4 Fakta Hebat di Balik Sosok Mahatma Gandhi yang Dikenal Pemalu Saat Kecil

oleh Endah Boom
09:28 AM on Feb 16, 2016

Kita masih sering terpaku menilai seseorang dari penampilan luarnya saja. Bahkan kita bisa dengan mudah menghakimi orang lain dari caranya berpakaian atau berbicara. Padahal kita juga tak tahu banyak tentang dirinya. Kita hanya sok saja menilai seseorang dari sudut pandang kita yang sempit.

Mahatma Gandhi, salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia ini sepintas seperti orang biasa saja. Bahkan dia dikenal sebagai pria pemalu dan pendiam. Meski begitu, pria yang lahir tanggal 2 Oktober 1869 ini merupakan seorang pemimpin spiritual juga politikus India. Di balik sikapnya yang bersahaja, dia punya peranan penting dalam Gerakan Kemerdekaan India. Walaupun dia sangat pemalu saat kecil, ternyata ada banyak kehebatan yang dimilikinya. Empat di antaranya akan kita bahas di sini.

Baca Juga
Blunder! 9 Pejabat Ini Pernah Salah Ucap Ketika Sedang Menyampaikan Pidato Penting
Inilah Perbandingan Tunjangan Veteran Indonesia dan Luar Negeri Ibarat Langit dan Bumi

1. Sudah Bersahabat dengan Buku Sejak Kecil

Saat masih anak-anak, Gandhi merupakan anak penakut. Banyak sekali hal yang ditakutinya, sebut saja pencuri, ular, hantu, dan kegelapan. Ia juga sangat takut berhadapan dengan orang lain. Saking takutnya berbicara dengan orang lain, sepulang sekolah ia tak main-main dulu atau mampir ke sana ke mari. Ia akan bergegas pulang usai sekolah. Sebagian besar waktunya digunakan untuk membaca banyak buku. Buku jadi penyelamatnya dan penolongnya yang bisa mengalihkan rasa takutnya.

Sudah Bersahabat dengan Buku Sejak Kecil [image source]
Sudah Bersahabat dengan Buku Sejak Kecil [image source]
Ketika beranjak jadi seorang pemuda, Gandhi terpilih sebagai anggota dari Komite Eksekutif Masyarakat Vegetarian. Itu jadi posisi kepemimpinan pertama yang ia emban. Hanya saja, meski Gandhi selalu menghadiri setiap rapat, ia seringkali terlalu malu untuk ikut memberi masukan atau sekadar mengeluarkan suaranya. Ada ketakutan yang dirasakan Gandhi setiap kali ingin menyuarakan pendapatnya. Pemikirannya lebih sering ia tuangkan dalam tulisan, hanya saja setiap kali akan membacakannya di sebuah rapat, selalu saja ada rasa takut yang menahannya.

2. Ada Kekuatan Unik yang Dimiliki Gandhi Si Pemalu

Sedikit demi sedikit Gandhi lebih bisa mengendalikan rasa malu dan penakutnya. Tapi “kelemahan” itu tak bisa sepenuhnya hilang. Untuk mengatasinya, ia selalu berusaha untuk membuat persiapan lebih dulu sebelum berbicara atau angkat suara. Namun, dia masih sering menghindar jika diminta berpidato. Beberapa tahun kemudian, Gandhi mencurahkan perasaannya, “Saya pikir saya tidak bisa atau bahkan mau untuk menghadiri pertemuan yang melibatkan pembicaraan di antara teman-teman.”

Ada Kekuatan Unik yang Dimiliki Gandhi Si Pemalu [image source]
Ada Kekuatan Unik yang Dimiliki Gandhi Si Pemalu [image source]
Meski rasa malu dan penakutnya tak bisa benar-benar hilang, tapi ada kekuatan unik yang kemudian dimilikinya. Ia punya kegigihan yang tenang. Kekuatannya terletak pada ide-ide dan hatinya. Meski ia terlalu malu mengutarakan pendapat di rapat, ia punya pendapat-pendapat yang kukuh dan tak tergoyahkan. Kalau sudah punya keinginan, dia akan berjuang keras melakukannya.

Gandhi muda pergi ke Inggris untuk belajar hukum. Walaupun keputusan itu sebenarnya bertentangan dengan keinginan pemimpin subkasta Modhi Bania, ia tetap berangkat. Saat itu para pemimpin kasta punya kepercayaan bahwa tidak mungkin seorang vegetarian dapat bertahan hidup di Inggris. Tapi Gandhi tetap kukuh, ia sampai bersumpah kepada ibunya kalau dirinya tak akan makan daging dan meyakinkannya kalau perjalanannya ke Inggris bukanlah sesuatu yang salah.

3. Tetap Tenang di Tengah Pertikaian

Pergi ke Inggris, Gandhi dianggap telah mengabaikan perintah kasta. Akibatnya ia pun dikucilkan dari kelompoknya. Bahkan saat ia kembali dari Inggris sebagai pengacara muda, masyarakat jadi terpecah dua: ada yang merangkulnya tapi ada yang mengucilkannya. Menyikapi pertikaian dan perpecahan itu, Gandhi berusaha untuk tetap tenang. Ia sadar melawan atau membalas kejahatan tak akan membuahkan hasil apa-apa.

Tetap Tenang di Tengah Pertikaian [image source]
Tetap Tenang di Tengah Pertikaian [image source]
Ketenangan dan kesabaran Gandhi akhirnya membuahkan hasil. Hati orang-orang yang tadinya mengucilkan dan mengabaikannya makin melunak. Mereka bahkan mulai bisa memperlakukan Gandhi dengan kemurahan hati dan kasih sayang yang tulus. Gandhi benar-benar menahan diri untuk tak ikut bertikai atau tersulut emosinya. Ia sadar betul melawan pun tak ada gunanya karena hanya akan memicu perpecahan baru.

4. Bernegosiasi dengan Sabar Saat Mengalami Diskriminasi

Saat masih menjadi pengacara muda di Afrika Selatan, Gandhi mencoba untuk mendaftar sebagai anggota kelompok pengacara setempat. Hanya saja ia ditolak karena ia berdarah India. Jelas hal ini merupakan sebuah bentuk diskriminasi. Namun, Gandhi tetap berusaha mengendalikan dirinya. Gandhi bernegosiasi dengan sabar. Hingga akhirnya ia pun diterima.

Bernegosiasi dengan Sabar Saat Mengalami Diskriminasi [image source]
Bernegosiasi dengan Sabar Saat Mengalami Diskriminasi [image source]
Di hari pengucapan sumpah, kepala pengadilan hukum meminta Gandhi melepaskan serbannya. Memahami keterbatasannya saat itu, Gandhi melepaskan serbannya walau kemudian teman-temannya menyebut Gandhi lemah karena tak mempertahankan keyakinannya. Gandhi merasa saat itu ia hanya mencoba untuk belajar berkompromi dan tak memperuncing masalah.

Menahan diri, itu adalah salah satu aset juga kelebihan yang dimiliki Gandhi. Meski ia dulu dikenal sebagai seorang pemalu dan penakut, tapi sesungguhnya ia punya kekuatan lain. Dalam buku Quite karya Susan Cain, ada kutipan dari Gandhi yang sangat menggugah. Isinya,

“Saya secara alami membentuk kebiasaan menahan pikiran-pikiran saya. Perkataan yang tidak dipikirkan hampir tidak pernah terlontar dari mulut atau pena saya. Pengalaman telah mengajarkan saya bahwa keheningan adalah bagian dari disiplin spiritual pecandu kebenaran. Kita menemukan banyak orang yang tidak sabar untuk berbicara. Semua pembicaraan tersebut hampir tidak dapat dikatakan menguntungkan dunia. Berbicara hanya membuang waktu. Rasa malu saya dalam kenyataannya menjadi tameng dan perisai lengan saya. Rasa malu mengizinkan saya bertumbuh. Rasa malu membantu saya dalam ketajaman kebenaran saya.”

Barulah kita pahami bahwa Mahatma Gandhi adalah seorang introvert. Orang introvert bekerja lebih pelan tapi sangat hati-hati. Setiap pekerjaan dan tugas diselesaikan satu per satu dengan konsentrasi tinggi. Ia juga tak mudah tergoda dengan kekayaan atau iming-iming kepopuleran.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA