Menguatkan Cinta Suami-Istri dengan Saling Menjaga Privasi

oleh Sofia Fitriani
12:00 PM on Sep 26, 2015

Ketika dua insan, laki-laki dan perempuan, telah menikah maka biasanya yang ada dalam benak dan prinsip mereka adalah tidak adanya privasi lagi di antara mereka. Semua yang jadi milik isteri harus jadi milik suami, dan sebaliknya. Juga apapun yang ada pada istri harus diketahui suami, pun sebaliknya. Namun, justru banyak kejadian buruk atau bahkan paling parah adalah rawan perceraian yang bermula dari perseteruan suami dan istri karena masalah privasi.

Nah, bagi muslim dan muslimah yang telah mengikat diri dalam tali pernikahan suci karena Allah, sudah seharusnya menghindari pertengkaran rumah tangga tentang masalah privasi. Untuk itu, di awal sebelum pernikahan, antara pihak laki-laki dan perempuan seharusnya telah memiliki komitmen bersama yang harus disepakati dan dijaga secara bersama, tentang masalah batasan atau privasi tersebut.

Baca Juga
Dinobatkan Jadi Atlet Tercantik dan Terseksi SEA Games 2017, Ini Lho Pesona Lindswell Kwok Yang Bikin Indonesia Bangga
Inilah 4 Bukti Kalau Pengguna Medsos yang Ada di Indonesia Polosnya Bukan Main

Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa menguatkan cinta suami dan istri dalam rumah tangga, dengan saling menjaga dan menghargai hal terkait privasi tersebut:

1. Keikhlasan

Yang pertama harus dilakukan adalah keikhlasan penuh bahwa ketika seorang laki-laki maupun perempuan yang telah mengikatkan diri dalam sebuah tali pernikahan, maka dia yang bersangkutan haruslah menyadari bahwa kini dia tak hidup sendiri, namun telah berdua. Maka, kondisi yang dulu menjadi hal-hal bersifat pribadi, harus siap dan tentunya ikhlas dibagi bersama pasangan.

Saling terbuka antara suami dan istri
Saling terbuka antara suami dan istri [imagesource]
Namun, kondisi privasi memang harus tetap dipahami oleh masing-masing pasangan, mengingat hal tersebut salah satu hal yang sangat sensitif menyangkut individu personal. Untuk itu, keikhlasan dari masing-masing diperlukan dalam menerima kondisi pasangan, termasuk kelebihan dan kekurangannya, selama hal tersebut bukan menjadi suatu pembenaran.

Misalkan, seorang istri tak suka jika sang suami terlalu membuka semua isi handphone nya. Walaupun sebenarnya tak ada apapun dari isi handphone si istri tersebut, namun memang si istri tak suka sang suami terlalu memantau isi handphone nya secara berlebihan. Maka keikhlasan bagi istri untuk mengkomunikasikan dengan siapa dia berhubungan lewat handphone dan isinya secara garis besar kepada suami, dan keikhlasan suami untuk mempercayai istri dengan kondisi tersebut, sangatlah penting.

2. Kesepahaman

Di awal sebelum pernikahan, antara pihak laki-laki dan perempuan harusnya mengetahui dan saling memahami tentang apapun hal yang disukai maupun tak disukai oleh calon pasangan masing-masing. Di luar tentunya harus saling memahami kelebihan, kekurangan, dan karakter calon pasangannya juga.

Saling memahami kewajiban antara suami dan istri
Saling memahami kewajiban antara suami dan istri [imagesource]
Kesepahaman tentang privasi, mana saja ruang istri yang boleh di masuki dan mana yang istri kurang nyaman untuk dimasuki oleh suami, pun sebaliknya tentang privasi suami, haruslah ada. Walaupun telah ada kesepahaman, namun hal-hal yang kurang syar’i menyangkut privasi, harus segera dikomunikasikan di awal. Karena jika hal-hal yang tidak syar’i terus dijalankan, maka takutnya keberkahan dari Allah bisa saja tidak hadir dalam rumah tangga. Na’udzubillaah.

Misalkan, ada istri yang kurang suka suaminya menciumnya, dan harus izin dulu tanpa alasan yang jelas atau dibenarkan. Padahal bermesraan dengan pasangan adalah hal yang dianjurkan Allah, bahkan bernilai pahala yang besar. Sedangkan tugas istri adalah melayani suami. Maka untuk hal-hal yang tidak memenuhi syariat, permasalahan privasi harus segera dikomunikasikan. Mengingat benar kata-kata nasehat, bahwa orang yang telah menikah ibarat satu tubuh dengan pasangannya. Maka segala kondisi seharusnya dirasakan bersama.

3. Ilmu Agama yang Kokoh

Terakhir, yang terpenting sebelum seseorang menikah, maka milikilah ilmu tentang agama dan pernikahan yang kokoh. Hal tersebut sangatlah penting mengingat membina rumah tangga bukanlah suatu hal sepele, karena menyangkut dua individu yang berbeda secara keseluruhan yang berjanji kepada Allah untuk melangkah bersama menuju surga Allah, juga menyangkut tentang masa depan anak-anak mereka, dan tentu saja tentang masalah dunia dan akhirat.

Yang paling penting adalah mempunyai ilmu agama yang kokoh
Yang paling penting adalah mempunyai ilmu agama yang kokoh [imagesource]
Sehingga ilmu tentang permasalahan rumah tangga, adab-adab kepada pasangan, termasuk masalah privasi dan batasan-batasannya yang diperbolehkan, harusnya dimiliki seseorang sebelum dia menikah. Sehingga dengan bekal ilmu yang kokoh, seseorang akan memiliki kemampuan dalam mengendalikan diri dan kondisi rumah tangganya dengan baik.

Itulah tiga hal yang harus diketahui dari setiap individu, baik yang sudah maupun yang belum menikah tentang masalah privasi terhadap pasangannya. Sehingga permasalahan tentang perdebatan yang terjadi akibat privasi tak akan terjadi atau mengganggu kebahagiaan rumah tangga. Yuk, jaga cinta kita kepada pasangan dengan memahami masalah privasi. (sof)

Next
BERITA TERKAIT
BACA JUGA