5 Eksperimen Mengerikan yang Dilakukan Orang Tua Kepada Anaknya!

oleh Adi Nugroho
07:00 AM on Oct 19, 2015

Bayi lebih banyak menangis jika mengetahui sesuatu yang baru. Misal saat dikenalkan dengan hewan atau bahkan mungkin badut. Mengetahui hal itu, ada orang tua yang membiarkan anak menangis dengan dalih biar anak belajar. Atau ada yang membawa anak pergi karena merasa tidak tega. Tangisan anak akan membuat mereka jadi mendadak sedih dan seperti merasa menyiksa anaknya.

Anyway, dari beragam jenis orang tua di dunia ini. Ternyata ada jenis orang tua yang memang tega membuat anaknya menangis. Bahkan menggunakan anaknya yang masih kecil untuk eksperimen yang bisa dibilang agak ngeri bagi bayi, bahkan orang dewasa sekali pun. Inilah lima eksperimen mengerikan yang tak layak dicontoh oleh orang tua mana pun itu!

Baca Juga
Bukan Metropolitan, Justru Inilah 5 Kota Paling Kaya yang Ada Di Indonesia
5 Hal Menjengkelkan Tentang SEA Games di Malaysia Ini Bikin Indonesia Meradang

1. Menginfeksi Anaknya Hanya Untuk Menemukan Vaksin

Pada akhir abad ke-18 masehi, seorang ilmuwan bernama Edward Jenner mempunyai sebuah teori yang sangat aneh. Ia ingin membuktikan jika seseorang diberi virus cowpox, maka ia akan mempunyai imunitas terhadap penyakit smallpox. Penyakit ini berupa bisul-bisul merah yang akan menutupi hampir seluruh tubuh manusia normal hingga bisa menyebabkan kematian.

menemukan vaksin [image source]
menemukan vaksin [image source]
Jenner akhirnya menggunakan anaknya sendiri untuk kelinci percobaan. Ia membuat luka sayatan di tangan sang anak lalu memasukkan nanah dari penderita cowpox. Setelah itu ia menutup luka dan membuat sang anak jadi terinfeksi. Dari percobaan itu akhirnya ia mendapatkan sebuah vaksin yang mampu mencegah penyakit smallpox datang. Ngeri! Jika anaknya meninggal dunia apa ia tak sedih, ya?

2. Anak Disengatkan ke Ubur-ubur Mematikan

Pada tahun 1964, seorang peneliti kelautan dan racun bernama Jack Barnes melakukan percobaan yang sangat mengerikan. Ia menyengat anaknya yang berumur 9 tahun, seorang penjaga pantai, dan dirinya sendiri dengan ubur-ubur. Jack ingin mengetahui apakah ada korelasi antara ubur-ubur dan sindrom Irukadji yang kerap menyerang banyak perenang di Australia.

Ubur-ubur beracun [image source]
Ubur-ubur beracun [image source]
Dan benar saja, beberapa menit setelah disengat, ketiganya harus dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Penelitian sembrono yang dilakukan oleh Jack akhirnya menemukan titik terang. Ya, meski harus mengorbankan anaknya yang berumur 9 tahun. Benar-benar percobaan yang tak manusiawi. Bagaimana jadinya jika sang anak tak ikut selamat saat dibawa ke rumah sakit?

3. Memenjarakan Anaknya di Rumah Untuk Mengajari Bahasa yang Telah Punah

Pada tahun 1880-an seorang yahudi bernama Eliezer Ben-Yehuda pindah ke Palestina. Ia mendapat jika imigran yang ada di sana menggunakan bahasa yang terbilang aneh. Padahal ia dan keluarganya menggunakan Bahasa Hebrew, bahasa yang bisa dibilang nyaris punah saat itu. Padahal bahasa itu berasal dari nenek moyang yang patut dilestarikan.

Bahasa Hebrew [image source]
Bahasa Hebrew [image source]
Akhirnya Ben-Yehuda mengambil jalan tengah dengan memenjarakan anaknya. Ia mengajari anaknya Bahasa Hebrew setiap hari agar sang anak cepat menguasainya. Ben-Yehuda melarang anaknya keluar dari rumah agar tidak terkontaminasi dengan bahasa lainnya. Apa yang dilakukan oleh Ben-Yehuda akhirnya berhasil. Bahasa Hebrew yang diajarkan kini jadi bahasa nasional Palestina.

4. Charles Darwin Menjadikan Anak Sebagai Objek Penelitian Biologi

Masih ingatkah anda dengan Charles Darwin? Seorang ilmuwan Biologi yang namanya sangat terkenal akibat teori evolusinya ini menggunakan anak untuk objek penelitian. Sejak lahir ia akan mengamati perkembangan anak, perilaku dan apa pun. Ia lalu mencatatnya dan nantinya dibuat menjadi jurnal ilmiah yang dipublikasikan ke seluruh dunia.

Charles Darwin [image source]
Charles Darwin [image source]
Darwin tak hanya mengamati anaknya. Tapi ia juga memberikan perlakukan yang cukup bikin ngeri. Misal anak dibawa ke kebun binatang, dibuat takut, lalu diamati reaksinya. Dari apa yang diamati akhirnya Darwin mampu berkembang dan menciptakan banyak teori baru yang menggebrak dunia.

5. Membesarkan Anak dengan Simpanse

Pada tahun 1930-an seorang ilmuwan ingin mengetahui bagaimana pengaruh perlakuan manusia terhadap tumbuh kembang bayi simpanse. Ia akhirnya mengadopsi bayi simpanse dan membesarkannya dengan anak laki-laki yang masih bayi bernama Donald. Kedua makhluk beda jenis ini diberi perlakuan yang sama hingga beberapa tahun untuk diamati. Hingga sang ilmuwan menemukan adanya kejanggalan.

Awalnya simpanse berlaku selayaknya manusia, minus bisa bicara. Tapi lambat laut justru sang anak laki-laki bertingkah seperti simpanse. Hewan yang secara DNA menyerupai manusia itu tetap menjadi simpanse, sedang anak manusia justru belajar jadi simpanse. Percobaan gagal dan perilaku anak jadi seperti hewan. Miris sekali kan?

Anak seharusnya disayangi, tak peduli apa pun kepentingannya. Menjadikan anak sebagai kelinci percobaan adalah hal yang tak manusiawi. Jika anak tidak mengalami gangguan fisik dan mental sih enggak masalah. Tapi jika sampai cidera dan mentalnya terganggu, bukankah orang tua yang akan rugi sendiri. Di masa depan, kehidupan sang anak juga bakalan terganggu. Well, semoga di era modern, hal seperti ini tidak ada lagi!

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA