Dilema Begal, Kejam Nggak Karuan Tapi Dimassa Kok Kasian

oleh Rizal
09:00 AM on Oct 22, 2016

Dibandingkan jenis kejahatan lain, begal lah yang paling bikin sakit hati. Bayangin, kita capek-capek nyicil motor sampai ngeden, eh begitu lunas para begal itu mengambilnya begitu saja. Ibaratnya, seperti pelihara ayam jago mulai dari telur, tapi ketika sudah dewasa disembelih bapak buat opor lebaran. Meskipun kita juga ikut makan sih pada akhirnya setelah menangis sesenggukan semalaman.

Begal memang tak diajarkan untuk kasihan dalam job desc mereka, makanya mereka peduli setan dengan korbannya. Malah mereka kebanyakan menyalahkan kita. “Salah lu sendiri lewat jalan sepi, kan gue jadi punya kesempatan,” begitu kata Mat Boneng, salah seorang begal. Kesempatan katanya, apa mereka nggak tahu ya susahnya nyicil motor yang DP-nya pakai uang emak.

Baca Juga
5 Sepeda Balap Termahal di Dunia yang Harganya Bisa Bikin Kamu Miskin dalam Sekejap
Inilah 4 Negara yang Dulunya Kaya Raya namun Sekarang Terluntah Akibat Korupsi

Beli motor perjuangannya berat [Image Source]
Beli motor perjuangannya berat [Image Source]
Dengan menimbang sikap begal yang ‘bodo amat’ terhadap korbannya ini, maka pantas rasanya ketika mereka tertangkap warga pun menyiapkan bumbu-bumbu. Ya, bikin ‘begal bakar’ memang harus ada bumbunya, kan? Sebelum itu juga perlu dilembutin dulu pakai hook, jab, atau uppercut biar matangnya merata.

Yuk serius dikit, soal begal ini kadang jadi hal yang dilematis banget memang. Di satu sisi mereka kejam nggak karuan (ngincar motor tapi kadang sampai bunuh pemiliknya), tapi di sisi kok kasian banget ya melihatnya tersiksa dalam gelombang gamparan, tonjok, dan tendangan. Tapi, kalau tidak diberi pelajaran, kemungkinan besar mereka akan kembali lagi dan faktanya memang selalu seperti itu.

Begal bakar [Image Source]
Begal bakar [Image Source]
Ada perasaan yang mengganjal di hati kita. Antara khawatir kalau si begal bakal beraksi lagi jika diampuni dan sifat belas kasih kita sebagai manusia berhati serta juga takut dosa kepada Tuhan. Tapi, emosi yang membuncah karena kesal, mengalahkan segala pertimbangan humanis yang berakhir dengan begal bakar asam manis.

Kita tinggalkan hal-hal dilematis mengguncang jiwa soal bakar atau tidak si begal, dan ganti membahas kenapa begal selalu ada. Kira-kira kenapa ya? Padahal sudah banyak oknum-oknum begal yang berakhir almarhum tapi dengan cara yang tidak hormat. Alasannya nggak lain adalah kebutuhan dan ekonomi. Di mana-mana kejahatan ya begitu, begal pun sama.

Begal karena alasan ekonomi [Image Source]
Begal karena alasan ekonomi [Image Source]
Di pandang dari sisi ekonomi, pekerjaan begal memang sangat menggiurkan. Makanya, profesi ini larisnya mengalahkan calo PNS atau makelar tanah. Nggak percaya kalau pekerjaan begal bikin tajir? Mari kita bikin hitung-hitungannya.

Ibaratkan si begal nggak punya apa pun selain tato di lengan dan leher serta badan gede dikit akibat makan nasi kebanyakan. Nah, kemudian kita hitung berapa pengeluaran yang mereka bayar untuk menyewa motor, pedang, serta helm (biar nggak cedera saat beraksi). Ya kira-kira habis 500 ribu lah (soalnya sewa motor sport yang cc-nya besar). Lalu, kita hitung berapa penghasilan mereka sekali begal.

Menurut laporan nih, para begal selalu menjual motornya dengan harga sekitar Rp 3 juta untuk bebek dan matic serta Rp 5 juta untuk motor sport. Asumsikan si mas begal ini mendapatkan satu motor matic, kira-kira berapa untungnya? Sekitar Rp 2,5 juta. Ini cuma sekali begal lho dan hanya satu motor saja. Bayangkan kalau sehari ada dua. Dalam sebulan gaji mereka mengalahkan PNS golongan IV bahkan bandar lele setempat. Siapa yang nggak ngiler? Mereka pun juga nggak butuh ijazah sarjana untuk itu.

Pendapatan begal nggak karuan [Image Source]
Pendapatan begal nggak karuan [Image Source]
Soal aksi bakar-bakar, tentu para begal tahu sekali tentang itu. Bagi mereka, inilah risiko pekerjaan. Dan di mana-mana memang begini kan? Bahkan pengamen saja punya risiko digrebeg. Bakar = mati, tapi bagi para pembegal yang pengalamannya di Curriculum Vitae sudah penuh hal tersebut tak pernah jadi soal.

Jadi, apa kesimpulan dari tulisan begal-membegal ini? Soal menghakimi begal sampai mati, hal tersebut kadang tak bisa disalahkan, tapi juga tak bisa dibetulkan. Bagaimana pun, me-massa begal adalah salah karena kita punya polisi. Tapi, di sisi lain bisa dipahami kenapa orang-orang begitu giras menghajar para begal karena ada rasa kekhawatiran tinggi di sana. Nggak dimatiin si begal bakal meresahkan.

Begal harus dimassa atau tidak? [Image Source]
Begal, harus dimassa atau tidak? [Image Source]
Soal begal yang selalu ada, blak-blakan saja ya, hal tersebut sepertinya cukup susah untuk diberantas. Kalau diibaratkan supply and demand dalam dunia ekonomi, begal bakal selalu ada kalau kendaraan bermotor eksis. Begal butuh motor untuk dibegal, kalau motor nggak ada mereka pun lenyap. Masa mau begal odong-odong? Nggak keren dong!

Hal yang harus jadi perhatian ya kita sendiri. Berhati-hatilah selalu dan jangan beri kesempatan seperti kata Bang Mat Boneng di atas. Hindari jalan sepi, selalu berkendara dalam grup adalah segelintir dari banyak cara yang bisa kita gunakan untuk menghindari potensi begal. Waspadalah!

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA