau ini sebagai wilayah terdepan, membuat jaraknya lebih dekat ke Filipina. Karena itu, masyarakat pun lebih mudah menangkap siaran radio dan komunikasi lainnya dari Filipina ketimbang dari saluran Indonesia. Menyadari kenyataan tersebut, sejak tahun 2010 hingga kini pembangunan Miangas digencarkan. Mulai dari pengadaan sistem telekomunikasi hingga pembangunan bandara dilakukan di pulau yang terletak pada ujung utara Indonesia itu

Baca Juga
Mengintip Keindahan Pantai ‘Perawan’ Sidoasri, Lokasi Alami yang Jarang Terjamah
Mengintip Kemakmuran Majasari di Indramayu, Desa dengan Predikat Terbaik di Indonesia

Tentang Miangas, Pulau Menangis

Presiden Jokowi di Pantai Miangas [image: source]
Pulau Miangas berada di Desa Miangas, Kecamatan Nanusa, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi utara. Dinamakan Miangas, sebab mengacu dialek setempat meangas atau meangis yang disederhanakan menjadi miangas. Artinya adalah menangis. Konon daerah ini sering menjadi sasaran penyerbuan perompak, karena itu penduduk asli pulau merasakan kehidupan perih penuh dengan tangisan dan air mata.

Miangas Pernah Diperebutkan Belanda dan Spanyol

Perebutan Pulau Miangas bermula saat kedatangan Belanda pada tahun 1677 di wilayah Sangihe dan Talaud. Pihak Belanda pun konon  menandatangani perjanjian kontrak dengan raja-raja Satal atas wilayah tertentu termasuk Pulau Miangas. Kala itu, pulau ini sudah dihuni penduduk asli. Namun setelah Belanda masuk, di tahun 1889 kedudukan kepala desa Miangas dipegang oleh seorang Kapitan laut di bawah kendali Belanda.

Potret Pulau Miangas dan Bandara Udara [image: source]
Di abad ke XVII, Spanyol yang menduduki Filipina singgah ke Miangas dan mengklaim pulau itu terlebih dahulu mereka temukan dan dinamai Palmas atau Polmas. Selanjutnya, Spanyol pun mencantumkan nama pulau Polmas (saat ini Miangas) dalam peta pelayaran laut mereka tanpa menyelidiki terlebih dulu siapa yang sebenarnya memiliki hak. Spanyol pun mengaku jika menemukan Miangas pada tahun 1648, jauh sebelum kedatangan Belanda. Maka Spanyol bersikeras mengklaim bahwa mereka yang pertama kali menemukan, memberi nama, dan berdaulat atas pulau Miangas. Belanda pun tak mau kalah, akhirnya tak ada keputusan jelas tentang posisi pulau Miangas saat itu.

Perebutan Miangas Oleh Amerika dan Belanda

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional di Miangas [image: source]
Tahun 1897-1898 terjadi perang antara Spanyol dan Amerika Serikat. Setelah Amerika mengantongi kemenangan, maka Spanyol menyerahkan seluruh wilayah Filipina termasuk pulau di sekitarnya. Kala itu, Miangas masuk pada daftar pulau yang dikuasai Spanyol dalam catatan negara itu. Hal tersebut memicu perselisihan antara Belanda dan Amerika. Belanda tetap pada pendirian bahwa Miangas adalah bagian dari Karesidenan Manado, sedangkan Amerika meyakini Miangas adalah pulau yang tercantum pada wilayah Spanyol yang telah ditaklukkan. Tak kunjung selesai, perkara ini dibawa ke Pengadilan Mahkamah Internasional di Deen Haag dan dimenangkan Belanda. Saat Indonesia merdeka, Miangas yang masuk dalam wilayah jajahan Belanda pada akhirnya menjadi bagian Indonesia.

Kondisi Pulau Miangas yang Amat Jauh dari Pusat Pemerintahan

Pengibaran Merah Putih di Pulau Miangas [image: source]
Sebagai pulau terdepan dan terluar, Miangas masih rentan terhadap masalah perbatasan, terorisme, dan penyelundupan. Apalagi jarak Pulau Miangas dengan Kecamatan Nanusa terbentang 145 mil sedangkan dengan Filipina hanya 48 mil. Banyak terjadi perkawinan WNI dengan warga Filipina, bahkan akses radio pun lebih mudah ke Filipina daripada Indonesia. Tak hanya itu, mata uang yang digunakan kebanyakan adalah peso Filipina. Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran pemerintah pada pulau eksotis ini.

Upaya Pemerintah Memperkuat Nasionalisme Warga Pulau Miangas

Bandara Udara Miangas [image: source]
Sebagai pulau paling ujung, Miangas dulu tak memiliki akses telekomunikasi sehingga warga merasa terisolir. Namun perubahan mulai difokuskan pada pulau Miangas. Mulai dari akses komunikasi seluler 2G yang diadakan sejak tahun 2010 hingga pendirian Bandara Udara Miangas pada tahun 2016 lalu. Tak hanya itu, pemerintah Provinsi Sulawesi Utara juga akan memasang drone untuk memperkuat sistem pertahanan. Drone ini digunakan untuk menunjang pihak TNI dalam menjaga keutuhan NKRI di perbatasan dengan Filipina itu.

Hingga saat ini, pemerintah sedang melakukan proses pembangunan infrastruktur untuk memperbaiki fasilitas di Miangas. Langkah ini merupakan angin segar bagi warga di daerah terpencil  itu untuk merasakan secara langsung kepedulian pemerintah. Tindakan seperti ini pun akan memperkuat rasa nasionalisme dan kecintaan pada tanah air. Karena sejauh apapun, mereka tetaplah Indonesia.

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA