Bulan Mei akan selalu diingat sebagai bulan kelam bagi bangsa ini. Sebelum memasuki era reformasi, negara ini mengalami peristiwa berdarah yang meninggalkan luka dalam bagi banyak orang. Peristiwa itu akan selalu dikenang sebagai salah satu titik terendah bangsa ini.

Hingga saat ini, masih banyak simpang siur berita tentang apa dan bagaimana kerusuhan tersebut terpecah. Indonesia kala itu mengalami masa-masa darurat. Untuk mengenang peristiwa menyayat hati, berikut Boombastis menyajikan beberapa fakta tentang kerusuhan Mei 98.

1. Diawali dengan Krisis Finansial Asia

Krisis Asia dimulai di Thailand pada Juli 1997. Kala itu mata uang, bursa saham dan harga aset lainnya di Asia anjlok. Peristiwa ini kemudian dikenal rakyat Indonesia sebagai “krismon” alias krisis moneter. Harga-harga kebutuhan pokok melambung. PHK terjadi dimana-mana.

Diawali Krisis Finansial Asia
Diawali Krisis Finansial Asia [imagesource]
Negara-negara yang terdampak krisis ini adlaah Hong Kong, Indonesia, Korea Selatan, Malaysia dan Filipina. Namun dampak paling parah dirasakan di Hongkong, Filipina dan Inodnesia. Jepang juga sedikit terguncang, namun tidak menimbulkan kesulitan ekonomi jangka panjang.

2. Tewasnya Mahasiswa Trisakti Menuai Amarah

Mahasiswa merasa tidak bisa lagi diam. Mereka berpikir, jika tidak ada lagi yang bisa menyuarakan rakyat, maka mereka harus bergerak. Seperti aksi mahasiswa yang turun ke jalan pada tahun 1965, maka mahasiswa kembali turun ke jalan dengan reformasi sebagai tuntutan utamanya.

Tewasnya Mahasiswa Trisakti Menuai Amarah
Tewasnya Mahasiswa Trisakti Menuai Amarah [imagesource]
Salah satu aksi damai mahasiswa dipusatkan di Semanggi. Namun, aksi damai ini dibalas “brutal” oleh pihak militer. Empat orang mahasiswa Trisakti tewas tertembus timah panas. Hal ini memancing kemarahan warga dan mahasiswa di daerah lainnya di seluruh Indonesia. Kerusuhan tidak dapat dihindarkan.

3. Penjarahan dan Pembunuhan Marak Terjadi

Kepanikan warga dan semakin sulitnya pemenuhan kebutuhan hidup membuat suasana makin kacau. Terjadi aksi penjarahan besar-besaran di kota-kota besar di Indonesia. Kerusakan terparah terjadi di Jakarta dan Medan. Pusat-pusat perbelanjaan dan toko-toko elektronik dibakar dan dijarah massa.

Pembunuhan dan Penjarahan Marak Terjadi
Pembunuhan dan Penjarahan Marak Terjadi [imagesource]
Tidak cukup sampai di situ, para pemilik toko juga menjadi sasaran kekerasan warga. Mereka, terlebih orang-orang dari etnis Tionghoa mengalami penyiksaan dan pembunuhan. Kala itu, sepanjang jalan Gajah Mada hingga Kota Tua, Jakarta Pusat, dikabarkan berbau daging gosong karena mayat-mayat yang dibakar.

4. Kasus Pemerkosaan dan Penganiayaan yang Tidak Kunjung Diadili

Warga keturunan Tionghoa memang menjadi sasaran utama pada serangan yang tidak berprikemanusiaan tersebut. Para wanita diculik dari jalan-jalan dan diperkosa beramai-ramai. Tidak sedikit dari mereka yang dibakar atau diarak keliling jalan dalam keadaan tanpa busana. Mayat mereka ditulisi dengan kata-kata penuh kebencian.

Perkosaan dan Penganiayaan yang Tidak Kunjung Diadili
Perkosaan dan Penganiayaan yang Tidak Kunjung Diadili [imagesource]
Banyak sekali warga etnis Tionghoa yang memutuskan untuk pergi ke luar negeri kala itu. Hingga ini, masih belum ada pengadilan atas pelaku-pelaku penganiyaan dan pemerkosaan sadis tersebut. Tim Pencari Fakta mengatakan sulit untuk mengindentifikasi pelaku dan adanya usaha “pembiaran” dari pihak berwajib yang terkesan enggan untuk meredakan kericuhan pada saat itu.

5. Kemunduran Presiden Soeharto

Puncaknya, penguasa Indonesia kala itu mengundurkan diri. Setelah 32 tahun memimpin Indonesia, Soeharto akhirnya mengumumkan pengunduran dirinya. Hal ini disambut sorak-sorai para mahasiswa yang telah berhari-hari menduduki gedung MPR. Sebelum pengunduran dirinya, Indonesia telah berada di krisis moneter sepanjang 6 hingga 12 bulan.

Pengunduran Diri Soeharto
Pengunduran Diri Soeharto [imagesource]
21 Mei 1998, sang diktator akhirnya menghentikan masa jabatannya setelah serangkaian paksaan dari berbagai pihak. Namun hal ini bukanlah penyelesaian dari semua. Bangsa kita masih memiliki banyak sekali misteri berdarah yang hingga kini tidak tersentuh pengadilan.

Kita berdoa dan berusaha semoga peristiwa pahit ini tidak akan pernah menimpa bangsa kita lagi. Semoga hati kita dilembutkan agar sesulit apapun keadaan kita, meski kita berada dalam pendapat dan pandangan yang berbeda, semoga kita tidak terpancing untuk melakukan kekerasan. Sudah cukup bangsa ini melakukan saling bantai dan bunuh di antara sesama anak bangsa.

Sebagai generasi yang hidup di jaman ini kita juga dituntut untuk “melek” sejarah. Agar peristiwa hitam itu tidak terulang lagi di generasi kita. Apapun yang kita hadapi, betapa berbedanya pun kita, semoga kita tetap bisa menjaga persatuan. (HLH)