Sebentar lagi, industri rokok akan sedikit mengalami ‘guncangan’ karena pemerintah menetapkan wacana kenaikan tarif cukai hasil tembakau. Dilansir dari CNN Indonesia, pemerintah menaikkan tarif cukai rokok sebesar 23 persen. Imbas dari keputusan ini tak hanya dirasakan oleh pelaku industri rokok, para penghisap rokok juga bakal terkena dampak tersebut.

Kenaikan tarif cukai rokok yang sebesar 23 persen, harga jual eceran rokok juga bakal melonjak rata-rata sekitar 35 persen. Bahkan, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa keputusan yang diambil juga dimaksudkan untuk menekan konsumsi rokok di masyarakat. Dengan kenaikan harga yang membuat rokok menjadi mahal, diharapkan jumlah ‘ahli hisap’ bisa berkurang. Lantas, seperti apa manfaat lain dari kenaikan tersebut.

Melindungi anak-anak dari kecanduan rokok di usia muda

Ilustrasi anak merokok [sumber gambar]
Menurut data Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia tahun 2014, satu dari lima anak dan remaja Indonesia dikategorikan sebagai perokok. Alhasil, hal ini menjadikan Tanah Air sebagai negara dengan proporsi perokok muda terbesar di kawasan Asia Pasifik. Dengan wacana kenaikan tarif cukai tembakau yang berimbas pada harga rokok, diharapkan bisa menekan jumlah perokok dari kalangan muda seperti anak-anak.

Menyelamatkan nyawa dari penyakit mematikan akibat kanker

Ilustrasi kanker paru-paru [sumber gambar]
Tidak dipungkiri, kebiasaan merokok juga membawa dampak yang buruk pada tubuh. Sejumlah penyakit mematikan seperti kanker, impotensi dan lainnya, adalah beberapa akibat buruk dari hal tersebut. Bahkan sudah dijelaskan secara gamblang pada bungkus rokok yang tertulis, ‘merokok bisa membunuhmu’, yang bisa dibaca dengan jelas. Dengan adanya kenaikan harga rokok, tentu membuat para ahli hisap bakal berpikir dua kali untuk membeli.

Mengurangi polusi asap rokok di ruang terbuka

Ilustrasi asap rokok [sumber gambar]
Terkadang, ruang publik serasa tidak adil bagi perokok pasif. Ya, kebanyakan dari mereka yang merupakan perokok aktif kerap dominan dan menjadi penguasa di ruang terbuka. Jika harga dinaikkan, secara otomatis beberapa persen dari jumlah perokok yang ada akan berkurang dengan sendirinya. Dengan begitu, paparan polusi asap rokok di ruang terbuka sedikit bisa dikurangi meski tak sepenuhnya.

Mendorong perokok menggunakan uangnya untuk hal yang lebih bermanfaat

Kisah Dedy Sibarani yang belikan perhiasa istri berkat berhenti merokok [sumber gambar]
Mungkin, kita bisa berkaca pada kisah seorang pria bernama Dedy Sibarani. Kisahnya yang pernah diulas oleh Boombastis, menceritakan betapa dirinya bisa membahagiakan sang istri dengan menghentikan kebiasaan merokok. Tak sekedar berhenti, uang yang kerap dihabiskannya untuk membeli rokok ditabung hingga berbuah menjadi perhiasan. Keren nih, bisa jadi motivasi juga lho.

Ikut ambil bagian dalam mendongkrak pendapatan pemerintah

Menkeu Sir Mulyani Indrawati [sumber gambar]
Dilansir dari Tirto, Menkeu Sri Mulyani juga tidak menampik kenaikan tarif cukai rokok itu untuk meningkatkan penerimaan negara. Dengan menetapkan kenaikan cukai rokok yang baru, pemerintah menargetkan penerimaan cukai naik 13 persen menjadi Rp179,2 triliun, dari target tahun ini sebesar Rp158,8 triliun. Untuk mengejar target yang ada, ya menaikkan cukai rokok solusinya.

BACA JUGA: Bisa Buat Beli Motor, di 5 Negara Ini Rokok Dijual dengan Harga yang Ugal-Ugalan

Keputusan pemerintah menaikkan tarif cukai rokok di atas, pasti akan menimbulkan pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat. Disinilah ajang debat kusir antara perokok aktif melawan pengguna pasif akan terjadi. Kalau kamu dukung yang mana nih Sahabat Boombastis?