5 Barang yang Terkesan “Remeh” Ini Ternyata Dijual Mahal di Papua, Gaji Besar Pun Terasa Hampa

Sebenarnya Papua kaya akan sumber daya, namun penduduknya masih banyak yang menderita

oleh Arief Dian
17:30 PM on Jul 24, 2017

Kekayaan alam di Papua sudah tidak perlu kita pertanyakan lagi. Tambang emasnya yang melimpah, hutan-hutan hijau yang menyumbangkan kesejukan udara, hingga keragaman flora dan fauna yang tidak ada duanya. Belum lagi banyaknya tempat indah seperti Raja Ampat dan lain sebagainya. Bisa dibilang kalau Papua adalah “ Surga” dunianya Indonesia.

Masih soal Papua, meskipun kaya ternyata banyak orangnya yang hidup dalam kemiskinan. Banyak sumber dayanya yang diambil alih oleh pihak asing. Masyarakat Papua hanya dibagikan “sisa” dari berbagai sumber daya dari tanah kelahirannya. Akibatnya, biaya hidup melambung sangat tinggi, namun pendapatan segitu-segitu saja. Jadi jangan kaget kalau barang dijual biasa di pulau lain bisa sangat mahal di pulau satu ini. Tidak percaya? Simak ulasan berikut.

Baca Juga
Bukan Tanpa Tujuan, Ini Loh Alasan Kenapa Teh Itu Baiknya Dipetik di Pagi Hari
Mirisnya Tata Krama Murid Sekarang, Guru Mendidik Sepenuh Hati Malah Dibuat Candaan

Harga makanan yang ugal-ugalan

nasi pecel papua [image source]
Biasanya kita mendapatkan satu nasib pecel seharga Rp 5 hingga Rp 10 ribu, namun di Papua jangan harap bisa dapat dengan harga segitu. Pasalnya di pulau satu ini, saking tingginya biaya hidup dan sulitnya transportasi, satu porsi nasi pecel bisa seharga Rp 70 ribu. Bisa dibayangkan betapa mahalnya makanan yang sering kita jumpai ini. Ternyata tidak hanya nasib pecel, makanan yang lain pun dibandrol dengan harga yang ugal-ugalan. Misal bakso yang sampai Rp 40 ribu atau sekedar kopi atau teh seharga Rp 15 ribu. Selama ini masyarakat Papua terus bertahan dengan keadaan seperti itu.

Harga gas elpiji bisa bikin miskin

LPG [image source]
Jika di pulau lain gas elpiji 15 kilo dijual sekitar Rp 130 ribu-an, kalau di Papua harga itu akan meningkat hingga berkali-kali lipat. Bayangkan saja harga grosir langsung di agen saja mencapai Rp 275 ribu per tabungnya. Sedangkan kalau sudah diecer, harga tabung gas ini bisa mencapai Rp 500 per satuannya. Karena alasan biaya pengiriman dan lain sebagainya lah yang membuat harga di Papua jadi mahalnya bukan main. Namun demikian beberapa warga Papua merasakan hal itu tidak terlalu berdampak karena masih banyak dari mereka yang menggunakan minyak tanah atau dengan melakukan pembakaran tradisional

Bensin di Papua mahalnya bukan main

bensin [image source]
Bensin menjadi salah satu barang yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Namun bagaimana kalau harga perliternya mencapai Rp 100 ribu? Pastinya bakal banyak orang yang protes pada pemerintah. Namun sayangnya, hal itulah yang terjadi di Papua sana. Alih-alih dihargai Rp 7500, di Papua Bensin dijual sangat mahal per liternya. Oleh sebab itu jarang orang menggunakan kendaraan bermotor di sana, biayanya terlalu mahal. Hebatnya, masyarakat Papua tidak pernah mengeluh mengenai keadaannya yang seperti itu, anteng-anteng saja. Beruntung Papua tertolong  rencana pemerintah yang diberlakukan tahun ini agar harga BBM di sana tidak terlampau jauh ketimbang pulau lain.

Air mineral Papua seharga makanan mewah di tempat lain

Air Mineral [image source]
Ternyata air putih / mineral juga menjadi barang yang sangat mahal di Papua. Dikirim dari luar pulau, harga di Papua ternyata bisa mencapai Rp 50 ribu perbotolnya. Mungkin  bagi kita ini harga yang tidak wajar, atau ulah nakal pedagang, namun di Papua, itulah kenyataannya. Oleh sebab itu masyarakat Papua lebih memilih untuk mendapatkan air matang sendiri ketimbang membeli air mineral dalam bentuk botolan. Bisa dibayangkan sendiri bukan kalau air mineral saja harganya selangit bagaimana dengan barang lain? Padahal Papua kaya akan sumber dayanya, Ironis memang.

Harga telus sama dengan membeli jam tangan baru

Telur [image source]
Satu lagi barang yang di jual sangat mahal di Papua, telur. Bayangkan saja orang Papua harus membayar sekitar Rp 50-70 ribu hanya untuk mendapatkan satu rak telur. Hal ini pastinya sangat berkebalikan dengan yang ada di pulau lain. Oleh karena itu makanan-makanan yang terbuat dari telur juga mengalami peningkatan harga yang signifikan. Oleh karenanya, konsumsi telur dari luar pulau sengaja ditekan agar warganya bisa lumayan mengurangi pengeluaran.

Seperti itulah fakta yang terjadi di Papua, kaya sumber daya namun banyak mengalami kekurangan. Gaji besar di Papua seolah tidak ada lagi ada nilainya kalau dibanding harga barang di sana yang juga tingginya bukan main. Benar-benar miris ya!

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA