100 Masjid di Gaza Akhirnya Bisa Terang Berkat Bantuan Solar dan Bensin dari Indonesia

Sekali lagi, rakyat Indonesia bikin warga Palestina mengharu biru.

oleh Faradina
14:00 PM on May 29, 2017

Jalur Gaza sepertinya memang tidak pernah sepi dari pemberitaan beberapa tahun terakhir ini. Entah itu terkait perang maupun persoalan kemanusiaan di dalamnya. Tidak jarang kita dibuat marah, bingung, sampai bersedih saat harus mendengar berita terkait wilayah tersebut. Namun baru-baru ini ada satu kejadian yang nampaknya akan membuat kita semua sumringah.

Pasalnya baru-baru ini masyarakat Indonesia mengeluarkan bantuan yang cukup besar untuk wilayah itu. Memang sih bantuan bukan lagi berupa pasukan militer ataupun ransum. Namun apa yang diberikan Indonesia kali ini mampu membuat malam Ramadan penduduk di sana semakin terang.

Baca Juga
Bukan Tanpa Tujuan, Ini Loh Alasan Kenapa Teh Itu Baiknya Dipetik di Pagi Hari
Mirisnya Tata Krama Murid Sekarang, Guru Mendidik Sepenuh Hati Malah Dibuat Candaan

Krisis listrik di Gaza

Invasi militer Israel ke jalur Gaza memang menyisakan duka mendalam bagi masyarakat Palestina di sana. Berbagai macam blokade yang dilakukan Israel juga secara otomatis menyisakan dampak negatif termasuk salah satunya kerusakan infrastruktur. Satu fakta yang juga muncul adalah mengenai adanya pemadaman listrik selama berjam-jam, bahkan hingga 20 jam per hari di wilayah tersebut. Belum lagi pada 2008 lalu di mana satu-satunya pembangkit listrik juga turut dibombardir Israel.

Masjid Gaza [image source]
Hal tersebut yang kemudian menyebabkan wilayah itu mengalami krisis listrik. Karena adanya krisis tersebut kemudian banyak masjid di Gaza terpaksa beroperasi tanpa penerangan. Memang sih Gaza selama ini mendapat pasokan listrik dari Mesir, namun ternyata hal itu tidak secara rutin ada. Malahan otoritas Israel lah yang hanya boleh memasok bahan bakar seperti halnya solar yang mereka jual dengan harga tinggi.

Sedekah bahan bakar diminta oleh seorang relawan Indonesia

Fakta mengenai blokade Israel di jalur Gaza itulah yang kemudian membuat seorang relawan Indonesia bernama Abdillah Onim di sana berinisiatif untuk mengumpulkan bantuan dari pihak lain. Pria yang akrab disapa dengan panggilan Bang Onim ini menceritakan bahwa dia ingin mengumpulkan sedekah berupa solar dan bensin semata-mata agar masjid di sana bisa terang ketika Ramadan.

Sedekah bahan bakar [image source]
Adapun selama ini pria yang sudah menikah dengan seorang muslimah Palestina itu tidak serta merta mengumpulkan kiriman minyak dari dalam negeri. Melainkan siapa yang ingin berdonasi bisa memberi sumbangan cukup Rp 30 ribu saja. Dari sumbangan uang itulah kemudian pihaknya berhasil mengumpulkan bahan bakar untuk menerangi sekitar 100 masjid di daerah konflik tersebut seperti yang diharapkan.

Distribusi bahan bakar dilakukan sebelum Ramadan

Sungguh tidak disangka bahwa ternyata ada banyak masyarakat yang turut memberikan donasi demi terangnya masjid di jalur Gaza. Ada sekitar 10 ribu liter solar yang kemudian didistribusikan pada 100 masjid di sana. Jadi untuk setiap masjid mendapatkan total bantuan sebesar 100 liter solar. Dengan 100 liter tersebut diperkirakan masjid dapat kembali bercahaya selama satu bulan Ramadan. Tak terkecuali di waktu sahur, dan pastinya juga bisa turut mengaktifkan pengeras suara rumah ibadah tersebut.

Distribusi bahan bakar [image source]
Donasi semacam ini ternyata sudah dilakukan sekitar tahun 2014 lalu. Namun memang jumlahnya tidak sebanyak tahun kali ini. Pada 2014 ada sekitar 30 masjid yang mendapat jatah bantuan bahan bakar ini. Barulah semenjak itu jumlah masjid yang mendapat bantuan semakin bertambah. Rasa haru sangat kental terlihat ketika para relawan membagikan solar dan bensin pada takmir masjid. Yang mana semua masyarakat di sana mengucapkan banyak terimakasih untuk masyarakat Indonesia karena telah membantu.

Kondisi perekonomian Gaza melemah

Blokade Israel di jalur Gaza tak hanya membuat isi kota menjadi gelap. Sejalan dengan mahalnya harga bahan bakar yang mereka jual, ternyata saat ini ada sekitar 70 persen warga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Adapun saat ini banyak sekali masyarakat di sana yang harus menganggur dan tidak memiliki pekerjaan.

Kondisi Gaza [image source]
Dan ternyata ada sekitar 220 ribu pemuda di Gaza yang juga harus hidup sebagai pengangguran, diantaranya sekitar 180 ribu pemuda dan pemudi berstatus sarjana tidak mendapat pekerjaan. Ada juga kurang lebih 120 ribu masyarakat berusia di atas 50 tahun terpaksa dirumahkan akibat tidak adanya lapangan pekerjaan bagi mereka.

Bisa dibayangkan bagaimana kehidupan warga di Gaza tiap malam bila harus bertahan tanpa penerangan. Apalagi bila Ramadan tiba di mana otomatis banyak ibadah yang dilakukan pada malam hari membutuhkan penerangan. Namun untung saja hanya dengan Rp 30 ribu dari satu individu di Indonesia dapat berkontribusi dalam menerangi 100 rumah ibadah di daerah tersebut. Bahagianya saat ini saudara-saudara kita di Gaza tak lagi menjalani ibadah dalam kegelapan.

Next
Like us on Facebook Follow us on Twitter
ARTIKEL LAINNYA
ARTIKEL PILIHAN
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA