Menguak Peristiwa Bunuh Diri Massal di Bali yang Akan Membuatmu Merinding

oleh Sastranagari
21:00 PM on Feb 10, 2017

Pernah nggak kamu kepikiran buat melakukan bunuh diri? Semoga jawabannya nggak pernah. Bunuh diri adalah tindakan yang kurang bertanggung jawab dan nggak masuk akal. Nggak ada untungnya jika kamu melakukan bunuh diri. Tapi ada suatu masa di mana bunuh diri adalah harga mati warga Bali yang tidak sudi dikuasai penjajah.

Pada tahun 1906 an Bali dipimpin oleh raja-raja yang agung. Di tahun yang sama, Belanda juga menjajah Indonesia, otomatis Bali termasuk dalam cengkeraman Belanda. Namun, para rajanya tak mau begitu saja menyerahkan tanah mereka. Ada harga yang harus dibayar Belanda jika ingin merebut tanah kekuasaan raja-raja Bali ini.

Baca Juga
Fakta Silat Marunda, Warisan Maut Si Pitung yang Bikin VOC Terkencing-kencing Tak Berdaya
Blunder! 9 Pejabat Ini Pernah Salah Ucap Ketika Sedang Menyampaikan Pidato Penting

Beberapa daerah memiliki raja yang tangguh. Mereka tak mau diatur sekehendak hati para penjajah. Para raja ini mempertahankan habis-habisan wilayah kekuasaannya. Mereka rela melakukan segala hal agar harga dirinya tak diinjak-injak oleh pihak asing yang mau mengakuisisi kala itu.

Salah satu caranya adalah dengan melakukan bunuh diri massal. Yup! Dalam sejarah Bali, tercatat beberapa bunuh diri massal yang dilakukan oleh raja dan rakyatnya. Kapankah terjadinya peristiwa tersebut? Simak ulasan menarik ini.

Seribu Orang Tewas Dalam Bunuh Diri Massal di Kerajaan Badung

Konflik raja Bali dan Belanda dimulai ketika sebuah kapal milik Cina membawa koin perak dan perunggu kandas di Sanur.Kwee Tek Tjiang, pemiliknya kemudian menuduh rakyat Bali sebagai penyebab dan perampok kapal bernama Sri Komala tersebut. Kerugian yang dilaporkan sebesar 3.700 uang ringgit dan 2.700 uang kepeng. Atas tuduhan tersebut Belanda kemudian menuntut ganti sebanyak 3000 dolar perak sebagai kompensasi untuk pemilik kapal.

Mayat bergelimpangan [image source]
Raja menolak menyerahkan kompensasi tersebut. Menanggapi penolakan tersebut pada tanggal 20 September Belanda menyiapkan pasukan untuk menyerang Kerajaan Badung. Belanda menyiapkan tiga batalyon infantri dan dua batalyon pasukan artileri.

Di pihak lain, Raja Badung mempersiapkan diri dan rakyatnya untuk melakukan perlawanan. Mereka mengenakan pakaian serba putih dan membawa senjata berupa keris. Ketika sampai di gerbang Kerajaan Badung, Belanda sempat heran karena mendapati raja dan rakyat Bali hanya bersenjatakan keris saja. Masih dalam rasa tak percaya, pasukan Belanda menyaksikan Raja Badung menyuruh pendeta menusukkan belati ke dadanya. Tindakan tersebut lalu diikuti oleh seluruh rakyatnya. Mereka saling tusuk menusuk hingga tewas. Korban yang jatuh pada peristiwa tersebut diperkirakan mencapai 1.000 jiwa.

Bunuh Diri Massal Dikenal Dengan Istilah Puputan

I Gusti Ngurah Rai [image source]
Peristiwa ini dikenal dengan nama puputan. Dalam bahasa Bali, puputan berasal dari kata puput yang artinya mati atau habis. Puputan berarti bertempur melawan musuh hingga titik darah penghabisan. Ketika seorang raja menyatakan puputan, maka rakyat, baik laki-laki, perempuan, dan anak-anak wajib ikut serta.

Sejarah mencatat, ada beberapa puputan terjadi di Bali. Raja Kerajaan Klungkung juga melaksanakan puputan pada tahun 1908. Setelah itu, Bali jatuh sepenuhnya ke tangan Belanda. Kemudian di masa perang kemerdekaan, I Gusti Ngurah Rai juga gugur dalam puputan Margarana.

Puputan tidak selalu diwarnai dengan aksi bunuh diri massal. Ada yang dengan gigih bertempur hingga tetes darah terakhir. Yang perlu kita pelajari dari peristiwa ini adalah loyalitas para pahlawan dalam mempertahankan harga diri mereka dan menjaga kehormatan tanah airnya.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA