Jika peperangan sekarang sudah memakai senjata yang semakin canggih, seperti tank, bom, serta alat tembak, maka perang zaman kuno juga seperti itu. Bedanya, senjata yang digunakan masih sangat tradisional dan tak memakai teknologi mutakhir.

Jauh sebelum manusia menguasai peradaban, mereka juga masih percaya dengan penguasa yang disebut sebagai dewa. Nama-nama tersebut juga kadang disangkutpautkan dengan berbagai hal keramat yang dijaga hingga kini, salah satunya adalah Vajra, senjata perang yang dipercaya bisa memancarkan petir.

Jenis Vajra [Sumber gambar]
Kata Vajra sendiri diadopsi dari Bahasa Sanskerta yang berarti sesuatu yang keras atau kuat, seperti sifat yang ada pada berlian. Hal tersebut melambangkan sebuah kekuatan yang tak tergiyahkan, tak bisa ditembus, serta sulit dihancurkan.

Dilansir dari grid.id, pada Ancient Origins, teks kuno menunjukkan bahwa vajra tidak selalu berarti simbol kedamaian, namun sebaliknya, ia bisa menjadi penghancur. Vajra pertama kali muncul di India dan disebut sebagai senjata perang yang digunakan para dewa.

Bagi orang India tentu hal ini bukanlah semata-mata legenda, tetapi memang pernah terjadi. Ketika para iblis mencoba mencuri cahaya dari bumi, petaka serius tentu akan terjadi kepada seluruh penghuninya. Mereka mencoba meminta bantuan kepada Wishnu sang dewa. Wishnu memberi mereka senjata yang kemudian dinamakan vajra, konon senjata ini bisa memancarkan petir dari kedua ujungnya.

Disebut sebagai senjata para dewa [Sumber gambar]
Secara penampilan fisik, vajra sendiri digambarkan sebagai poros logam dengan tiga, lima atau sembilan cabang yang berasal dari bunga teratai di kedua ujungnya. Dalam legenda Buddha, vajra yang pernah dijadikan sebagai penghancur kemudian menjadi simbol kedamaian. simbol guntur atau halilintar sebagai alat penghancur bisa ditemukan di dalam berbagai wacana peradaban kuno.

Mengenai keberadaan senjata perang ini, ada atau tidaknya juga tidak diketahui secara pasti. Yang jelas, India adalah negara yang lekat dengan mitologi dan kepercayaan akan keberadaan dewa. Artikel ini juga ditulis sebagai pengetahuan, mau percaya atau tidaknya terserah kepada para Sahabat Boombastis.